Carbon Trading: Godaan Trend Bisnis Milyaran Dollar

Standard

Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, carbon trading atau perdagangan karbon sudah memutar milyaran dollar AS di pasar karbon. Sebuah tren bisnis baru dengan semangat menjaga lingkungan atau upaya cuci dosa?

Perdagangan karbon muncul setelah Protokol Kyoto yang melibatkan 169 negara mengikat secara hukum di tahun 2005. Perjanjian ini mewajibkan negara industri mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mereka seba­nyak 5,2% di bawah kadar yang mereka lepaskan pada tahun 1990 dalam kurun waktu 5 tahun (mulai 2008-2012).

Setelah melalui perdebatan panjang, Protokol Kyoto menyetujui tiga mekanisme lentur untuk membantu negara industri menekan emisi, yaitu: Implementasi Bersama (Joint Implementation/JI), Perdagangan Emisi (Emission Trading/ET) dan Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism/CDM). (Lihat Boks)

Di bawah peraturan Protokol Kyoto inilah pasar karbon terbesar di dunia lahir. Secara sederhana, laju emisi gas rumah kaca yang dihasilkan, bisa diturunkan dengan cara membeli kredit karbon atau membayar proyek yang me­ngurangi, menetralisir atau menyerap emisi gas rumah kaca, melalui lembaran sertifikat semacam surat berharga yang beredar di pasar karbon. Karbon disini merujuk kepada enam gas rumah kaca yang dianggap mempunyai peran besar dalam pema­nasan global, yaitu karbondioksida (CO), metana (CH), nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs) dan sulfur hexaflourida (SF6).

Sejak upaya penurunan emisi gas rumah kaca menjadi kewajiban, bisnis karbon tumbuh menjadi sebuah komoditas baru yang sangat menjanjikan. Tingginya permintaan kredit karbon dari negara industri diikuti dengan tren kampanye pemanasan global yang telah menggaet Nobel dan Piala Oscar, membuat sertifikat karbon ini laris manis.

Mulai dari perusahaan-perusahaan di negara Eropa yang terikat perjanjian, bank besar macam HSBC yang menyatakan diri ‘carbon neutral’ dengan mengalokasikan 7 juta dolar AS dalam pasar karbon, sampai Grup Rolling Stones yang membeli kredit secara sukarela demi menjaga image.

Sebuah agen perjalanan di Inggris bahkan menciptakan kalkulator online yang bisa menghitung berapa banyak CO2 yang kita hasilkan selama perjalanan dengan pesawat. Kalkulator ini terhubung dengan salah satu pusat manajemen karbon yang menggelitik niat baik penumpang untuk mengganti emisi mereka dengan harga 4,5 poundsterling per ton karbon.

Barclays Capital, salah satu perusahaan investasi terbesar di Inggris, menyatakan bahwa perdagangan karbon bisa menjadi perdagangan terbesar di dunia dengan ET sebagai segmen tercepatnya. Transaksi mereka sudah mencapai 30 milyar dollar AS. Kini mereka menargetkan 1 triliun dollar AS dalam 10 tahun mendatang.

Deutsche Bank menyatakan bahwa usaha mencegah pemanasan global sudah menjadi sebuah kesempatan investasi megatren yang menggoda. “Percaya atau tidak, pasar-pasar investasi telah diciptakan dan investasi ini akan tumbuh secara signifikan sampai 20-30 tahun yang akan datang,” kata Mark Fulton, Kepala Strategic Planning and Climate Change Strategist Deutsche Bank. Bank ini sudah menarik 6 milyar euro dalam transaksi karbon dan memprediksi transaksi sebesar 60 milyar euro per tahun akan menguasai pasar karbon Eropa di tahun 2013.

