Pulau Rambut: Zamrud Terakhir di Utara Jakarta

Standard

war.jpgPernah dengar Nyi Roro Kidul? Konon, penguasa Laut Selatan Jawa ini pernah berkunjung ke Laut Utara. Tapi dia ditolak masuk oleh penguasa Utara Jawa dan disambut dengan hantaman badai. Begitu parahnya badai itu, hingga kapalnya pecah menjadi taburan pulau sepanjang Teluk Jakarta. Dapurnya terlempar ke udara, jatuh ke lautan dan menjelma menjadi Pulau Bokor. Nyi Roro Kidul sendiri terhempas dan kondenya jatuh terberai, hingga menjadi Pulau Jem, Rambut.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan datang ke Pulau Rambut itu. Bersama-sama dengan teman-teman dari Jakarta Green Monster, pecinta lingkungan yang peduli Jakarta. Ternyata alamnya sangat unik dan banyak menyimpan kisah-kisah. Yang terpenting, lokasinya sangat mudah diakses dari Jakarta.

Diawali jam 06.00 pagi, kami semua berkumpul di depan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Spanduknya sungguh provokatif: “Selamat Datang di Hutan Bakau Terakhir di Jakarta.” Hmmm…gila nih Jakarta, masak suaka margasatwa disisakan hanya 25,02 hektare luasnya? Bandingkan dengan suaka margasatwa di Kalimantan yang mencapai ratusan ribu hektare. Tapi, Jakarta ‘gitu lho. Lha wong di Jakarta, cagar alamnya hanya 8 hektare. Itu tuh, yang ada di Pancoran Mas, Depok.

pulau-rambut.jpgKembali ke SMAA. Kata Iman dan Edy, pemandu kami, SMMA adalah suaka margasatwa terkecil di Indonesia dan menjadi bagian dari 170,60 hektare Kawasan Terpadu Muara Angke. Di SMMA, kami melihat ada serombongan anak sekolah tengah mengamati burung (birdwatching). Wow. Hobi yang menyenangkan. Sementara tangan memegang binokuler, tangan satunya membuka buku  McKinnon, buku sakti para birdwatcher. Menurut anak-anak sekolah ini, mereka bisa datang dan difasilitasi oleh Jakarta Green Monster. Termasuk binokuler, pemanduan dan perijinan, hingga buku serta permainan. Tak mau kalah, kami ikut juga mengamati burung.

Hebat euy! Di wilayah rindang penuh pohon bakau ini, Tim Jakarta Green  Monster sudah mendata 91 spesies burung. Terdiri dari 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan. Beberapa di antaranya merupakan burung khas hutan bakau, seperti Sikatan Bakau (Cyornis Rufigastra). Selain itu, SMMA juga menjadi rumah bagi Prenjak Jawa (Prinia Familiaris). Di sini, ada juga dua burung endemik, burung yang hanya ada dalam satu kawasan saja, yakni Cerek Jawa (Charadrius Javanicus) dan Bubut Jawa (Centropus Nigrorufous), salah satu spesies terancam punah di dunia. Burung terancam punah lainnya yang menghuni kawasan ini ialah Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea).

Kami terus mengelilingi kawasan Muara Angke. Rasanya seperti bukan di Jakarta! Seringkali kami harus melewati rawa. Kadang, ada juga jalan panggung. Sayang, kondisinya sangat memprihatinkan. Tak terasa, sudah dua jam lebih kami di sini. Iman dan Edy mengajak kami menuju Pulau Rambut. Menurut rencana, kami akan ke Pulau Untung Jawa untuk makan siang kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Rambut. Semuanya ditempuh menggunakan kapal motor.

Pengalaman naik kapal di Jakarta betul-betul tidak terlupakan. Di sebelah kanan, perahu nelayan berderet. Angin bertiup sepoi-sepoi. Semilir bau sampah kadang menyengat hidung. Ya, untuk keluar menuju laut, kami melewati pulau-pulau sampah. Ini pasti sampah dari kota Jakarta. Bayangkan, mulai dari sandal jepit sampai kulkas dan tempat tidur nangkring dengan tenangnya di muara sungai. Diantara sampah-sampah itu, beberapa burung tampak mencari makan atau bahan untuk membangun sarangnya. Kasihan….

