Jakarta, Jakarta, Riwayatmu Kini…

Standard

banjir.jpg

Air,
kenapa engkau berubah?
Dahulu kau lambang keadilan
Tanda kepedulian
Simbol keberpihakan
Bagi yang rendah dan ada di bawah…

Air,
dahulu kau patuh pada gravitasi
Mengalir menyusuri lembah
Menuju muara
Tak peduli harus jalan berliku
Membelai kotoran dan sampah berbau…

Air,
Dahulu kau tak betah berada di atas
Kau selalu gelisah mencari jalan turun ke bawah
Bahkan tak jarang kau langsung loncat begitu saja
Byurrr,
Dan tubuhmu keras memuncrat menghantam bebatuan

Ah ah air,
Rasanya kita belum berpisah lama
Tapi kurasakan sosokmu begitu berbeda
Sampai tak kukenali lagi sari wajahmu

Kau memang masih jadi simbol keberpihakan
Tapi bagi mereka yang mampu bayar
Kini kau bahkan berani melawan gravitasi
Berbelok sesuai pesanan
Naik merambat menuju tinggi
Dan enggan untuk turun kembali
Mencoba bertahan selama-lamanya
Seperti para petinggi yang duduk di kursi kuasa
Nyaman dan tertidur
Dibelai nyamannya harta dan kekuasaan.
(Budi S. Tanuwibowo)

Banjir menenggelamkan Jakarta lebih dari 12 hari. Awal bulan Februari 2007 -seperti yang sudah diprediksi sebelumnya- hujan deras mengguyur Jakarta dan Bogor, merendam 70% kawasan ibukota dan mengubah wajah Jakarta menjadi kubangan raksasa. 386.678 jiwa mengungsi, 80 orang meninggal dunia, listrik padam, PAM tidak berfungsi, telekomunikasi terganggu, transportasi lumpuh, kantor-kantor tutup, sekolah diliburkan, sebagian malah beralih fungsi jadi posko pengungsian, ribuan industri kecil gulung tikar, penyakit merebak dimana-mana, kerugian ditaksir mencapai 4,1 triliun. Alhasil banjir ini diberi predikat banjir terburuk semenjak zaman kolonial Belanda.

Kisah kubangan raksasa ini dimulai sejak 29 Januari 2007. Beberapa kawasan pinggir sungai seperti Cilandak dan Kampung Melayu sudah mulai terendam. Tapi masyarakat belum panik, demikian pula Dr. Lie A Dharmawan. Dokter spesialis bedah yang tinggal bersama ibu berusia 91 tahun ini sama sekali tidak berpikir banjir akan merendam rumahnya di bilangan Green Garden, Jakarta Barat.

Ternyata dalam kurun tiga hari, air sudah memenuhi lantai dasar rumahnya. Inilah kali pertama rumahnya kemasukan air sampai satu lantai. Listrik dan PAM padam. Tanpa makanan cukup di rumah, ibunya yang terserang hipotermia harus langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi ternyata untuk keluar dari rumah saja bukan perkara mudah. dr. Fanollo, anak buahnya yang menyewa perahu karet seharga Rp. 300.000,- memerlukan satu jam lebih untuk masuk ke perumahan elit itu. “Arusnya kuat sekali, berenang beberapa langkah, langsung mundur terbawa arus,” katanya.

Kisah seperti ini terdengar hampir di seluruh penjuru Jakarta, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Di Tangerang, Budi Prasetya, pemilik tambak bandeng harus menderita ratusan juta rupiah karena bandengnya kabur dan kolamnya berubah jadi kolam ikan multietnis. Di Bekasi, toko kopi milik Ng Hoat Boen yang biasanya hangat dan harum jadi lembab bau lumpur dan sampah busuk.

Berbagai pihak kini menelaah sebab-akibatnya. Mengapa kita gagal belajar dari pengalaman masa lalu -ambil saja contoh terdekat- banjir di tahun 2002. Padahal saat itu, sejumlah program dengan budget 17 triliun telah meluncur dari meja Departemen Pemukiman dan Prasarana (kini Pekerjaan Umum). Misalnya saja rencana revitalisasi tata ruang kawasan Jabodetabek, pengendalian hulu yang meliputi pembangunan terowongan Ciliwung-Cisadane, pembangunan waduk Ciawi dan Genteng, serta normalisasi sungai Cisadane. Wilayah hulu pun tak ketinggalan. Normalisasi Sungai Ciliwung, Banjir Kanal Barat, Banjir Kanal Timur serta normalisasi sungai besar dan kecil termasuk dalam rencana program. Ironisnya, banjir 2007 justru menelan lebih banyak kerugian.

