Sebuah rasa, ketika langkahku menjamah jiwa-jiwa beku. Yang kehilangan harapan, ditinggalkan cinta dan terenggut dari masa depan. Sebuah kesaksian, atas rentannya negeri di simpang bencana. Yang terampas kehormatannya, ternoda oleh kerakusan dan ketidakpedulian. Sebuah asa, terbersit dari sisa-sisa kekuatan. Untuk tetap menegakkan kepala, memohon doa dan harapan. Agar jangan lagi warisan alam dirusak, jangan lagi yang kecil makin terinjak, dan jangan ada lagi nyawa tak bersalah terhempas…
Text: Lisa Suroso Photo: Eric Satyadi
Duhai sahabat kami manusia,
beribu tahun kita bersama,
tumbuh berbagi sekian lama.
Maaf bila sontak musibah datang,
karena hutan-hutan kami ditebang.
Kayu-kayu kami ditebas, hasil bumi kami dirampas.
Langit kami dilubangi, samudera kami dicemari.
Tak bisa lagi air dicadang, untuk kami bagi di musim panas.
Tak ada lagi pohon merindang, untuk kami berteduh di musim hujan.
Duhai sahabat kami manusia,
Seharusnyalah kita tetap bersahabat,
Saling menjaga, saling merawat,
agar jangan lagi duka menyengat.
(Talee-Sinjai-Sulawesi Selatan, 26 Juni 2006)
Senyum
82 tahun sudah aku berjalan dimuka bumi,
tawa dan tangis datang silih berganti.
82 tahun sudah aku mengerti,
tak selamanya hidup indah dan pasti.
Dari semua satu yang aku tahu,
tak ada yang dapat merampas senyumku,
tak ada yang dapat menggoyah tawaku,
untuk tetap berharap pada Gusti Allahku.
(Wedi-Klaten-Jogjakarta, 31 Mei 2006)
Tak pernah kutahu apa itu lindu,
apa itu mengungsi,
apa itu mati..
Yang kutahu rumahku goyang.. pecah.. ambruk..
Yang kutahu temanku menjerit.. sakit.. pergi..
Yang kutahu mereka takkan pernah ada lagi..
(Muko-Muko-Bengkulu, 14 September 2007)
Yakin
Orang bilang, aku harus pergi dari sini.
Orang bilang, terkubur sudah desa kami.
Orang bilang takkan pernah dibuka kembali.
Tapi disini,
disini ada istri dan anakku,
yang hilang dibawa air,
kala banjir menyapu.
Orang bilang, kami takkan pernah bertemu.
Namun aku kembali,
karena kuyakin mereka menungguku.
Disini.
(Lembang-Sinjai-Sulawesi Selatan, 26 Juni 2006)
Pernah kudengar sebuah pepatah…
“Badai pasti akan berlalu”
Namun tak kuasa hati menahan gundah,
melihat derita dan wajah yang kuyu..
(Kasihan-Bantul, 6 Juni 2006)
Rasa Yang Tersisa
Yang terasa,
air datang mengamuk.
Ganas menderu, harap terenggut,
manusia layu.
Yang tersisa
Semilir angin bau.
Tumpukan sampah, lautan kayu,
tangisan pilu.
(Banda Aceh, 31 Desember 2004)
Genap seminggu sudah,
longsor hancurkan desa kami.
Genap seminggu sudah,
kami bertahan kuatkan hati.
Genap seminggu sudah,
Kami isi hari menanti.
Tanpa alas, tanpa atap.
Tanpa welas, tanpa harap..
(Manggarai-NTT, 10 Maret 2007)
Sekolah kami tidak istimewa.
Tidak dingin, tidak besar, apalagi bertingkat dua.
Tapi kami cinta dan bangga.
Karena ada klinik kecil dan tempat berdoa.
Kini semua hancur dan lebur.
Tak ada lagi belajar dan bermain seru.
‘Bu guru bilang kami harus menunggu.
Sampai ada lagi tempat yang baru.
(Pangandaran-Jawa Barat, 20 Juli 2006)
Antri
Kini tiap hari,
tak ada lagi antri main bola,
tak ada lagi antri lihat tari kera,
tak ada lagi antri lomba sepeda.
Kini tiap hari,
aku antri ambil jatah nasi,
aku antri dipanggil mantri,
aku antri ke kamar mandi…
(Kapuk Muara-Jakarta, 4 Februari 2007)







Hello Lisa,
Perjalanan yang memikat. Bermakna. Dan, membuka cakrawala.
Pada mereka yang tak bisa bersuara…..
Selamat berkarya.
Tabik,
Muhlis Suhaeri
http://www.muhlissuhaeri.blogspot.com
hiii……….mbk liza!!!
Halo Pak Muhlis, ini Maksi Deornay. Puisi di atas membuat mataku terpikat, tidak seperti puisiku. Semoga Pak Muhlis dapat terus berkarya. Berikan sesuatu yang berarti bagi dunia ini, jangan pernah berhenti untuk berkarya. Amin…