Kami mulai memasuki lautan. Tapi ‘kok airnya hitam? Tidak ada riak, tebal dengan lapisan minyak dan residu oli. Menurut Iman, berdasarkan hasil pemantauan kualitas air Kali Angke oleh BPLHD DKI Jakarta tahun 2005, ada beberapa indikator pencemaran limbah cair yang telah melebihi ambang batas, seperti phospat, mangan, seng, sulfat, minyak dan lemak. Bahkan ditengarai, kadar oksigen disini 0% saking tingginya tingkat pencemaran. Ck..ck….

Sang Kapten mengendalikan kapal motor penuh kehati-hatian. Sebab, di kanan-kiri, bambu-bambu penangkaran kerang hijau dan tempat jala apung bertebaran. Ratusan jumlahnya. Banyak burung bertengger di atas bambu-bambu ini. Kata Iman dan Edy, burung itu namanya Pecuk Ular (Anhinga Melanogaster). Konon, di kawasan Indochina burung jenis ini sering dijadikan “pancing ikan”. Caranya, “pemancing” meletakkan ring besi di leher burung Pecuk, dan mengikat kakinya dengan tali rafia. Kemudian burung Pecuk malang ini dilepaskan. Burung ini akan mencari ikan, begitu dapat, ikan dimakan tapi karena ada ring besi, maka ikan tidak masuk dalam ke perut, tapi tersangkut di kerongkongannya. Ikan diambil “sang pemancing” dan burung kembali mencari ikan. Begitu seterusnya.

 

Hampir satu jam kami mengarungi teluk Jakarta. Melewati 30 menit perjalanan, air laut mulai membiru, gugusan pulau seribu tampak di kiri-kanan dan depan kami. Sungguh indah. Dari kejauhan kami melihat Pulau Rambut. Hijau, lebat. Bagaikan hiasan zamrud di tengah birunya lautan.

Kapal mendarat. kami jejakkan kaki di pasir. Wow, pasirnya dalam dan putih. Di hadapanku terbentang hutan hijau, mengundang untuk dijelajahi. Sttt… dengar, suara burung terdengar ramai sekali.

 

Surga Burung

Memasuki hutan tropis di Pulau Rambut, Anda akan disambut dengan ribuan bunyi yang asing untuk ukuran warga Jakarta. Bagaimana tidak? Mendengar kicau burung sudah jadi barang langka di ibu kota. Burung-burung laut yang eksotis berterbangan di atas kepala. Mereka adalah penghuni tetap Pulau Rambut. Selain burung, lokasi ini juga tempat favorit para biawak (Varanus Salvator) dan ular. Biawak dan ular hidup dari memangsa telur dan anak burung. Beruntung sekali saya bisa berjumpa dengan ular Cincin Mas (Boiga Dendrophylla) yang sedang tidur siang santai di atas pohon. Sisiknya yang hitam legam dihiasi dengan lingkaran cincin-cicin kuning menyala.

ular-cincin.jpgKami masuk lebih dalam ke hutan. Lihat, ada menara pemantau burung! Cukup tinggi, sekitar 15 meter. Tanpa ditunda saya langsung memanjat, agak takut juga sih, karena menaranya tidak terawat. Besinya sudah berkarat dan agak goyang ketika diinjak. Anak tangganya pun tidak lengkap. Tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutan saya.

Setibanya di atas, ternyata perjuangan memanjat saya terbayar pantas. Alam sungguh indah sekali. Yang paling menakjubkan adalah kita bisa memantau ribuan burung dan sarangnya dari atas menara. Waktu satu jam saya habiskan untuk menikmati angin dan mengabadikan burung-burung itu.

Menjelang sore, kami harus pulang untuk menginap di Pulau Untung Jawa. Pulau Burung tidak menyediakan fasilitas penginapan. Ini memang disengaja, supaya kehidupan burung-burung ini tidak terganggu oleh manusia. Kami memutari Utara pulau, melewati rawa-rawa hutan bakau. Perjalanannya cukup menantang, kaki saya berulangkali terperosok lumpur. Di sela-sela akar bakau, sampah Jakarta ternyata banyak ‘nyangkut disini. Wah, wah…parahnya sampah Jakarta.

Dari kejauhan saya melihat seekor Bangau Bluwok terperangkap di lumpur. Kasihan sekali. Kelihatannya sayapnya patah dan ia tidak bisa terbang. Saya berteriak memanggil pemandu kami. “Tidak bisa,” kata Iman ketika saya memaksa mau menolong si bangau. “Itu sudah circle of life. Ia akan menjadi mangsa biawak.” Iman tersenyum memandang saya yang cemberut protes. Tapi, ya… itulah hukum alam. Dengan rasa masgyul kami semua meninggalkan bangau yang semakin lemah.

