Mengamati Bergesernya Identitas Etnis Tionghoa di Indonesia

Standard


barongsaikecil1.jpg

Banyak yang berubah semenjak larangan berbudaya Tionghoa dicabut pemerintah RI. Bagaikan naga bangun dari tidurnya, budaya yang 32 tahun hilang bangkit dengan cepat. Menandakan bahwa cultural genocide yang dilakukan pemerintah Orde Baru tidak dapat menghilangkan akar budaya yang melekat pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Bagaimana identitas baru ini melekat dalam kehidupan mereka?

Gillian tertawa dan tepuk tangan, melihat barongsai besar berwarna merah meliuk-liuk di depannya. Gadis kecil berusia sembilan tahun itu berusaha menyentuh surai emas yang menjuntai, dengan lincah ia memasukkan amplop angpao ke mulut barongsai. Ini adalah pertunjukkan barongsai yang kesekian kali ia tonton. Setiap Imlek, Gillian akan pakai ceongsam merah, rambut dicepol dua, lalu pergi ke rumah nenek untuk terima angpao. “Xie xie ni,” katanya tiap kali ia terima amplop merah, mempraktekkan apa yang guru mandarinnya ajarkan di sekolah. Gillian mungkin terlalu kecil untuk tahu, bahwa apa yang ia alami, tak pernah dialami orangtuanya semasa kecil.

Kini melihat pertunjukan barongsai bukan hal aneh lagi. Tak mesti menunggu Imlek, kelompok-kelompok barongsai laku di-booking. Berbahasa mandarin kini tidak tabu lagi. Justru bangga. Bisa fasih bicara bahasa yang paling diminati di dunia setelah bahasa Inggris.

Banyak yang berubah semenjak larangan berbudaya Tionghoa dicabut pemerintah RI. Perayaan Imlek kini sama meriahnya dengan Idul Fitri dan Natal. Mal di kota-kota besar memerah, penuh dengan ornamen-ornamen Tionghoa. Lampion, kain merah, aksara Tiongkok tertampang dengan jelas. Acara-acara televisi meriah dengan kuis-kuis dan pertunjukan berbau Tionghoa. Mulai dari ‘kuis angpao’, tips masak makanan khas Tiongkok, sampai kajian serius sejarah Tionghoa. Kursus bahasa Mandarin laku keras. Surat kabar berbahasa Mandarin menjamur. Sungguh menarik, mencermati bahwa walaupun selama 32 tahun penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa dilarang, ternyata masih banyak angkatan senior yang fasih melafalkannya.

Kuatnya Pengaruh Budaya Tionghoa

Bagaikan naga bangun dari tidurnya, budaya yang 32 tahun hilang bangkit dengan cepat. Menandakan bahwa cultural genocide yang dilakukan pemerintah Orde Baru tidak dapat menghilangkan akar budaya yang melekat pada masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Mely G. Tan, sosiolog senior yang ahli dalam sinologi, membenarkan bahwa etnis Tionghoa dimanapun mereka berada sangat lekat dengan kebudayaan Tionghoa. Ini tak dapat dipisahkan dari karakter mereka sebagai bangsa perantau yang mempunyai tradisi menghormati negeri leluhur. Tak diragukan lagi, Tiongkok adalah sebuah bangsa dengan kebudayaan yang sangat kuat. Budaya ini dipelihara turun-temurun oleh rakyatnya selama berabad-abad. Walaupun keturunan rakyat negeri tirai bambu ini terserak ke seluruh penjuru dunia dan telah menjadi warga negara di tempat mereka tinggal, budaya Tionghoa tetap lekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan mudah dapat ditemui Tiongkoktown (pecinan) yang khas di seluruh Asia Tenggara, Amerika, Eropa, bahkan Afrika Selatan.

