Kemelut Naga di Timur Indonesia

Standard

komodo.jpgPekik kegembiraan terdengar dari ruang inkubasi kebun binatang Chester di Inggris. Akhir januari lalu, lima butir telur komodo berhasil menetas. Sebuah fenomena ajaib, karena Flora, induk kelima bayi komodo itu tidak pernah kawin dengan pejantan manapun.

Terlepas dari ajaibnya proses pembuahan tanpa kawin itu, komodo sendiri adalah binatang yang sangat spesial. Sebagai kadal purba terbesar yang amat langka, populasinya tinggal sekitar 2400 ekor. Mereka hidup tersebar di kawasan Taman Nasional Komodo-Flores, tepatnya di Pulau Komodo, Rinca, Padar serta beberapa pulau kecil lainnya. Satu-satunya kepulauan di dunia dimana ditemukan habitat asli komodo.

Sejak Taman Nasional Komodo (TNK) ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO dan cagar Biosfer tahun 1986, popularitas komodo kian menanjak. Tiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk melihat hewan yang mereka sebut dragon (naga). Berbagai peraturan baru ditetapkan guna melindungi si ’naga’ dari timur. Dengan status barunya, TNK yang bekerjasama The Nature Conservacy (TNC) bertanggungjawab atas keanekaragaman hayati kelautan yang kaya, termasuk terumbu karang, hutan bakau, hamparan rumput laut, padang lamun, dan teluk pantai berpasir. Habitat tersebut menampung lebih dari 1000 jenis ikan.

Selama lebih dari sepuluh tahun usaha menjaga kawasan ini berhasil mengurangi sampai 90% penggunaan bom dalam menangkap ikan dan meningkatkan tumbuh kembalinya 60% terumbu karang.

Ternyata niat baik untuk menjaga alam sekitar kepulauan Komodo tidak berjalan mulus dengan pelestarian komunitas tradisional masyarakat setempat. Situasi yang jarang terjadi di Indonesia, dimana perlindungan satwa menjadi prioritas yang lebih tinggi ketimbang penyejahteraan komunitas.

Saudara Kembar yang Terpisah

Masyarakat Kampung Komodo percaya bahwa binatang melata pemakan bangkai ini adalah saudara kembar mereka. Legenda nenek moyang mengisahkan muasal mereka dari satu ibu kandung, Putri Naga, yang melahirkan bayi dan ora (naga). Ora menyingkir ke dalam hutan dan hidup sebagai komodo. Dengan kepercayaan ini masyarakat dan komodo hidup berdampingan dengan tenang berabad-abad lamanya. Konon, nenek moyang mereka biasa berburu dengan ditonton komodo, bahkan berbagi hasil buruan bersama.

Ketika TNK ditetapkan menjadi situs warisan dunia, komodo harus dilindungi dari segala campur tangan manusia. Pusat pemberian makanan yang semula menjadi tontonan wisatawan ditutup. Akibatnya masyarakat yang menjajakan hewan makanan komodo kepada para turis kehilangan mata pencaharian. Komodo lapar pun sering masuk kampung dan membunuh ternak. Kasus terakhir yang terjadi adalah seorang bocah sembilan tahun tewas setelah diterkam komodo.

Konflik yang Terjadi

Niat baik untuk melestarikan alam tanpa sosialisasi yang terprogram, ternyata membawa dampak tersendiri dalam tatanan kehidupan masayarakat Pulau Komodo. Para nelayan kehilangan wilayah mata pencahariannya tanpa diberikan sebuah solusi pekerjaan alternatif. Mereka pun mengakui tidak mendapat keuntungan berarti sejak status pulau mereka diubah. Hal ini mereka sampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkunjung ke Labuan Bajo Maret 2007 lalu.

Keluh kesah masyarakat Pulau Komodo ini mudah untuk dimengerti. Desa mereka adalah salah satu desa termiskin di Indonesia, dengan pendapatan dibawah Rp. 500.000,- per bulan. Rumah mereka dibangun seadanya menggunakan kayu, rumbia dan plastik bekas. Tidak ada listrik, hanya generator digunakan sekali-sekali. Mereka masak menggunakan kayu bakar, mendapat air bersih dengan menggali sumur. Anak-anak sekolah hanya sampai kelas enam SD. Kebanyakan orang tua tidak mampu membayar uang sekolah SMP yang letaknya di Labuan Bajo, tiga jam perjalanan dengan kapal dari kampung mereka.

Konflik ini makin meruncing dengan Kasus pelanggaran HAM yang menewaskan 15 nelayan asal Sape, Bima, NTB selama satu dasawarsa terakhir. Sejak Pemerintah bersama TNC melakukan pengelolaan bersama dengan konsep manajemen kolaborasi, masyarakat dianggap hanya sebagai sub ordinat atau kelompok kelas dua belaka alias bukan objek yang disetarakan dengan komponen yang lainnya.

Problem yang sangat mendasar dari konflik itu adalah tidak jelasnya sistem dan konsep kebijakan pengelolaan taman nasional, kewenangan mengelola taman nasional, fungsi dan kontroversi keterlibatan aparat serta kenyataan bahwa masyarakat nelayan tidak mendapatkan keuntungan dari adanya TNC.

Tim Klarifikasi Pemda Kabupaten Bima bersama Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia), Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), ELSAM (Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat) dan Komodo Watch pada tahun 2003 menuntut kasus pelanggaran HAM ini segera diselesaikan.