Setibanya di pantai, kejadian seru dipertontonkan dihadapan kami. Segerombolan burung Cikalang Christmas (Fregata Andrewsi) mengejar burung Kuntul Kerbau (Bubulcus Ibis) . burung kuntul besar (Casmerodius albus) Mereka berusaha merebut ikan dari mulut burung Kuntul. Burung Cikalang memang terkenal sebagai perompak ulung. Lucu ya, ternyata bajak laut juga ada di dunia burung. Burung yang asalnya dari Christmas Island, Australia ini, termasuk jenis terancam punah dengan kategori keterancaman tertinggi atau kristis (critically endangered). Mereka memang suka jalan-jalan bergerombol ke wilayah Indonesia untuk mencari makan. Perlawanan sengit pun dibalas oleh si Kuntul. Ia menukik, berputar ke kiri dan ke kanan menghindari serangan patukan. Enak saja, kalau ikan di mulutnya jatuh dan direbut, anaknya tidak bisa makan malam nanti. Sungguh tontonan yang tidak bakal ada di Jakarta.

Kalau Anda ingin berlibur, cobalah sekali-sekali mampir ke Pulau Rambut. Selain dekat, biayanya sangat terjangkau. Aktivis Jakarta Green  Monster dan Flora Fauna Internasional (FFI) siap menemani Anda. Lengkap dengan peta, binokular, dan panduan pengatahuan. Bersama mereka kita bisa menikmati program edutainment yang bertujuan membuka mata banyak orang bahwa Jakarta masih memiliki suaka margasatwa yang terdiri dari Muara Angke (SMMA) dan Pulau Rambut. Satu-satunya hutan konservasi yang masih tersisa di tengah hutan beton yang memadati Jakarta. ***

 

Benteng Sampah Tubagus Angke

 

Tak banyak yang mengetahui bahwa Jakarta mempunyai kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Daerah ini merupakan sebuah kawasan hutan bakau (mangrove) di pesisir utara Jakarta. Secara administratif, SMAA termasuk dalam wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Kawasan yang berdampingan dengan Perumahan Pantai Indah Kapuk ini, hanya dibatasi Kali Angke yang penuh dengan permukiman nelayan Muara Angke. Pada sisi utara SMMA, terdapat Hutan Lindung Angke-Kapuk yang berada di dalam wewenang Dinas Kehutanan DKI Jakarta. SMMA sangat mudah dijangkau. Hanya 15 menit dari Bandara International Soekarno-Hatta atau satu kali naik angkutan umum dari Grogol.

Muara Angke sendiri berasal dari nama seorang panglima perang kerajaan Banten yang berperang melawan Belanda, yaitu Tubagus Angke (Tubagus adalah gelar kebangsawanan kerajaan Banten). Saat itu, kerajaan Banten mengirim pasukannya untuk membantu kerajaan Demak yang sedang menggempur benteng Portugis di Sunda Kelapa (Jakarta). Sungai di mana pasukan Tubagus Angke bermarkas kemudian dikenal sebagai Kali Angke dan daerah yang terletak di ujung sungai dikenal sebagai Muara Angke. Ada juga versi kedua. Kata ‘Angke’ berasal dari penyebutan ‘Kali Bangkai’ (bangke). Disebut demikian karena di kali inilah ribuan mayat etnis Tionghoa dibuang paska pembantaian Belanda pada 9 Oktober 1740.

Oleh pemerintah Hindia Belanda SMMA ditetapkan sebagai Cagar Alam pada tahun 1939. Setelah 60 tahun menyandang status sebagai Cagar Alam, pada tahun 1999 Pemerintah RI mengubah status kawasan ini menjadi Suaka Margasatwa. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya tingkat kerusakan baik di dalam maupun di sekitar Kawasan Muara Angke.

Kawasan Muara Angke terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam Angke-Kapuk. Hutan Lindung ini merupakan hutan bakau terakhir yang dapat dijumpai di Jakarta. Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Slamet Daroyni, mengatakan bahwa di tahun 1980 kawasan yang sebelumnya bernama Cengkareng Marsh ini memiliki luas 1000-an hektare. Namun seiring pembangunan perumahan Pantai Indah Kapuk, kawasan yang sebetulnya dapat menjadi andalan pencegah banjir dan tsunami ini menyusut hingga menjadi tinggal 170,60 hektare saja. SMAA sendiri hanya 25,02 hektare luasnya dan berhasil meraih predikat sebagai Suaka Margasatwa terkecil di Indonesia.