Para pemain besar perdagangan karbon itu pun memancangkan kaki di Indonesia. Tapi karena Indonesia adalah negara berkembang, mekanisme perdagangan karbon ala Protokol Kyoto yang bisa diterapkan adalah melalui CDM atau Mekanisme Pembangunan Bersih (lihat boks). EcoSecurities misalnya, yang dinyatakan sebagai perusahaan carbon trading terbaik 2006, membuka kantor cabangnya di Indonesia tahun lalu. “Idenya adalah memberi nilai moneter dalam usaha perbaikan lingkungan,” kata Agus P. Sari, Country Director Ecosecurities Indonesia. “Konservasi lingkungan dianggap biaya dan beban selama ini. Dengan mekanisme CDM, pengelolaan lingkungan menjadi aset berharga.”

Ecosecurities bekerjasama dengan peternakan sapi Aust­Asia Lampung Bekri. Limbah kotoran sapi dibuatkan instalasi pengolahan dengan sistem bilas ke kolam fermentasi yang diperkirakan menurunkan emisi 25.000 ton CO2e per tahun, atau setara dengan 25.000 lembar sertifikat karbon. Pemilik peternakan sudah terikat penjanjian untuk menjual sertifikat dengan harga kesepakatan. Sertifikat ini akan dijual lebih tinggi di pasar karbon oleh Ecosecurities.

Saat ini sedikitnya ada 24 proyek berbasis CDM yang telah disetujui Komnas CDM dan telah diverifikasi serta divalidasi badan validator independen yang ditunjuk PBB.

Proyek-proyek ini menyangkut sektor energi alternatif seperti kompor tenaga matahari yang diajukan PT. Petromat Agrotech, biogas yang diolah PT. Indotirta Suaka Bulan dari kotoran babi, listrik yang dihasilkan dari pengelolaan sampah kota Pontianak yang dilakukan PT. Gikoko Kogyo Indonesia atau proyek pembangkit listrik mikrohidro yang diinvestasikan PT. Indonesia Power dan PT. Fajar Futura. Dari proyek-proyek CDM ini, Indonesia bisa meraup laba antara 81,5 juta sampai 1,26 milyar dollar AS.

Indonesia juga giat melirik pasar karbon sukarela atau vo­luntary carbon market, untuk proyek-proyek yang tidak bisa masuk ke pasar dengan skema CDM. Seperti yang dilakukan Kabupaten Manilau-Kalimantan Timur dan Yayasan Borneo Tropical Rain Forest, yang memasukkan kawasan hutan lin­dung seluas 325.041,6 hektar pada kesepakatan dengan Global Eco Rescue, dengan harga 1 euro per hektar.

Kabar gembira? Tunggu dulu. Carbon trading memang menggoda. Namun perlu diingat bahwa mekanisme ini diciptakan untuk memperbaiki efek pemanasan global, bukan sekedar bisnis yang ujung-ujungnya duit, apalagi membuat diri merasa bersih setelah mencuci dosa dengan cara membayar. **

carbon-market.jpgBerbagai Macam Pasar Karbon
Perdagangan emisi (Emission Trading-ET)
adalah sistem transaksi yang mengijinkan negara maju/industri saling membeli atau menjual kredit karbon untuk memenuhi kewajibannya. Karena terikat kewajiban dalam Protokol Kyoto, maka setiap negara maju/industri mempunyai batas total emisi GRK yang boleh dihasilkan dalam satu tahun. Bila ia tidak bisa memenuhi kewajibannya, maka ia diperbolehkan membeli kredit emisi dari negara maju/industri lain. Dengan demikian total emisi gas rumah kacanya dikurangi kredit karbon yang ia beli, sehingga impas dengan kewajibannya. Sebaliknya bila berhasil menekan total emisi gas rumah kaca di bawah yang diwajibkan, ia boleh menjual kelebihan kredit karbonnya itu pada negara maju/industri lain. Mekanisme ini melahirkan European Union Emission Trading Scheme (EU ETS) yang melibatkan semua negara Uni Eropa dan kini menjadi skema perdagangan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Kredit yang ditransaksikan disebut European Union Allowance (EUAs) dimana pada 2006 lalu sudah menghasilkan 24,357 miliar dollar AS.