Beberapa pakar menyatakan penyebabnya. Tak cukup antisipasi dari perbaikan sungai dan bendungan saja. Setidaknya ada 3 penyebab utama. Sungai yang meluap, drainase daerah serapan yang tidak berfungsi dan daratan yang lebih rendah dari lautan. Hasil analisis citra satelit Landsat menunjukkan peningkatan 11% lahan pembangunan di daerah hulu sungai Cisadane dan Ciliwung. Wilayah Cibinong dan Bojonggede pun berubah alih menjadi pemukiman.

Masalah banjir Jakarta memang kompleks. Pemda Jakarta menyatakan angkat tangan bila harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Alasannya, Jakarta adalah daerah hilir, jadi pemerintah Jawa Barat dan Banten yang ada di hulu juga harus ikut bertanggungjawab. “Jawa Barat tidak usah sakit gigi bila disebut hulu penyebab banjir,” Sutiyoso, gubernur DKI membantah pada sebuah media cetak. “Sungai (air) pasti mengalir dari atas ke bawah!” Namun gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan menyatakan bahwa tata guna lahan Jakarta tidak memenuhi kaidah lingkungan. “Akibat banyaknya bangunan, permukaan tanah Jakarta turun menjadi lebih rendah dari laut,” katanya.

Di tengah permainan salah-salahan aparat toh kita bisa dengan mudah melihat fakta-fakta di lapangan, bahwa daerah hulu dan hilir sama-sama menjadi dalang utama penyebab banjir. Data dari satelit 2004 menunjukkan 40 persen wilayah Puncak sudah kedap air. Ribuan villa di Cibubur, Cileungsi dan Cisarua sudah memblokir jalan resapan air ke dalam tanah. Daerah aliran sungai (DAS), yaitu kawasan pinggiran sungai yang menampung air dan mengalirkannya ke sungai pun dipenuhi bangunan. Contohnya hulu Ciliwung yang di tahun 1996 seluas 6650 km2 kini tinggal 5400 km2. Akibatnya ketika curah hujan tinggi, tanah tidak lagi menyerap air, sungaipun mengirim paket-paket banjir ke Jakarta.

Jakarta pun ternyata melakukan kesalahan yang sama. Pusat penelitian Limnologi LIPI melaporkan bahwa daerah tampungan air berupa rawa, situ dan danau yang di tahun 1990 masih ada 218 buah kini hanya tinggal seperempatnya. Selebihnya beralih fungsi. Dipadatkan jadi perumahan, rusak karena terkikis erosi, bahkan hilang sama sekali. Pembangunan yang membabi-buta tanpa memperhatikan kaidah lingkungan ini juga menyebabkan beberapa wilayah Jakarta Pusat, Utara dan Barat mengalami penurunan level tanah, menjadi lebih rendah dari permukaan laut. Misalnya saja Cengkareng Jakarta Barat dan Kelapa Gading, turun 0,5-1,5 meter lebih rendah dari permukaan laut. Sungai-sungai di Jakarta juga makin sempit. Kalau dulu lebar Ciliwung 65 m kini hanya 15-20 meter. Belum lagi masalah sampah, dari total 7000 ton sampah yang dihasilkan Jakarta per hari, 30 persennya masuk ke sungai-sungai, membuat kedalaman Ciliwung yang dulu mencapai 5 meter kini tinggal 1-2 meter saja.

antri.jpgKrisis Banjir, Krisis Sosial Krisis Mental

Masalah banjir sesungguhnya bermula dari masalah sosial. Hal ini dikemukakan Bianpoen pada sebuah media cetak nasional. Pria sepuh, mantan staf ahli tata kota DKI 1974 ini menyatakan bahwa masalah utama terletak pada pembangunan yang terlalu berpusat di Jakarta, sementara daerah lainnya tertinggal. Akibatnya urbanisasi melejit dan rakyat rela kerja apa saja asal di Jakarta. Pada saatnya daya dukung Jakarta tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan penduduknya. Jadilah buah dari masalah ini, kelebihan penduduk, rumah-rumah kumuh, kriminalitas, macet, tata kota serabutan, lingkungan rusak, sampah dimana-mana, rebutan daerah antara pemda dan pedagang kaki lima sampai akhirnya memicu keresahan sosial.