Walaupun predikatnya memprihatinkan, namun peranan SMMA sangat besar bagi lingkungan. Bahkan BirdLife International – salah satu organisasi pelestarian burung internasional- memasukkan kawasan Muara Angke sebagai daerah penting bagi burung di Pulau Jawa (BirdLife International 2003).

 

Rumah burung-burung langka

SMMA dihuni oleh aneka jenis burung langka berbagai ukuran. Mulai dari burung Remetuk Laut (Gerygone Sulphurea) yang berukuran tidak lebih dari 2 jari orang dewasa sampai Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea) yang berukuran hampir 1 meter.

Bangau Bluwok memiliki ukuran 92 cm dengan bulu putih di seluruh tubuhnya kecuali pada bagian sayap primer dan ekor yang berwarna hitam. Spesies ini masuk dalam kategori burung terancam punah di dunia dengan status rentan atau vulnerable (BirdLife International, 2001). Artinya ia memiliki peluang untuk punah lebih dari 10% dalam waktu 100 tahun, jika tidak ada upaya serius untuk melindungi populasi dan habitatnya (Shannaz et al. 1995). Ancaman utama terhadap spesies ini ialah pengrusakan dan hilangnya sebagian besar habitat berupa hutan bakau dan dataran lumpur di daerah pesisir. Di Pulau Jawa, Bangau Bluwok diketahui hanya bisa berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut yang berjarak kurang lebih 19 km dari Muara Angke.

Jenis lain yang menghuni SMMA adalah burung Bubut Jawa (Centropus Nigrorufous) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan Coucal. Merupakan salah satu burung endemik Jawa penghuni daerah pesisir yang banyak ditumbuhi pohon bakau dan nipah. Secara spesifik burung ini sering menggunakan daerah rawa yang di dominasi oleh tumbuhan gelagah Saccharum, Acrosticum, Imperata dan Nypa (Andrew, 1990).

Sama dengan Bangau Bluwok, Bubut Jawa telah dimasukkan ke dalam kategori burung terancam punah di dunia. Ancaman utama terhadap spesies burung yang pemalu ini ialah pengrusakan dan hilangnya sebagian besar habitat yaitu hutan bakau dan rawa-rawa di daerah pesisir. Meskipun sebelum tahun 1950-an diyakini banyak tersebar di daerah pesisir utara Pulau Jawa, namun saat ini Bubut Jawa hanya tercatat di beberapa daerah seperti di SMAA, Muara Gembong, Cangkring,  Muara Cimanuk, Ujung Pangkah, Sidoarjo dan Cilacap (BirdLife International, 2001).

 

Dihimpit permasalahan

Keberadaan hutan bakau di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi upaya pelestarian spesies-spesies ini. Sayangnya, SMAA dikepung beragam permasalahan yang tak kunjung usai. Semuanya akibat derasnya laju pembangunan yang terjadi di Jakarta dan kawasan sekitarnya. Suka tidak suka, ini memberi pengaruh bagi SMMA. Berdasarkan catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kondisi hutan bakau Jakarta menempati urutan ketiga yang mengalami degradasi bakau terbesar setelah Jawa Timur dan Jawa Barat. Bayangkan saja, dari 28,608 hektar lahan sebelumnya, sekarang tinggal sekitar 5.000 hektar yang ditumbuhi bakau. Belum lagi sederetan masalah lain yang menyekap SMMA.

Yang pertama, Kawasan Muara Angke saat ini mengalami tekanan berat akibat kehadiran Eceng Gondok (Eicchornia Crassipes). Sirkulasi air laut yang kurang baik mengakibatkan gulma asal Brazil ini tumbuh subur di dalam kawasan SMMA. Adanya tambak-tambak illegal di dalam Kawasan Hutan Lindung mengakibatkan aliran air laut tidak dapat mengalir lancar ke kawasan SMMA. Hal ini berujung pada menurunnya tingkat salinitasi air. Jika tidak cepat diatasi, bukan tidak mungkin akan terjadi peningkatan populasi jenis nyamuk yang hidup dan berkembang biak di air tawar. Dampak jangka panjang dari hal ini tentu berupa menurunnya tingkat kesehatan masyarakat di sekitar Muara Angke.

