Seuntai Senyum Baduy untuk PERMATA dan INTI

Standard

Jalan setapak 16 km nan terjal dan menanjak tidak menyurutkan langkah Hayuningtyas. “Bisa. Harus bisa!” katanya mantap walau kakinya gemetar saat menjejak di atas bebatuan. Gadis kelas tiga SMU ini tergabung dalam Tim Relawan PERMATA (Persatuan Masyarakat Indonesia Tionghoa Peduli Bencana). Bersama Tim Medis Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Kamis (12/7) lalu, mereka menjalani misi menuju Dusun Kadukohak, sebuah perkampungan Baduy yang dilanda kebakaran hebat dua minggu sebelumnya.

Tyas, demikian nama panggilannya, menghela nafas panjang setiap kali tanjakan menghadang di depannya. “Kang Sadiman… berapa jauh lagi???” tanyanya memelas pada pria Baduy yang memandu tim menuju lokasi bencana. Bagi Tyas dan rekan-rekannya, jalan menuju perkampungan Baduy tidak mudah. Bagaimana tidak? Belasan bukit harus dilalui. Naik, turun, melewati sungai dan jembatan dengan kondisi jalan yang licin terjal. Beberapa orang jatuh bangun, rasanya ingin menyerah saja di tengah jalan. Perjalanan itu sama sekali bukan ukuran bagi orang kota yang biasa naik mobil ber-ac. Tapi misi harus diselesaikan. Sebanyak 225 penduduk dusun yang menjadi korban menanti uluran tangan.

Kebakaran di dusun yang terletak di kawasan Kanekes, Lebak, Banten ini memang membuat penduduk nyaris kelaparan. Selain membakar 67 rumah, 25 lumbung padi dan hasil ladang juga ikut terbakar. Hanya 8 rumah yang masih tersisa utuh. Simpanan hasil ladang untuk beberapa bulan ke depan ludes dilalap si jago merah dalam tempo dua jam. Padahal sebuah lumbung bisa menyimpan ribuan ikat padi. Tampak jelas jejak-jejak api pada hutan di sekeliling dusun yang ikut terbakar. Pohon-pohon mati. Daunnya coklat. Kering terbakar sampai ke puncaknya. Tanah kehitam-hitaman. Penuh abu, sisa dari rumah-rumah yang terbakar.

Awal bencana itu bermula dari sebuah tungku masak milik seorang warga. Percikan api menjalar ke dinding rumah yang terbuat dari bambu pada pukul 9 pagi, 3 Juli 2007. Pagi itu seperti biasanya, pria Baduy sudah berangkat ke ladang. Mereka tidak mengetahui kejadian itu karena ladang mereka jauh dari dusun. Wanita dan anak-anak yang ditinggal tidak bisa berbuat apa-apa untuk memadamkan api.

Rumah penduduk Baduy memang rentan api. Rumah yang terbuat dari atap rumbia (atap dari daun kelapa) dan dinding anyaman bambu merupakan salah satu peraturan wajib dari suku yang unik ini. Suku Baduy mempunyai gaya hidup berbeda dengan suku lain di Indonesia. Mereka menolak modernitas. Berprinsip hidup dalam kesederhanaan, warga Baduy dilarang naik kendaraan, tidak memakai listrik dan peralatan elektronik, dan juga tidak bersekolah. Ini adalah beberapa pantangan dasar yang dipatuhi oleh warga Baduy.

Orang Baduy yang disebut Sadiman “Urang Baduy”, mudah dilihat dari ciri-ciri fisiknya. Perawakan mereka sedang, berkulit kecoklatan dengan golongan ras Melayu. Pria Baduy mengenakan baju seperti kemeja tenun hitam dengan dalaman putih. Kain biru tua bercorak dililitkan di kepala. Sebilah golok terselip di samping celana hitam yang juga hasil tenunan. Wanitanya memakai kain dengan ornamen batik beratasan kemeja tenun hitam atau biru. Mereka biasa naik-turun gunung untuk mencari kayu bakar dan berladang tanpa alas kaki.

Suku Baduy sendiri terdiri dari dua kelompok. Baduy Dalam adalah mereka yang betul-betul mematuhi semua pantangan dari nenek moyang. Mereka hidup sangat sederhana dengan mengolah hasil ladang secara swadaya. Peralatan mereka sangat natural, terbuat dari kayu, batu atau anyaman bambu. Plastik dan deterjen ada dalam daftar barang-barang yang dilarang. Perjalanan sejauh apapun harus ditempuh dengan jalan kaki. Selain penduduk asli, orang luar tidak diperkenankan masuk ke Baduy Dalam, apalagi di beberapa tempat yang dianggap suci. Baduy Dalam bisa dicapai dengan lima jam jalan kaki dari Ciboleger, gerbang terakhir sebelum masuk ke wilayah Baduy.

Orang Baduy Luar hidup di dusun-dusun sekitar daerah Baduy Dalam dengan peraturan yang lebih longgar. Mereka sudah bisa mengenakan deterjen dan boleh berpakaian dengan bahan kain olahan pabrik. Alas kaki seperti sandal jepit bebas dipakai. Mereka juga bisa menerima tamu-tamu ‘asing’, baik pengunjung maupun wisatawan. “Ari Urang Baduy Luar mah geus tiasa narima tamu,” Sadiman betutur dengan logat Sunda yang kental.

Setelah menempuh 2,5 jam perjalanan yang melelahkan, menjelang sore, 1 ton beras, 200 kg ikan asin dan 3 rol kain hitam berhasil disalurkan. Bantuan yang disesuaikan dengan adat dan tradisi Baduy ini diterima langsung oleh Jaro (kepala dusun) dan penduduk yang kini tinggal di bawah terpal-terpal berwarna biru tua.

Sore itu wajah Tyas yang kelelahan tersenyum puas. Begitu pula dengan rekan-rekannya. “Mission accomplished!” katanya riang. Tubuh yang penat dan perjuangan yang berat terbayar lunas dengan senyuman tulus penduduk Baduy dan tetesan air mata haru Sadiman. (Lisa Suroso)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s