Di Indonesia sendiri, budaya Tiongkok sudah mempengaruhi kehidupan masyarakat Nusantara jauh sebelum Republik Indonesia ada. Interaksi yang berlangsung selama ratusan tahun, tak pelak menyebabkan budaya Tionghoa meresap erat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tengok saja pakaian Madura, batik-batik utara Jawa, teknologi setrika, Sisingaan di Jawa Barat, pis bolong (mata uang Tiongkok kuno yang bolong di tengah) dalam ritual sembayang agama Hindu di Bali, teknologi membuat berbagai makanan seperti mie, bakso dan tahu, cara membajak sawah dengan sapi, petasan, bedug, dan lain sebagainya. Melihat pengaruh budaya Tionghoa dan kontribusinya dalam budaya lokal nusantara, sungguh etnis Tionghoa tidak bisa disebut sebagai bangsa ‘asing’ di negeri ini.

Identitas Budaya vs Identitas Politik

Pusaran kepentingan politiklah yang lantas kerap melupakan hal ini. Melupakan sejarah asimilasi yang terserap berabad-abad lamanya. Karena alasan politik pula, etnis Tionghoa dibedakan dengan etnis lainnya di Indonesia. Dibuat perbedaan, diciptakan pemisahaan. Walaupun sebagian besar masyarakat Indonesia mempelajari politik tipuan ‘devide et impera‘ Belanda, namun tetap saja sejarah itu berpengaruh sampai saat ini. Perang, bentrokan, kerusuhan berbau SARA mudah sekali merebak di Indonesia. Sulit untuk mengakui perbedaan itu sebagai suatu kekuatan.

Kecurigaan juga muncul saat budaya Tionghoa dengan bebas dipraktekkan lagi sekarang. Bahkan tak sedikit kalangan etnis Tionghoa sendiri khawatir bahwa kebebasan berbudaya ini akan kembali menciptakan ekslusivisme yang mengundang rasa tidak simpatik dari kelompok lain. Yang lain mengkhawatirkan pergeseran identitas etnis Tionghoa. Apakah identitas ini akan lebih ke’indonesiaan’nya atau ke’tiongkokan’nya?

Dalam hal ini Mely menegaskan bahwa kecenderungan berbudaya tidak identik dengan kecenderungan politik. “Kita harus hati-hati memilah identitas budaya dan identitas politik,” katanya. “Belum tentu dekat secara budaya otomatis dekat secara politik, sehingga mempunyai identitas kebudayaan Tionghoa bukan berarti mempunyai identitas politik Tiongkok.”

Hal ini bisa dilihat dari etnis Tionghoa di seluruh Asia Tenggara. Misalnya Tionghoa di Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Mereka memang etnis Tionghoa tapi sudah tidak ingat lagi dengan asal-usulnya. Dengan tegas mereka mengakui bahwa mereka adalah warga negara Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Ikut dalam membangun negaranya, pergi berperang demi negaranya dan berpartisipasi secara politik di negaranya.

Ini yang masih gamang terjadi di Indonesia. Karena pemenggalan budaya dan pembatasan politik selama 32 tahun justru membuat etnis Tionghoa makin dianggap sosok asing. Bukannya terjadi asimilasi secara natural seperti abad-abad lampau, desinoisasi (pelarangan budaya Tionghoa secara menyeluruh) justru membuat etnis Tionghoa ber’kepribadian ganda’, merasa sebagai orang Indonesia tapi tidak dianggap Warga Negara Indonesia. Bukan Warga Negara RRC, tapi disebut ‘Cina’, dan lain sebagainya.

Kini kebebasan berbudaya Tionghoa dan perbaikan sistem hukum dan HAM membawa angin segar pada etnis Tionghoa. Budaya Tionghoa tidak lagi dianggap budaya asing, bahkan diakui sebagai salah satu budaya nasional Indonesia. Agama Khonghucu yang identik dengan Tiongkok diakui sebagai salah satu agama resmi. Tokoh-tokoh etnis Tionghoa mulai berani mencalonkan diri di bursa politik Indonesia. Dalam diri mereka nyata sudah, walaupun berbudaya Tionghoa tapi nasionalisme mereka adalah Indonesia.

