Indonesia di tengah Ancaman Global

Standard

global-warming.jpgPulau Serangan pernah melambungkan namanya ke mancanegara karena penyu, karang yang indah dan habitat laut yang kaya. Masyarakatnya hidup damai dengan tradisi agama Hindu dan Muslim yang kuat. Akhir 1980, sekelompok investor didukung penguasa dan militer, mengeruk laut dan memperlebar pulau yang terletak di kawasan Bali itu. Masyarakat diusir paksa dan tempat-tempat suci direlokasi dengan impian pariwisata akan maju pesat setelah proyek usai.

Apa mau dikata, krisis 1998 membuyarkan impian itu. Investor pergi meninggalkan hamparan alam rusak dan gersang. Seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan rohani masyarakat Serangan berubah. Laut tidak lagi memberikan hasil, ekosistem ganggang rusak, penyu tidak datang lagi.

Akibatnya masyarakat hidup miskin, rentan penyakit dan konflik sosial merebak. Kesucian upacara agama tidak lagi sempurna. Karena sulit mendapatkan ganggang merah, kini masyarakat terpaksa mengganti salah satu syarat upacara agama itu dengan agar-agar instan.

Menurut data perhitungan ekonomi Lembaga Penelitian Universitas Udayana, nilai produksi Pulau Se­rangan sebelum proyek berjalan, adalah sekitar 2 trilyun rupiah per tahun. Saat ini mereka mengalami kerugian hingga 8 trilyun rupiah per tahun.

Nasib masyarakat pulau Serangan adalah salah satu contoh kecil terhadap dampak ketidakarifan dalam menjaga alam di negara kita. Kepentingan ekonomi seringkali diatasnamakan untuk mengeruk dan mengeksploitasi alam, diikuti dengan penyingkiran masyarakatnya. Hampir setiap hari media mencatat kerusakan hutan, pence­maran lingkungan, perdagangan satwa atau tumbuhan, pembalakan liar, dan sebagainya.

Akibatnya bisa ditebak. Banjir, longsor, dan keke­ringan yang berujung pada gagal panen dan kekurangan pa­ngan menjadi berita sehari-hari. Akibat jangka panjang dari kerusakan ini justru lebih merugikan daripada keuntungan yang didapat saat ini.

Kondisi geografis Indonesia sesungguhnya sudah cukup membuat negeri ini berlangganan bencana. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pertemuan tiga lempeng bumi membuat Indonesia rentan gempa bumi dan gelombang pasang. Indonesia juga mempunyai ratusan gunung berapi aktif. Kondisi geografis Indonesia di sisi lain memberi potensi kekayaan alam yang melimpah. Hutan kita adalah hutan tropis nomor dua terbesar di dunia. Kita dianugerahi hasil tambang, tanah yang subur dan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Ironisnya, hampir sebagian besar kekayaan alam Indonesia rusak parah. Dari sektor kehutanan saja, Indonesia menghabiskan 300 kali luas lapangan bola per jam melalui deforestasi dan pembalakan liar.

Di tengah kondisi bangsa yang belum sepenuhnya pulih dari multi krisis 1998, kita berhadapan dengan kenyataan yang tak nyaman: Masyarakat yang belum bisa bangkit dari kemiskinan terikat dengan model pembiayaan pembangunan via hutang. Birokrasi yang masih korup didukung penegakan hukum yang lemah. Alam yang terlanjur rusak tetap saja tereksploitasi. Indonesia juga dirudung ancaman bencana, baik bencana alam dan bencana akibat perbuatan manusia.

Saat ini kembali kita disadarkan oleh sinyal-sinyal peringatan alam. Global warming atau pemanasan global yang diikuti oleh perubahan iklim bukan lagi sebuah ramalan, tapi sudah menjadi kenyataan. Bagi Indonesia, jelas ini bukan pertanda baik.

Pengaruh Perubahan Iklim pada Indonesia

Corak khas geografis, biologis dan sosial Indonesia, menjadikannya sangat peka akan perubahan iklim, seperti gejala cuaca dan iklim ekstrim, naiknya permukaan air laut, serta tingginya kandungan karbon dalam atmosfer.

Sebagian besar penduduk Indonesia masih sangat tergantung pada layanan alam dari sumber daya hayati dalam mencari nafkah. Seperti pertanian, perhutanan, dan perikanan. Dengan letak kota-kota besar dan tingkat sebaran penduduk yang padat di daerah pesisir dan dataran rendah, Indonesia berada pada posisi genting dalam perubahan iklim.

Gejala-gejala dari dampak peru­bahan iklim sudah mulai dirasakan di Indonesia. Misalnya saja anomali cuaca ekstrem yang makin sering muncul, intensitas badai siklon, puting beliung dan gelombang tinggi meningkat, musim hujan yang makin pendek namun dengan curah makin besar, sebaliknya kekeringan melanda banyak daerah dan membuat air tanah menyusut.

­Perubahan ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Petani padi di Jawa, Lampung dan Sulawesi Selatan tahun ini merugi, pembuat garam di pesisir utara Jawa gagal panen, pemilik tambak udang Indramayu terkena abrasi. Belum lagi menghitung berapa puluh ribu orang yang kehi­langan tempat tinggal akibat banjir dan longsor. Ini hanyalah sebagian contoh.

Laporan kedua Panel Ahli untuk Perubahan Iklim (IPCC) April 2007 mencatat bahwa kenaikan rata-rata suhu tahunan di Indonesia antara 1970-2004 mencapai 0,1-1 derajat celcius. Sedikit kenaikan suhu ini saja, sudah menyebabkan rantai perubahan yang berujung pada penurunan produksi pangan, meningkatnya gizi buruk, ­mengubah pola distribusi hewan dan serangga, meningkatkan berbagai penyakit dan merusak daerah pesisir pantai.

Filosofi Back To Nature

Resiko yang dihadapi Indonesia terlalu besar jika tetap mengabaikan alam. Usaha menjaga alam pun dilakukan lewat mekanisme internasional se­perti komitmen dalam Protokol Kyoto. Desember ini Indonesia menjadi tuan rumah dari Conference of Parties (CoP) ke-13 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Di tingkat lokal Kementrian Negara Lingkungan Hidup membuat Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Payung hukum konsep restorasi ekosistem dibuat oleh Kementrian Kehutanan. Berbagai LSM pun giat mengkampayekan bahaya dari pemanasan global.

Yang perlu dicermati adalah bagaimana proses penyadaran filosofi kembali ke alam ini bisa dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Mulai dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan negosiator antar negara, sektor usaha yang kerap mengabaikan pelestarian lingkungan demi keuntungan ekonomi, masyarakat kota yang terlanjur mengenal gaya hidup boros energi, sampai pada lapisan masyarakat bawah yang tidak mengerti apa-apa, tapi paling justru rentan akan dampak kerusakan lingkungan.

Filosofi yang membela alam tak bisa lagi dipandang sebagai penghambat kemajuan ekonomi, tapi justru me­nyelamatkannya.

Untuk bisa memerintah alam, kita perlu ikut aturan mainnya. (Lisa Suroso/SUARA BARU) Photo&Digital Imaging: Lisa Suroso

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s