Baju Baru untuk Longginus Lawur

Standard

Seminggu sudah bocah usia 6 tahun yang akrab disapa Long itu tidur di tanah yang keras. Hanya berlapis koran dan selimut tipis. Udara 15 derajat celsius membuat tubuh mungilnya menggigil sesekali. Bajunya compang-camping, lusuh dan kotor. Ini baju terakhir yang ia punya. Semenjak banjir menghanyutkan rumahnya pekan lalu, praktis Long tidak punya apa-apa lagi. Baju, buku sekolah, rumah, semua hanyut bersama longsor yang menimpa desanya.

Tapi kemarin, Long bisa tertawa. Tim relawan PERMATA dan INTI datang ke posko tempatnya berteduh. Membawa selimut tebal, tikar, baju baru, buku tulis dan tas. Bahkan mama diberi satu kantong yang isinya macam-macam. Ada pakaian dalam, sandal, sabun, deterjen, pembalut, minyak goreng, gula dan susu. Long jarang minum susu. Susu sangat mahal, satu dus susu bisa buat makan nasi satu minggu. Makanya dia gembira betul. Tawanya lebar. Teman-teman Long juga gembira, mereka berkerumun mencoba baju-baju baru. Sungguh pemandangan yang mengharukan.

Posko pengungsi tempat Long tidur terletak di desa. Di tempat ini longsor telah mengubah desa Long jadi danau. Kawasannya terletak 1500 kaki dari permukaan laut. Gunung-gunung menjulang, berlipat-lipat sejauh mata memandang. Pada Minggu, 10 Maret 2007 itu, kabut tebal menutup pandangan. Resiko longsor masih mengancam setiap saat. Bahkan Tim Relawan mengalami perjalanan yang cukup sulit ketika kabut turun. Dengan jarak pandang hanya satu meter, lokasi terparah dari bencana longsor ini akhirnya dicapai dalam waktu empat jam.

Masyarakat Bae Muring, Poco Ranaka mendirikan rumah sederhana di lereng-lereng bukit. Begitu pula masyarakat Benteng Jawa, Lambaleda. Karena itu ketika hujan turun dengan deras, tanah gundul yang labil di atas pedesaan mereka longsor dengan mudah. Kawasan ini kini berubah menjadi danau. Karena batas waktu evakuasi sudah habis, Romo Kanis, pastur yang mengkoordinir posko mereka mengadakan misa perpisahan bagi yang meninggal. 17 orang yang hilang didoakan. Sebuah salib dan taburan bunga diatas lumpur melambangkan dukacita yang mendalam dari warga.

Kini warga yang trauma dan kehilangan rumah, tidur di posko-posko pengungsian. Begitu pula Long. Tapi malam ini baju baru dan selimut tebal akan menghangatkan tubuhnya. Susu hangat membuat manis langit-langit mulutnya. Semanis senyum Long yang sedang bahagia.

(Lisa Suroso)

Photo: Eric Satyadi & Ferry Indrawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s