Tangkahan, Saksi Pertobatan Para Illegal Logger

Standard

tangkahan1.jpgSeh Ukur Depari pernah dikenal sebagai penebang kayu ilegal. Ratusan ton batang kayu dari hutan Tangkahan-Sumatera Utara, rebah di tangannya. Tapi kini ia lebih dikenal sebagai aktivis Lembaga Pariwisata Tangkahan. Mewartakan pentingnya kelestarian hutan untuk mencegah pemanasan global, sekarang menjadi tujuan hidupnya.

Matahari senja hampir hilang dibalik pepohonan, ketika sekelompok manusia muncul bersama lima ekor gajah dari balik hutan. Mereka baru saja menyelesaikan perjalanan tiga jam melintasi hutan Tangkahan yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebuah suaka alam tropis terbesar dan terkaya di dunia yang dihuni 4000 spesies tumbuhan, mamalia, burung, ikan, amphibi hingga invertebrata, termasuk 15 jenis tanaman langka se­perti bunga Rafflesia.

Perjalanannya cukup unik. Mereka digendong oleh gajah-gajah itu sambil mendengarkan celotehan informatif para ranger (pemandu hutan) dan mahout (pelatih gajah), tentang berbagai macam spesies yang mereka jumpai di perjal­anan.

Siapa yang menyangka, bahwa para ranger itu dulunya adalah para pembalak liar hutan itu.

Apa yang mengubah hidup mereka? “Ceritanya cukup panjang,” tutur Seh Ukur Depari. Pria 51 tahun itu memulai kisah dengan sejarah keluarga yang sudah menjadi pembalak sejak zaman kakeknya hidup. Bagi kebanyakan masyarakat Desa Sungai Serdang dan Desa Namo Sialang kala itu, hidup di pinggiran hutan Tangkahan bagai hidup bersama harta karun. Berbagai macam pohon besar yang tumbuh dianggap milik Tuhan yang bebas diambil. Apalagi permintaan kayu gelondongan cukup tinggi. Bermodal gergaji, kampak, dan seekor kerbau, mereka menebang pohon-pohon besar dan memotongnya. Kerbau akan menarik kayu-kayu itu melalui jalan yang sudah disiapkan sebelumnya, untuk lalu dihanyutkan di Sungai Batang Serangan. “Bekas jalan itu sekarang menjadi rute trekking,” paparnya.

Cukup lama Ukur Depari berprofesi sebagai pembalak liar. Dalam sehari ia bisa memperoleh pendapatan sebanyak Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.000,- dari cukong-cukong yang membeli kayunya di daerah Tanjung Pura. Namun kegiatannya terhenti ketika di tahun 1986 ia tertangkap dan masuk penjara. Selama dua tahun mendekam, tabungannya ludes. Mulailah ia memikirkan masa depan ketiga anaknya. “Saya tidak ingin anak-anak mengalami apa yang saya alami.” Ia pun banyak merenungkan akibat dari perbuatannya.

Akhirnya pada tahun 1989 ia bertekad mengubah desanya untuk tidak lagi hidup mengandalkan hasil membalak. “Memang mudah mendapatkan uang dari hasil membalak. Tapi berapa lama lagi hutan akan kuat menanggung kebutuhan hidup kami? Lama-lama hutan akan habis,” katanya. Bersama dengan teman sesama pembalak, Njuhang Pinem, mereka mencetuskan ide untuk membuat tempat wisata berbasis lingkungan dan mengembangkan pertanian rakyat.

Ide ini memang cemerlang. Tapi bukan tanpa rintangan. Lambat laun wisata Tangkahan mulai berkembang, tapi aktivitas pembalakan tetap berjalan. Beberapa warga yang masih membalak bahkan sempat memusuhi mereka. Masalah lain juga timbul. Walaupun jumlah wisatawan yang hadir pernah mencapai 7000 orang dalam satu hari, premanisme bermunculan dan sampah bertebaran dimana-mana. Tapi masalah tidak menghentikan tekad mereka.

Melalui para pemuda, dibentuklah organisasi pemuda Simalem Ranger yang bertukar informasi dan ilmu dengan mahasiswa pecinta alam. Mereka bertekad untuk belajar mengobservasi, mengkonservasi dan berlatih SAR ().

Akhirnya di tahun 2001, digelar Kongres Desa yang berhasil menyepakati Peraturan Desa untuk melarang setiap ak­tivitas eksploitasi hutan dan satwa secara illegal, sekaligus melahirkan lembaga yang mengatur pengelolaan ekowisata, yaitu Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).