Implementasi bersama (Joint Implementation-JI), mengijinkan negara maju/industri memperoleh kredit karbon melalui proyek-proyek yang menurun­kan emisi gas rumah kaca, bersama negara maju/industri lainnya. Emisi yang diturunkan dalam JI dihitung dengan satuan Emission Reduction Unites (ERUs). Tahun 2006 lalu transaksi JI mencapai 141 juta dolar AS.

Mekanisme Pemba­ngunan Bersih (Clean Development Mechanism-CDM), adalah transaksi ber­basis proyek yang dilakukan negara maju/industri di negara miskin/berkembang. CDM adalah satu-satunya mekanisme Protokol Kyoto yang melibatkan negara berkembang. Setiap upaya penurunan emisi yang setara dengan satu ton karbon akan diganjar satu Certified Emissions Reductions (CERs). Transaksi pertama dari pemilik kredit kepada pembeli disebut Primary CDM. Pada 2006, transaksi Primary CDM meraih 4,8 milyar dollar AS. Kredit dalam pasar Primary CDM ini sebagian dijual kembali dengan sebutan Secondary CDM. Total nilai transaksinya 444 juta dollar AS. Harga rata-rata CER tahun 2006 adalah 10,90 dolar AS per sertifikat.

Selain pasar karbon yang terikat dibawah peraturan Protokol Kyoto, muncul sebuah pasar karbon lain yang dinamakan Voluntary Carbon Market atau pasar karbon sukarela. Dalam pasar kabon sukarela, pembeli/penjual berinisyatif membeli/menjual sertifikat kredit karbon bukan karena kewajiban, namun karena alasan-alasan lain seperti menjaga image dan kredibilitas, sebagai investasi untuk dijual kembali, strategi pemasaran, antisipasi akan peraturan di masa depan, penyelarasan perusahaan dengan agenda corporate social responsibility (CSR) atau memang ingin berpartisipasi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dunia. Pembeli disini bisa peme­rintah, perusahaan, organisasi, sampai perorangan. Pasar karbon sukarela dibagi menjadi dua pasar utama, yaitu The Chicago Climate Exchange (CCX) yang sifatnya sukarela tapi mengikat dan pasar Over The Counter (OTC) atau voluntary offset market dimana sifatnya sukarela sekaligus tidak mengikat. Kredit yang beredar di pasar OTC disebut Verified Emission Reductions (VERs). Transaksi yang dihasilkan dari Voluntary Carbon Market tidak bisa dianggap sepele, yaitu mencapai 91 juta dolar AS pada 2006. (Lisa Suroso/SUARA BARU)

12 responses »

  1. info yang bagus. Dan saya mendapat info bahwa rakyat indonesia akan mendapatkan keuntungan. Apakah kita bisa secara pribadi?

  2. Bisnis karbon terlihat menggiurkan, ibarat iklan suatu bisnis/produk TERTENTU yang bisa membuat orang jadi kaya mendadak. Ini adalah bisnis politik tingkat tinggi dari negara maju untuk mempertahankan eksistensi indutriinya yang terbukti mengemisi karbon ke udara. Dengan promosi semacam ini tentu membuat negara berkembang/miskin akan berbesar harapan padahal kenyataannya nanti “nol besar”. Memang akan ada transaksi tapi tidak signifikan. Mereka akan lebih mementingkan membeli karbon di negaranya atau dalam kelompoknya sendiri. Contoh nyata dalam bisnis lokal seperti, tanaman hias JEMANI; Cacing tanah: jangkrik, dll. Awalnya promosi sangat menjanjikan, namun kemudian banyak rakyat kecil yang bangkrut karena barangnya tidak laku, harganyapun jauh dibawah biaya produksi. Semua ini adalah ulah calo/produsen yang dengan mudah mempermainkan emosi rakyat yang sedang kebingungan. Untuk menyelamatkan dunia dari pemanasan global, pengurangan emisi karbon adalah suatu yang POSITIF, tetapi harus transparan, dimulai dari negara maju/industri, secara signifikan mengurangi emisi karbon sampai pada tingkat yang aman. Negara berkembang terus berupaya merehabilitasi hutan yang telah rusak sebagai upaya untuk meningkatkan produksitifitas lahan/hutannya; mencegah erosi dan banjir dan melindungi keragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebaiknya Kompensasi emisi karbon dari negara maju/industri yang masih di atas ambang/kuotanya digunakan untuk membantu secara langsung kepada negara berkembang untuk mengoptimalisasikan lahan/hutan agar produktif dan lestari sehingga secara tidak langsung karbon dapat tersimpan, mencegah pemanasan global, mencegah erosi/banjir, keragaman hayati aman, masyarakat sejahtera, dan lingkungan hidup terjaga. Mekanisme ini kayaknya lebih pas dari pada jual-beli karbon melalui mekanisme pasar yang pada umumnya DIKUASAI oleh broker/calo yang umumnya merugikan penjual. Untuk itu pemerintah harus hati-hati untuk bertindak, pelajari dulu intrik-intriknya, jangan sampai merugikan kita bangsa Indonesia. Kita tunggu perkembangannya !!..

