Berdansa dengan Para Singa

Standard

Menjadi pemain barongsai andal berarti latihan tekun bertahun-tahun, melatih otot serta ketangkasan,dan yang paling penting, bisa bekerjasama!

Carilah benda di sekitar Anda yang beratnya sekitar 4-5 kg. Boks besar mungkin, atau galon air mineral. Sudah dapat? Berdirilah di depan meja tulis. Angkat benda itu di atas kepala selama 5 sampai 10 menit. Mulailah melompat-lompat, berputar, menunduk, lalu, hop! Lompat ke atas meja. Bagaimana rasanya?

Kira-kira seperti itulah bila Anda menjadi pemain barongsai, hanya saja Anda tidak akan leluasa melihat ke depan karena ada di dalam kepala singa yang berhias kain dan manik berwarna-warni cerah itu.

Valentino, sudah hampir 10 tahun menjadi pemain barongsai. Peraih dua juara Presiden Cup berturut-turut ini berlatih barongsai sejak umur 12 tahun. “Bagaimana ya? Senang sih!” katanya tersipu-sipu waktu ditanya mengapa betah menjadi pemain barongsai sekian lama.

Di balik gerakannya yang lincah di arena pertunjukkan, Valentino adalah seorang pemuda pemalu. Perwakannya sedang, tidak terlalu tinggi dan cenderung ramping. “Menjadi pemain barongsai memang tidak boleh terlalu tinggi” kata Yoe Hwang Sen, pelatih Tim Rajawali Sakti, tim dimana Valentino ditempa. “Yang perawakannya lebih besar dan tinggi, menjadi bagian ekor, karena dia akan sering mengangkat rekannya di depan.”

Semakin muda seseorang berlatih barongsai akan semakin baik. ”Di atas umur 20 tahun, tubuh sudah kaku,” sambung pelatih yang sudah tengah baya ini. “Paling ideal anak umur 10 tahun untuk mulai berlatih.”

Biasanya pemain pemula belajar gerakan kaki dan pinggang. Gerakan ini mirip dengan gerakan dasar wushu.

Pemain depan dan belakang memagang peranan berbeda. Pemain belakang mengendalikan gerakan barongsai secara keseluruhan. Sementara pemain depan mengatur gerakan kepala dan ekspresi si barongsai. Setelah paham peranan masing-masing, kedua pemian harus berlatih kekompakan. Kompak gerakan depan-belakang, juga kompak dengan musik pengiring.

Melatih ekspresi barongsai bukan hal mudah. Untuk membuat barongsai kelihatan hidup, pemain harus berpikir dan bergerak seperti singa atau sepupu jinaknya, kucing. ”Saat sudah berada di dalam kepala barongsai, saya menjadi satu jiwa dengannya. Saya harus berpikir, bergerak dan bergoyang seperti kucing,” tutur pemuda yang biasa disapa Valen ini. Ia mengaku dari semua latihan yang dilakukan, melatih ekspresi adalah hal yang paling sulit. Perlu jam latihan panjang untuk bisa menterjemahkan sebuah kisah menjadi gerakan dan mimik si barongsai. Tak heran, pengunjung bisa dengan mudah melihat ekspresi barongsai saat sedang senang, sedih, marah, bahkan mengantuk!

Ekspresi ini memegang peranan penting saat pertunjukan barongsai diperlombakan. Juri yang sudah diberi alur cerita sebelumnya, akan mencocokkan gerakan dan ekspresi dengan cerita yang direncanakan. Musik pengiring juga ditabuh sesuai nuansa dan gerakan. Saat barongsai mempertontonkan adegan riang gembira, musik yang terdiri dari tambur, simbal dan gong ini ditabuh kuat dan cepat. Tapi saat barongsai mengantuk, musik akan terdengar sayup-sayup. Barongsai marak kembali di Indonesia sejak Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan Inpres No 14 Tahun 1967 yang melarang agama, kepercayaan dan adat istiadat berbau Tiongkok di Indonesia. Sejak tahun 1999 itu, singa cantik berhias bulu dan satin warna-warni itu tidak takut lagi berdansa, baik dalam ritual keagamaan, kesenian atau hiburan.

Berbagai grup barongsai kembali hidup, baik yang dimiliki organisasi maupun perorangan. Lomba antar grup kini digelar lebih dari dua kali dalam setahun. Setidaknya ada dua perkumpulan besar yang sering menghelat even, PKLBSI (Penasehat Wadah Kungfu Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia) dan Persobarin (Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia). Tak jarang, grup Barongsai Indonesia juga mengadu ketangkasan di even-even internasional.