Tangkahan pun berseri kembali. Hutan menghijau. Ber­bagai fasilitas wisata dirancang. Mulai dari trekking (menyusuri) hutan, tubbing (menyusuri sungan dengan ban), kem­ping, mengamati burung, dan lain sebagainya. Tangkahan memang berpotensi sebagai tempat wisata. Ia dibelah dua sungai jernih berwarna kehijauan. Ada sebelas air terjun, beberapa diantaranya di pinggiran sugai. Dua sumber air panas dan gua kelelawar memancing wisatawan. Pantai kupu-kupu dan bunga raflesia juga menjadi daya tarik. “Dengan ekowisata, hutan dan alam terjaga, tidak akan pernah habis. Kami juga dapat uang dari keindahan hutan,” katanya.

Pada 2002, MoU dengan TNGL pun disepakati untuk menyerahkan pengelolaan 17.500 ha kawasan Tangkahan pada desa setempat.

tangkahan2.jpgSemangat masyarakat pun bertambah ketika Fauna dan Flora Internasional (FFI), sebuah organisasi konservasi, membentuk Conservation and Response Unit (CRU). CRU membuat program dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut menjaga alam yang juga sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Salah satu programnya adalah pelatihan gajah liar untuk mengatasi konflik gajah dan manusia yang meruncing di Sumatera. Melalui CRU, dilakukan juga pelatihan-pelatihan intensif kepada para ranger dan mahout. Pelatihan ini tidak main-main. Banyak pelatih didatangkan dari luar negeri. Bahkan dalam waktu dekat empat orang mahout akan mendapat latihan khusus di Australia. Karena itu mereka juga dibekali dengan keahlian berbahasa inggris.

LPT adalah sebuah contoh nyata mengenai pengelolaan kawasan konservasi yang mengikutsertakan masyarakat. Hal ini pernah dicanangkan Kongres Taman Nasional Dunia (World Parks Congress/WPC) Ke-5 di Durban, Afrika Selatan pada September 2003. Salah satu keputusannya adalah melibatkan masyarakat sekitar kawasan konservasi, dalam pengelolaan kawasan konservasi itu, serta memanfaatkan keberadaan kawasan konservasi untuk mengentaskan masyarakat sekitarnya dari kemiskinan.

Apa yang terjadi di LPT tidak hanya membawa manfaat bagi pelestarian hutan, namun juga memajukan masyarakat sekitarnya. Wahdi Azmi dari FFI menuturkan bahwa hutan Tangkahan kembali lebat dan sehat. Konflik hewan dan manusia pun menurun. ”Kasus pembalakan liar di Tangkahan kini nol. Tidak ada sama sekali,” katanya. Masyarakat pun memperoleh manfaat ekonomis. Ukur Depari manyatakan bahwa tiap tahun jumlah wisatawan yang datang meningkat 100%. ”Di tahun 2006-2007 bahkan mencapai 200%,” senyumnya puas. Para pemuda juga mendapatkan kesem­patan baru dalam hidupnya. ”Bila tidak ada ekowisata, mana mungkin kami bisa dapat kesempatan belajar sampai ke luar negeri?” sambungnya. Beberapa diantara mereka bahkan memperistri wanita asing.

Juni 2007 lalu, LPT dan FFI menggelar Konferensi Rakyat Pedesaan Leuser yang bertujuan membuat gelombang lahirnya gerakan ekologis nasional melalui solidaritas horisontal seluruh penduduk desa yang berbatasan dengan sumber daya alam. Dalam acara yang melibatkan perwakilan dari 60 desa sekitar TNGL ini, direkomendasikan terwujudnya kelompok masyarakat yang membantu pengamanan hutan sekaligus meningkatan pendapatan masyarakat dan memulihkan kearifan lokal. Target mereka pada 2009, konferensi yang sama akan melibatkan seluruh Sumatera dan menjadi contoh nyata ke seluruh Indonesia.

Dengan pengelolaan partisipatif semacam ini, konservasi menjadi dambaan warga sekitar. Masyarakat yang diberdayakan secara aktif memiliki sense of belonging yang tinggi. Mereka bukan lagi sekedar penonton atau pihak yang ’diperdaya’. Dengan mengakui hak dan kepentingan mereka sebagai pemangku alam, rasa tanggung jawab muncul. Terjadilah sinergi atas kelestarian lingkungan dan peningkatan kemakmuran rakyat.

Bila seluruh hutan Indonesia mengalami nasib baik seperti ini, pasti Indonesia tidak akan duduk di peringkat ketiga dunia sebagai penghasil emisi terbesar dari pengalihan fungsi hutan.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Photo: Eric Satyadi

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s