Mereka juga berpandangan bahwa konsep kolaborasi itu sama saja dengan konsep konsesi kawasan HPH (Hak Penguasaan Hutan) berkedok kawasan konservasi, karena ada pelepasan kawasan (wilayah TNK) yang dikelola swasta (PT. Putri Naga Komodo) dimana 60% sahamnya dikuasai TNC.

Namun demikian, warga Labuan Bajo, NTT, meminta Komnas HAM dan juga Tim Advokasi masyarakat Komodo untuk memandang persoalan dengan arif. Pasalnya, kelima belas nelayan Sape yang tewas dianggap telah melakukan pelanggaran dengan menggunakan bom dan sianida yang merusak laut. Bahkan para nelayan Sape itu telah berani membakar hutan dan memakai sejata api rakitan saat melakukan pencurian.

Budaya Tradisional Yang Hilang

Berubahnya status kepulauan Komodo ternyata juga membawa perubahan budaya masyarakat setempat. Masyarakat kampung Komodo mempunyai budaya tradisional dan bahasa tersendiri. Budaya ini mulai ditinggalkan seiring banyaknya pendatang. Misalnya mereka percaya pada roh leluhur yang bisa masuk ke tubuh seseorang untuk bicara dengan manusia. Roh ini bicara dengan bahasa halus yang biasa dipakai tetua masyarakat. Kini bahasa halus jarang terdengar, karena bahasa suku lain lebih banyak digunakan. Guru-guru dari luar pulau juga mempengaruhi hilangnya bahasa setempat.

Dulu masyarakat biasa berpesta bila hasil laut melimpah dengan memberikan sesajen pada salah seorang nenek moyang bernama Umpu Dato. Umpu Dato menjadi legenda keramat karena ia mengorbankan diri sewaktu tentara Jepang menyerang Pulau Komodo. Kini kebiasaan dan adat itu sudah mulai dilupakan.

Selain itu ada juga lagu tradisional yang hilang. Lagu ini biasa dinyanyikan saat masyarakat melumatkan kayu sagu. Sejak kayu sagu dilindungi dan dilarang ditebang, lagu ini lambat laun hilang. Pengaruh lain yang terjadi adalah mudah rusaknya rumah penduduk setempat karena mereka kini hanya diperbolehkan membuat rumah dari kayu apung.

Maraknya wisata Pulau Komodo ternyata tidak menjamin warisan sejarah tradisional menjadi lestari. Contohnya adalah legenda Ina Matrea, seorang wanita dan bayinya yang menjadi batu dan legenda Batu Payung. Batu Ina Matrea dan Batu Payung adalah aspek kebudayaan masyarakat kampung Komodo yang penting, dimana masyarakat percaya roh hidup di batu-batu ini. Kini karena erosi, batu itu terancam hilang. Demikian pula legendanya. Demikian pula benda bersejarah Ular Emas yang sudah terlanjur hilang. Emas berbentuk ular yang ditemukan di kaki Gunung Ara ini sudah tidak ketahuan rimbanya.

Jejak-jejak sejarah ini luput dari pemberitaan iklan turisme yang menitikberatkan satwa dan laut Pulau Komodo sebagai satu-satunya wisata. Padahal bila legenda dan sejarah itu dihidupkan, tak mustahil tempat wisata Pulau Komodo akan semakin ramai pengunjung dan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Tidak ada pemecahan yang mudah dan singkat untuk konflik di Pulau Komodo. Kebanyakan orang akan setuju bahwa metode pemancingan bom dan sianida harus dilarang, namun perlu juga memikirkan mata pencarian alternatif bagi masyarakat nelayan.

Penutupan pusat pemberian makanan dipercaya akan menjaga sifat alami komodo. Sebagai jalan keluar untuk komodo yang sudah terlanjur sering diberi makan, mungkin dapat dipikirkan alternatif pemberian makanan sekali-kali atau penambahan hewan sumber makanan komodo demi keselamatan masyarakat.

Sistem pendidikan dalam memajukan kebudayaan tradisional masyarakat harus dihidupkan dengan membuka sekolah lanjutan dan juga mengajarkan sejarah serta cerita setempat pada murid, sehingga warisan leluhur tidak hilang begitu saja.

Selain satwa dan lautnya, tempat bersejarah yang menarik di Pulau Komodo juga harus dipublikasikan, demi melestarikan budaya setempat.

Semoga Sang Putri Naga akan tersenyum, karena anak kembarnya, naga dan manusia dapat hidup berdampingan kembali dengan damai.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Photo:Eric Satyadi

2 responses »

  1. hiiiiiiiiii…………….

    thankz bgt toek ztory of komodo izland!!!

    gw hnya bza trzenyum kcut,wkt bca yang loe tuliz!!!

    bnyak orang mpertanyakn zejrh dr komodo\ora,

    and gw raza loe tau zbrapa bnyak UANG yg pmrnth dptkan dr

    kawzn pulau kmodo,but knpa gak dbuatin zekolah???

    dpulau it hanya ada SD tok,gmna mw tau ttng zejarahx???

    kalu BACA and TULIZ ja gak biza!!! gw bukanx zok

    tauuuuuuuuuuuuu,ayah gw dlu JAGAWANA,tp it dlu

    ztlah TRAGEDI LOH WENCI he was died!!!

  2. Pingback: Mari Vote Komodo ! | timpakul mahalabiu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s