Bergantung pada Pendanaan

Keberadaan grup-grup barongsai yang kini mencapai ratusan di Indonesia ternyata tidak lepas dari masalah pendanaan. Seperangkat kostum barongsai, misalnya, berkisar antara Rp 1,5 – Rp 4,5 juta per buah. Ini harga barongsai lokal. Jenis bulu mempengaruhi harga. Bulu domba yang lebih tebal jelas lebih mahal. Bulu ini membuat kostum barongsai jadi lebih ’jatuh’ ketika bergerak, ketimbang bulu dari bahan sintetis. Belum lagi seperangkat alat musiknya. Konon mencapai angka di atas lima juta rupiah. Enam bulan sekali, alat musik ini harus diganti karena kebanyakan mulai pecah atau bengkok.

Untuk berlatih dan mengikuti lomba, masing-masing grup barongsai mencari dana secara swadaya. Biaya mengangkut peralatan dan biaya akomodasi grup bukan jumlah yang kecil ketika perlombaan harus dilakukan di lain kota atau bahkan di luar negeri. Uang kas grup bergantung pada organisasi penyokong maupun perorangan yang mensponsorinya.

Besar tidaknya uang kas yang dimiliki oleh grup barongsai dapat terlihat jelas ketika ajang lomba digelar. Grup yang mendapat dukungan dana lebih, tampil dengan kostum yang mewah, baru dan aksesoris menyala, seperti taburan lampu kelap-kelip. Grup yang sederhana tampil dengan kostum yang sudah redup karena sering dipakai berlatih dan berlomba. Ironisnya, aksesoris ini juga masuk dalam kategori penilaian walaupun kontribusinya kecil.

Ketidakmapanan pendanaan ini juga yang menyebabkan para pemain barongsai kebanyakan hanya bermain untuk hobi. Ketika mereka sudah memasuki dunia kerja atau menikah, hobi ini ditinggalkan, karena harus mengutamakan penghasilan bagi keluarga. Bila tetap ingin bermain resikonya harus pintar-pintar membagi waktu berlatih setelah jam kerja usai. Ini usaha yang melelahkan sekali. Apalagi kadang mereka harus sering izin demi bertanding di luar kota. Imbalan yang mereka terima, seringkali tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang dikuras. Namun, mereka tetap melakukannya demi hobi, kesetiaan pada grup atau tantangan. “Ketika juara diraih, semua penderitaan itu hilang,” kata Valen. Menurutnya kebanggaan itu tidak dapat ditukar dengan apapun.

Milik Masyarakat Indonesia

Di tengah kesulitan yang dihadapi berbagai grup barongsai, mereka cukup bahagia dengan diterimanya tradisi ini sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Budaya berbagai etnis di Indonesia pun sebenarnya mengenal tarian sejenis barongsai. Sisingaan ada di Jawa Barat, tari Barong jadi ikon di Bali. Bondowoso bahkan, punya kesenian daerah yang cukup mirip dengan barongsai, namanya Rontek Singa Ulung Bondowoso. Cara memainkannya mirip sekali dengan Barongsai, hanya tampilan singanya lebih tambun dan lucu dengan bulu yang menutupi sekujur badan singa. Bukan mustahil, tarian-tarian ini dipengaruhi budaya tari barongsai sejak beratus-ratus tahun yang lalu.

Barongsai dan liong kini pun, tidak melulu hanya dimainkan etnis Tionghoa. Lihat saja bagaimana prajurit TNI-AD dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 15 (Yonarhanudse-15) sangat piawai memainkan Liong pada HUT ke-41nya di Semarang, April 2007 lalu. Uniknya si naga diberi warna loreng dengan tanduk merah disepanjang badannya. Atraksi ini pun diberi nama Liong Naga Doreng.

Tim Barongsai Genta Suci dari MAKIN (Majelis Khonghucu Indonesia) Ambarawa, semuanya beretnis Jawa. ”Rumah saya dekat dengan kelenteng. Akhirnya setelah coba-coba ikut main, saya jatuh cinta pada barongsai,” ujar Ari Setiawan, pemuda 23 tahun yang berperan sebagai ekor. Rekan depannya, Ferry Sulistyo yang masih 16 tahun mengiyakan. Ditemui usai pertandingan yang digelar Persobarin pada Juli 2007 di Mangga Dua Square, Jakarta, pemuda beraksen Jawa kental ini bercerita bahwa ia sudah tertarik dengan barongsai sejak duduk di sekolah dasar. ”Di Ambarawa, antar etnis bersatu-padu. Tidak ada rasa alergi terhadap budaya atau agama tertentu.”

Bagi Ferry dan Ari menjadi pemain barongsai bukan sekedar hobi. Barongsai sudah menjadi bagian hidup mereka. ”Bagi saya barongsai bukan sekadar permainan dan atraksi. Saya bangga, dipercaya menjadi pemain barongsai,” tutur Ari.

Menjadi pemain barongsai tak lain berlatih untuk percaya. Percaya pada diri sendiri, percaya pada rekan dan percaya pada grup. Di bawah kostum barongsai berarti menghayati kepercayaan yang diberikan masyarakat. Sama seperti kisah muasal barongsai, singa yang dipercaya warga sebagai penjaga dan pelindung. (Lisa Suroso/SUARA BARU)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s