Inilah yang ditekankan oleh Mely bahwa masyarakat harus mengerti betul konsep ini. Agar semua lapisan masyarakat mengerti konsep ini memang akan memakan waktu dan melalui proses panjang. Bagaimana masyarakat Indonesia akan bergeser dari identitas kesukuan atau identitas sebagai etnis menjadi identitas sebagai bangsa yang satu, yaitu Indonesia. Cara untuk mempercepat pemahaman ini adalah melalui kesetaraan pendidikan.

Harapan di Kalangan Muda

Sebuah survey di televisi swasta menunjukkan hal yang menarik. Bahwa sekelompok anak muda Tionghoa menyatakan bersedia menjadi pegawai negeri sipil sebanyak 30 %, 15 % bersedia menjadi pegawai negeri swasta sedangkan 45 % tetap ingin berwirausaha. Bila kita menilik lebih jauh, anak-anak muda ini minimum berpendidikan sarjana. Bagi sebagian kalangan muda etnis Tionghoa, menjadi tentara atau polisi bukanlah sebuah momok menakutkan lagi. Ikut serta berpolitik praktis yang untuk orang tua mereka adalah hal haram kini banyak diminati pemuda-pemudi etnis Tionghoa. Bagi mereka untuk menjadi bagian yang diterima secara utuh di Indonesia, etnis Tionghoa harus terjun ke berbagai bidang.

Hal ini semakin menarik bila kita melihat hasil penelitian dari Thung Ju Lan -peneliti sekaligus dosen di Universitas Indonesia- tentang pergeseran identitas pengusaha muda Tionghoa dibandingkan dengan generasi orang tuanya. Kaum muda Tionghoa saat ini cenderung memandang dirinya sebagai bagian dari masyarakat internasional. Bukan menilai seseorang berdasarkan etnis atau perbedaan lainnya. Kesimpulan yang sama juga diperoleh Mely dalam pengamatannya bahwa kaum muda yang berpendidikan dan terbiasa bergaul dengan etnis yang berbeda di luar negeri sudah menjadi global dan berorientasi internasional. Mereka kembali ke Indonesia dan tidak canggung bergaul dengan etnis manapun. Mereka makin dapat menerima perbedaan dan pluralisme, serta cenderung bisa menghormati budaya yang berbeda-beda.

Proses ini menurut Mely makin mengkristal di kalangan anak muda baik dari etnis Tionghoa maupun etnis lainnya. “Masyarakat perlu mendukung proses itu agar proses pembentukan kesadaran baru menyangkut identitas diri baru mereka semakin nyata. Itu penting, karena kalangan muda ini sekarang lebih suka menyebut dirinya orang Indonesia tanpa disertai embel-embel apa pun,” ungkap Mely dalam sebuah seminar internasional tentang “Orang Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya” di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Mely juga mengungkapkan bahwa kita tidak perlu khawatir bahwa rasa nasionalisme kalangan muda akan berkurang di tengah globalisasi. Sebuah contoh menarik yang terjadi di Uni Eropa. Setelah negara-negara Eropa itu menerima berbagai kemudahan secara ekonomis dari bersatunya Eropa, ternyata identitas kebangsaan mereka tidak hilang. Mereka tetap merasa sebagai bangsa dari negaranya masing-masing. Jadi tidak perlu terlalu mengkhawatirkan reaksi anak muda yang lebih mudah menerima dampak globalisasi, karena sisi baik dari masyarakat global adalah diterimanya pluralisme dan multikulturalisme sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa-bangsa.

Proses ini, lanjut Mely adalah sebuah proses yang bisa dicapai hanya dengan pendidikan yang setara. “Pendidikan multikulturalisme harus dimulai sejak dini. Anak-anak harus sudah diajari untuk menerima perbedaan tanpa merasa terancam, misalnya dengan menyekolahkan mereka di sekolah yang multi etnis dan multi agama.”

Kiranya segera nyata, apa yang disebutkan dalam Sumpah Pemuda: Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Tanah Air. Indonesia. Sehingga Gillian-Gillian lain akan bermunculan, bebas mengekspresikan budayanya tanpa rasa janggal, bahwa dirinya tetaplah orang Indonesia.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Photo: Eric Satyadi

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s