Hal lain yang menjadi perhatian Bianpoen adalah pembangunan fisik Jakarta yang economic oriented, tanpa memikirkan aspek lingkungan. Kawasan yang semula rawa tempat menampung air cadangan kemarau seperti Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Cengkareng dan Ancol yang dalam rencana awal induk tata kota Jakarta dibiarkan begitu saja kini berubah menjadi lautan beton tempat pemukiman mewah berdiri. Akibatnya air tidak bisa mengalir normal dan luber ke jalan-jalan. Hal ini pada akhirnya membawa masalah lain, dimana ketika kemarau melanda, Jakarta kekurangan air dan mengalami kekeringan. “Ini bukti bahwa kebijakan pembangunan ditentukan oleh pasar, bukan peraturan,” kata Bambang Eryudhawan, staf penasihat arsitektur DKI. Mental aparatur negara yang korup dan pemilik modal yang serakah telah membuat tata kota Jakarta berubah. Alih-alih menjadi kota taman jalur hijau menjadi kota taman beton dan pencakar langit. “Masterplan awal Jakarta sudah berubah. Awalnya pada tata kota 1965-1985 ada jalur hijau berbentuk tapal kuda dari Angke sampai Kelapa Gading. Begitu pula dari daerah selatan lalu ke barat. Tapi rancangan ini berubah pada rencana tata kota 1985-2005.”

Agaknya tak terlalu pesimis bila kita khawatir, siklus banjir yang katanya lima tahunan akan terulang lagi. Bahkan jangan-jangan menjadi makin cepat, secepat pembangunan gedung pencakar langit dan mall-mall mewah di Jakarta. Ah, ah Jakarta… kenapa engkau berubah?**

Memupuk Solidaritas Lewat Bencana

Ada hal unik terjadi di Jakarta. Ibarat hukum yin yang, dimana ada bencana datang, ada pula hal baik menjelang. Ratusan posko masyarakat berdiri swadaya membantu para pengungsi banjir. Masyarakat bergerak. Organisasi, lembaga dan perusahaan berlomba-lomba memberi bantuan. Entah yang tulus ikhlas atau bermuatan politik tertentu, yang jelas, pengungsi yang menderita diuntungkan dari bantuan mereka.

Penduduk Jakarta yang katanya tidak lagi peduli dengan sesamanya, di beberapa sudut kota bahu-membahu mengulurkan tangan. Ada yang mengumpulkan sumbangan, ada yang masak, ada yang jaga malam, bahkan ada juga yang rela membantu evakuasi anjing tetangganya. Seperti yang terjadi di RT 10/11/12 Cilandak Barat, yang spontan membuat dapur umum untuk pengungsi yang menginap di masjid setempat. “Awalnya saya kasihan, sudah kedinginan nggak ada makanan.. ya sudah saya lalu masak mie goreng seadanya, eh, lama-lama banyak juga yang memberi bahan mentah, akhirnya sekalian saja jadi dapur umum” ujar Endang, ibu rumah tangga yang rumahnya selamat dari banjir.

Ada juga para mahasiswi perguruan tinggi elit yang baru pertama kali nyemplung air kotor gara-gara mengantar logistik. Dalam kehidupan normal boro-boro mau berenang di air yang kotor, melintasi jalanan becek saja tidak terlintas dalam pikiran mereka. Kali ini karena membantu organisasi yang mengurusi pengungsi, terpaksalah baju mereka basah penuh noda lumpur. “Wah ternyata seru juga ya. Ini pertama kalinya saya berani masuk ke air kotor,” kata Amira yang mengaku mau karena iba melihat pengungsi tidur di pinggir-pinggir jalan. Sementara Clara, temannya langsung bersedia ikut membantu bila tenaganya dibutuhkan di dapur umum. “Saya hobi masak, tapi terus terang belum pernah masak sebanyak ini. Di bawah tenda pula,” senyumnya tersembul dibalik wajah putih mulusnya yang berpeluh.

