DICARI! Idealis yang Mau Berkotor-kotor

Standard

Kaum muda diharapkan bisa lebih banyak berperan dalam ajang Pemilu 2009. Konon belum ada yang mampu menyaingi popularitas Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati. Tanya Kenapa?

”Dibutuhkan sosok muda idealis yang mau berkotor-kotor dengan urusan organisasi dan politik.” Kalimat ini tercetus dalam sesi diskusi yang digelar oleh Perhimpunan INTI DKI Jakarta, pertengahan Februari 2008.

Keadaan dimana kekhawatiran akan bangkitnya romantisme Orde Baru -ditengah keprihatinan masyarakat terhadap kinerja institusi demokrasi seperti partai politik (parpol) yang dianggap tak menentu dan masih terperangkap dalam struktur oligarkis- menimbulkan krisis kepercayaan terhadap satu-satunya instrumen demokrasi yang punya kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan terhadap rakyat.

Diskusi ini melibatkan Hanif Dhakiri (Mantan Wasekjen PKB), Yudie Latif (Paramadina), Indra J Piliang (CSIS), Arie Sujito (Sekjen Pergerakan Indonesia), Budiman Sujatmiko (PDIP/Repdem), Mahfud Sidik (Ketua Fraksi PKS), Nurul Arifin (Artis/Golkar), Faisal Reza (Respublica Institut), Ulung Rusman (INTI) dan Hartono Sosrodjojo.

Semuanya adalah tokoh muda yang aktif di organisasi, mulai dari pergerakan mahasiswa di tahun 1998 sampai reformasi bergulir yang kemudian menghantarkan sebagian dari mereka untuk berkiprah di partai politik.

Menjelang pemilu 2009 ini, sesungguhnya masyarakat mengharap kaum muda bisa berkiprah lebih banyak. Dari hasil pilkada di mayoritas daerah, bisa dilihat kecenderungan rakyat untuk memilih pemimpin yang sama dengan sebe­lumnya menurun drastis. Banyaknya pejabat lama yang kalah dalam ajang pemilihan kepala daerah merupakan penolakan massa terhadap kekuatan status quo dan kerinduan untuk memiliki pemimpin baru.

Namun di sisi lain, masyarakat juga mempertanyakan kelanjutan dari reformasi 1998 yang dimotori kaum muda. Generasi ini ternyata dianggap gagal melahirkan tokoh muda yang menonjol. Pemuda yang dulu sangat aktif bersuara dan menjadi oposisi kini menghilang atau bahkan bergabung dalam barisan pembela elite yang berkuasa, yang ironisnya, tidak menghasilkan perubahan berarti selama sembilan tahun terakhir.

Hampir satu dekade reformasi bergulir, tak muncul sosok baru yang bisa mengimbangi elite politik yang sudah mapan. Dari hasil survai sebuah surat kabar terkemuka, masyarakat pesimis akan ada tokoh baru yang mampu menandingi sosok Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri dalam pemilu 2009 nanti.

Potensi sangat besar sebenarnya dimiliki kaum muda. Tapi kaum muda masih terganjal oleh tidak adanya intrumen dan infrastruktur khusus yang disediakan oleh negara untuk meng­akomodir agar para pemuda bisa tampil ke depan. Di tubuh parpol banyak kaum muda dengan potensi, visi, dan kompetensi yang melebihi rata-rata, tapi langkah mereka terbentur oleh sistem senioritas yang ternyata masih mengakar.

Kenyataan ini merupakan sebuah self-critics bagi kaum muda sendiri, yang masih sering terjebak dalam entitas imajinasi dan “entititas niat baik” yang berujung pada stagnansi dan ketidakmampuan menaikkan pemimpin dari kalangan mereka sendiri, ketika berhasil mengambil alih kekuasaan. Pada akhirnya kekuasaan tersebut kembali jatuh kepada figur-figur yang ’dituakan’.

Selain masalah di atas, terdapat fenomena adanya partikasi (bukannya demokrasi) dan klan-klan baru di dalam tubuh partai politik yang ada sekarang -sehingga melahirkan kompetisi tak sehat yang menipiskan kesempatan bagi kaum muda. Ini mengakibatkan kendali terhadap orang-orang di badan eksekutif dan legislatif, bukan berada pada sistem itu sendiri, tapi berada di kelompok oligarkis yang ada di eksekutif partai. Kultur birokrasi lama yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme masih kuat terpancang dan menjadi salah satu alasan kuat mengapa generasi senior enggan menyerahkan tongkat estafetnya.

Inilah mengapa pemuda harus terjun ke kancah kepemim­pinan baik melalui jalur non-partai, bergabung dengan partai yang sudah ada atau mendirikan partai sen­diri, yang kemudian dikembangkan berakar pada masyarakat bawah atau grassroot level.

Mengembangkan akar pada masyarakat dinilai krusial saat ini agar pemuda tidak terjebak pada kepentingan jarak pendek, yaitu hanya berpikiran bagaimana memenangkan pemilu berikutnya, yang tentu saja tidak berhubungan sama sekali dengan visi-misi, platform, dan ideologinya.

Selain kendala-kendala di atas yang gagal dilakukan kaum muda pasca-reformasi, pemuda juga dihadapan dengan tiga kontradiksi kultur dalam kehidupan mereka kini.

Pertama pragmatisme vs visi yang membuat orang jadi kehilangan kemampuan memandang dalam jangka panjang.

Kedua, individualitas vs solidaritas.

Ketiga, adalah moral konsumtif vs produktivitas yang membuat kita hanya bisa menkonsumsi simbol, baik dalam segi ekonomi maupun ideologi.

Untuk melawan itu, kaum muda perlu memiliki perangkat perjuangan, yaitu rumusan prespektif ideologi yang lebih jelas dan matang, memperkuat diplomasi politik, pada kelompok strategis, perorganisasian massa di jaringan yang kuat, praktik dan model kaderisasi yang sistematik, dan membuat peta jalan (road map) dan rute perjuangan serta mampu menggagas kembali apa yang disebut sebagai bangsa Indonesia dengan beribu bunga keragaman dan kebersamaan.

Dengan demikian akan tercipta sebuah reformasi mitos, yang menghilangkan status berdasarkan kesukuan atau gol­ongan serta membangun berdasarkan etos kerja, yaitu berdasarkan kontribusi objektif yang diberikan pada masyarakat. (Lisa Suroso-TB Heckman/SUARA BARU)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s