  3. Dear Lisa..

    Bolehkah saya minta tolong dijelaskan mengenai cara penjualan CDM itu sendiri bagaimana, apakah dapat dialihkan secara fisik saja atau harus dengan akta?
    Pihak2 manakah yang terkait dalam penjualan CDM tersebut? Dan siapa saja yang dapat menjadi pemilik hak dari CDM itu sendiri? Apakah dapat dimiliki secara perorangan?

    Terima kasih sebelumnya.. n_n

  4. Dear Lisa……
    Mohon dapat dijelaskan bagaimana cara menghitung conversi CDM dari PLTMH (contoh dengan kapasitas 300 kW, berapa CER nya ?). Saat ini di banjarnegara sudah keluarkan izin prinsip pembangunan PLTMh sebanyak 19 IPP).
    Terima kasih sebelumnya . Kun

    • Pak Kun,
      apa bapak sudah mendapat jawaban dari pertanyaan bapak di atas?
      Kalau bapak sudah ada cara penghitungannya, bisakah saya dibagi? karena saya ada prspek proyek PLTMH 2 MW di Sulawesi.
      Jawaban bapak saya tungu,
      Terima kasih

  5. Kami adalah kelompok pemuda WANAGIRI KAUH, Selemadek Tabanan Bali, mengajak semua elemen masyarakat di bali khususnya untuk menanam pohon bagi kesejahteraan masa depan kita bersama sambil ikut serta meminimalisasikan Global Warming yang saat ini sudah kita rasakan panasnya.
    Wanagiri Kauh comunities tergerak untuk berinvestasi jangka panjang dengan menanam tanaman kayu industri dan buah buahan seperti (Albesia,Jempinis,Mahoni,Jabon,Jati solomon,Durian montong dan Manggis) untuk keperluan kita bersama yang ada dibali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.Mari kita laksanakan dan turut berpartisipasi dalam gerakan One man One Tree yang di galakkan pemerintah atau lembaga Peduli Lingkungan.
    Jika para pembaca ingin menghubungi kami bisa mengirim email ke:
    ekobaliwood@gmail.com or ekobaliwood@yahoo.com

  6. Mas yanto

    OTC Sudah jelas sifatnya voluntary
    Yang saya tau ada dua tahapan untuk mendapatkannya :
    1. verifikasi dokumen sesuai peraturannya misal energy fosil untuk membangkitakn energi listrik di ganti keberadaanya dengan bahan yang renewable energy (metodologi ACM0002 pada bukuDM Metodolgy booklet) dan yang memverifikasi adalh konsultan/ auditor independen
    2. melaksanakan validasi social carbon meliputi ekonomi, social, kemasyarakatan juga dilaksanakan oleh auditor independen. (ini merupakan faktor daya tarik tambahan yang sangat berarti bagi pembeli)

    kemudian data yang sudah vlaid dan sudah dapat perhitungan
    VCU nya akan dipasarkan oleh trader yang kita ajak kerja sama.

    mungkin ada yang melengkapi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s