Di satu sisi memang sangat mengenaskan melihat kondisi para korban banjir, di sisi lain menjadi suatu pemandangan yang membanggakan bagi wajah Jakarta, dimana tim medis dan relawan dari beberapa organisasi bahkan masyarakat yang tanpa pengalaman, bersama-sama berusaha meringankan beban yang dirasakan para korban banjir tanpa memandang agama, suku, status sosial ataupun dari golongan mana mereka berasal. Sungguh pemandangan yang langka di tengah rasa curiga karena SARA kerap membekap rasa solidaritas rakyat Indonesia.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah harus dalam keadaan yang mengenaskan atau tertimpa bencana, baru bangsa ini, rakyat Indonesia saling bergandengan tangan, saling membantu sesama?

banjir-inti1.jpgDari Ojek Sepeda sampai Perahu Karet

Masih dalam kondisi banjir dimana-mana, tepatnya 4 Februari 2007, PERSATUAN MASYARAKAT INDONESIA TIONGHOA PEDULI BENCANA (PERMATA) mengutus TIM MEDIS PERHIMPUNAN INDONESIA TIONGHOA (INTI) untuk membantu penanganan banjir Jakarta. Selain memberikan pengobatan gratis di beberapa wilayah, dapur umum dan posko logistik pun didirikan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi banjir.

Daerah-daerah yang mendapat layanan kesehatan gratis adalah SDN 01 RW 04 Kapuk Muara Jakarta Utara, Kelurahan Papanggo Warakas Tanjung Priok, Masjid Attahiriyah Kampung Melayu-Jakarta Timur, Kelurahan Mauk Mohammad Toha Tangerang, Gebang Raya Periuk Tangerang, Vihara Tri Maha Dharma tangerang dan Mega Glodok Kemayoran Sunter. “Seminggu penuh tim kami kerja dari pagi sampai subuh tanpa henti, pagi sampai siang kami mengobati pengungsi. Malam sampai subuh kami membungkus obat-obat untuk pengobatan esok harinya” kata Dr. Lie Dharmawan ketua tim medis INTI. “Padahal saya dan beberapa dokter pun korban banjir, rumah kami terendam. Tapi kami tinggal saja, kasihan disini mereka lebih membutuhkan kami,” katanya sambil tersenyum.

Sementara itu logistik dibagikan langsung ke posko pengungsi di daerah Kapuk Muara, Jelambar, Masjid Attahiriyah-Kampung Melayu, PMI Kebon Baru, Papanggo-Tanjung Priok, Rawabadak Selatan, Sangiang Mauk-Tangerang, Petang-Cengkareng, Tambora, Latumenten, Grogol Petamburan, Cilandak Barat, Jatiasih-Pondok Gede, Medan Satria, Pal Jaya, Sumber Jaya-Tambun, Margahayu, Jatiuwung, Cimone, Cibodas, Cipondoh dan Ciledug.

Logistik yang dibagikan berupa kompor, dandang, lilin, pembalut, popok, pakaian layak pakai, beras, mie, air mineral, susu, biskuit dan obat-obatan seperti minyak kayu putih, salep kulit, vitamin, anti nyamuk dan minyak telon. Logistik ini dibungkus plastik agar kedap air lalu disebarluaskan dengan berbagai transportasi yang ada, mulai dari ojek sepeda, ojek motor, gerobak sampah, rakit bambu sampai perahu karet. “Pokoknya bantuan sampai ke tangan pengungsi yang membutuhkan, bagaimanapun caranya,” jelas Lisa Suroso, koordinator lapangan relawan PERMATA dan Tim Medis INTI.

Kerjasama PERMATA dan Tim Medis INTI juga menggandeng beberapa LSM dan organisasi seperti Flora Fauna International, Jakarta Green Monster, Komunitas Pemuda Kali Angke, Suara Ibu Peduli, Jaringan Tionghoa Muda, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Tarumanagara, SMU Marsudirini, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Palang Merah Indonesia (PMI), Pemuda Buddhis Vihara Tri Maha Dharma, Koalisi Perempuan Indonesia dan ibu-ibu dari Perempuan INTI (PINTI). Anggota PINTI menyiapkan dapur umum yang menghasilkan ratusan nasi bungkus baik untuk pengungsi dan untuk tim sendiri.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Photo:Eric Satyadi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s