Yang kedua, keberadaan kawasan hijau di bagian Utara Jakarta ini seringkali menimbulkan persepsi keliru dari masyarakat. Banyak masyarakat awam melepaskan satwa-satwa liar yang pernah dipeliharanya karena alasan-alasan tertentu seperti bosan, ritual kepercayaan dan lain-lain. Sayangnya beberapa satwa yang dilepas ini bukan merupakan satwa yang secara ekologi hidup di kawasan ini. Meskipun masih dalam jumlah yang kecil dikhawatirkan satwa-satwa ini akan merusak kestabilan ekosistem yang ada di Suaka Margasatwa. Jenis satwa introduksi yang sudah diketahui kehadirannya selain eceng gondok ialah kadal (Callotes Emma) dan keong (Murbai Pomacea Sp).

Yang ketiga, kelompok hutan  Muara Angke (Suaka Margasatwa, Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam) merupakan bagian hutan yang tersisa dari bagian utara Jakarta. Arealnya yang cukup kecil menyebabkan kawasan ini rentan terhadap gangguan, terutama sekali manusia. Selain itu kondisinya yang terpisah dengan kawasan hutan lainnya di Jakarta dapat mengakibatkan menurunnya kualitas genetis satwa-satwa yang hidup di dalamnya.

Yang keempat, letak kawasan SMMA yang bersebelahan dengan kali Angke menjadikan kawasan ini menjadi “tempat pembuangan sampah akhir” bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Kali Angke sendiri merupakan ujung dari Banjir Kanal Barat yang menggelontorkan aliran air dari sungai Ciliwung, Bogor. Dari kawasan ini mengalir aneka jenis limbah padat maupun cair ke dalam SMMA, apalagi saat musim penghujan. Kebiasaan nelayan di sekitar SMMA yang merusak habitat sungai adalah membuang limbah oli bekas ke aliran sungai. Kehadiran limbah padat dan cair ini jika tidak dikendalikan dapat mengakibatkan kematian berbagai jenis pohon bakau yang tumbuh di SMMA. Hal lain yang mengganggu, limbah padat yang masuk ke dalam kawasan ini tentu sangat mengurangi nilai estetika hutan bakau.

Dari semua permasalahan yang menghimpit SMMA, masalah sampah adalah masalah yang paling parah. Setiap hari tak kurang dari 1.200 meter kubik sampah mengalir di Banjir Kanal Barat dan tidak sedikit pula yang mampir serta mengotori kawasan ini. Akar-akar bakau tertutup sampah plastik, air tempat burung mencari mangsa mengandung mercury, bahkan tumpukan sampah juga membentuk pulau-pulau buatan baru yang mencapai hektaran are luasnya.

Penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung mulai dari arah hulu hingga hilir merupakan jalan terbaik untuk menyelamatkan kawasan Muara Angke dari kehancuran. Beberapa potensi yang dimiliki oleh kawasan Muara Angke hingga saat ini sayangnya belum dikelola secara maksimal. Kebijakan pengelolaan yang seringkali tidak sejalan antara Dinas Kehutanan DKI Jakarta dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta mengakibatkan kawasan ini tidak mampu beranjak dari permasalahan yang menghimpitnya. Meskipun pada tahun 2003 kawasan SMMA sempat dibenahi namun tidak adanya pemeliharaan fasilitas mengakibatkan banyak dari fasilitas yang telah dibangun ini menjadi rusak dan hancur.

Jika Tubagus Angke, yang pernah mendirikan benteng di kawasan ini bisa melihat kondisi ini, pasti beliau sangat kecewa. Sebab, sampah-sampah itulah yang merongrong keindahan dan menyebabkan banjir bagi anak cucunya yang kini mendiami Jakarta….

 

Jika Anda ingin membantu penyelamatan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Mura Angke, Anda bisa menjadi relawan, penyumbang atau bahkan hanya pengunjung. Silahkan simak www.jakartagreenmonster.com, atau hubungi emalui e-mail info@jakartagreenmonster.com. Bisa juga melalui telepon ke 021-7800981.

(Ahmad Suwandi dan Lisa Suroso/SUARA BARU) Photo:Eric Satyadi

 

 

2 responses »

  1. naik ke menara harus membawa izin DepHut, tidak bisa sembarangan masuk karena kawasan ini dilindungi oleh 16 negara peserta konservasi yang tiap tahun menggelontorkan dana milyaran buat petugas Indonesia memelihara pulau tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s