Meratakan Jalan Sang Calon Presiden

Standard

Tokoh-tokoh politik makin memantapkan posisi untuk maju di pemilu 2009, dengan sejumlah strategi. Mulai dari silaturahmi sampai saling adu image. Jangan lupakan strategi menghimpun modal parpol.

Dinamika politik terkait dengan Pemilihan Umum 2009 mulai mencuri perhatian publik. Munculnya partai dan beberapa figur baru dalam bursa calon presiden, membawa angin segar dalam dinamika politik nasional. Sebaliknya, partai beberapa tokoh politik berwajah lama makin memantapkan posisi mereka untuk maju di Pemilu 2009, dengan sejumlah strategi.

Sebut saja Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang sudah memulai strategi mereka dengan membangun Koalisi Kebangsaan yang dideklarasikan di Medan pada 20 Juni lalu. Koalisi ini bisa dibilang sebagai strategi bersama kedua partai pemenang Pemilu 2004 itu untuk meraup suara yang lebih banyak lagi pada pemilu legislatif nanti.

Aksi ini memicu beberapa partai Islam, Partai Demokrat, dan Partai Damai Sejahtera (PDS) berencana membentuk koalisi juga. Meski tidak bersifat tandingan, rencana koalisi antar parpol mampu membuat situasi politik nasional waktu itu memanas.

Poco-POCO, UNDUR-UNDUR dan DANSA-DANSI Calon Presiden

Beberapa tokoh politik secara terbuka memasukkan nama mereka dalam bursa calon presiden 2009.

Upaya untuk mendongkrak popularitas pun ditempuh, seperti yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), Wiranto, maupun Sultan Hamengku Buwono X. Mereka terlihat berusaha mendekati rakyat dengan caranya masing-masing.

Mayoritas rakyat mencium aroma persaingan politik dari tokoh-tokoh itu untuk merebut hati. Upaya kampanye diri, mulai dari cara yang paling halus, seperti peluncuran album lagu, iklan kepedulian sosial di media massa, silaturahmi, safari ke daerah, hingga pernyataan terbuka melalui deklarasi politik, menandai kian hangatnya suhu politik menuju perebutan kekuasaan.

“Perang terbuka“ saling serang image pun dimulai. Belum lama ini, dalam safarinya ke beberapa daerah guna menggalang dukungan akar rumput, Megawati melontarkan kritik pedas terhadap kinerja pemerintahan SBY-JK yang dikatakannya seperti poco-poco. Ejekan ini segera dibalas staf SBY yang menyatakan kinerja Mega bak undur-undur.

Tak ketinggalan JK juga berkomentar bahwa poco-poco lebih bagus daripada “dansa-dansi sembari menjual gas alam yang murah.“ Komentar JK ini agaknya dimaksudkan menohok pemerintahan Megawati yang mengklaim diri nasionalis, tapi faktanya pro-Barat, antara lain ditandai dengan kebijakan energi yang menguntungkan pihak asing.

Sebelumnya Wiranto sebagai ketua umum Partai Hanura memasang iklan tentang kemiskinan di media cetak, televisi, dan radio. Di iklan itu rakyat diajak mengatasi kemiskinan yang mencapai angka 49%.

Tak lama SBY pun menampik ‘tuduhan‘ itu dengan himbauan untuk tidak mencela yang bekerja siang-malam dan menyatakan bahwa angka kemiskinan hanya 16,5% saja.

Sementara itu Sutiyoso mulai berkampanye dengan membuka Turnamen Bulu Tangkis Piala Bang Yos 2008 di Pasuruan. Ia minta masyarakat yakin terhadap pencalonannya.

Melumasi Mesin Uang

Merupakan hal yang lumrah bila menjelang pemilu, pasar modal akan menjadi mesin uang para politikus. Bagaimanapun, diperlukan uang tak sedikit untuk memperlancar langkah di 2009. Proses melumas mesin uang disinyalir sudah terjadi.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky berkomentar bahwa pola berburu uang di bursa oleh sejumlah parpol dan politisi sudah dimuai sejak tahun kemarin. Ia mempersoalkan indikasi adanya dana politik yang bermain di saham. Hal ini terlihat pada nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia, yang tahun lalu naik tajam dari Rp1,8 triliun ke Rp 4,4 triliun. Tapi jumlah investor hanya naik sekitar 25 ribuan.

Sementara itu berkembang dugaan beberapa pihak, bahwa sejumlah parpol sudah mulai mengincar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan cara menempatkan orang-orangnya untuk menjadi Direktur Utama (Dirut). Sejumlah BUMN yang kini tengah menjadi incaran diantaranya Dirut Perum Perhutani dan Dirut Bank BNI.

Namun hal ini dimentahkan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil yang menjelaskan bahwa pemberhentian kedua direksi Perhutani oleh Dewan Pengawas sudah sesuai standar good corporate governance sehingga tidak melanggar aturan dan didukung pemegang saham.

Rapat Komite Privatisasi yang dipimpin Menko Perekonomian, Boediono, akhir Desember 2007 lalu, memutuskan untuk mempercepat privatisasi sejumlah BUMN di tahun fiskal 2008. Tercatat 28 BUMN akan gencar dilego pemerintah lewat Sofyan Djalil.

Di bawah komando Sofyan, privatisasi nyaris tanpa kritik. Suara sumbang yang mengatakan privatisasi BUMN sama dengan menjual negara, nyaris tak terdengar. Situasi itu berbeda dengan era Menneg BUMN sebelumnya.

Adalah Indonesia Corupption Watch (ICW) yang lalu menyalaki rencana privatisasi puluhan BUMN ini. Dalam perspektif korupsi, ICW menilai, rencana privatisasi BUMN kental dengan nuansa jelang Pemilu 2009. Maksudnya? Rencana penjualan aset BUMN bisa menjadi potensi sokongan dana ilegal untuk peserta pemilu.

Menurut Koordinator Bidang Info Publik ICW, Adnan Topan Husodo, Privatisasi BUMN, adalah sumber dana politik. Ketika pemegang jabatan pada salah satu BUMN kebijakannya tidak sejalan dengan ide privatisasi, pergantian pimpinan BUMN secara tiba-tiba adalah sebuah keniscayaan. Adnan mengambil contoh kasus pencopotan direktur Pembangkitan dan Energi Primer PLN, Ali Herman Ibrahim, baru-baru ini. Alasan pencopotan Ali yang semata lantaran PLTU Jantung Jati kekurangan stok batubara, dinilainya mengada-ada.

Pergantian direksi suatu BUMN secara tiba-tiba adalah pembuka jalan masuknya para penghubung antara BUMN dan suatu kekuatan politik. Dengan menginfiltrasi tubuh BUMN, partai politik mudah memperoleh dana-dana segar sebagai tabungan menuju pertarungan politik pada Pemilu 2009.

ICW mencatat, korupsi di tubuh BUMN terbilang sedikit, namun kerugian negara yang ditimbulkan sangat besar.Selama kurun waktu 1998 hingga 2007, tercatat tujuh dari 82 kasus korupsi terjadi di tubuh BUMN. Namun, dari tujuh kasus itu, jumlah kerugian negara mencapai Rp. 377,6 miliar.

Hal ini diamini Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Siddi. Ia tak menampik anggapan divestasi puluhan BUMN berhubungan dengan Pemilu 2009. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, kemungkinan adanya sebagian dana hasil divestasi lari ke partai politik akan sangat besar. ‘’Kita lihat kasus divestasi Indosat saat harga jual sangat rendah. Waktu ditelusuri ada dana yang mengalir ke partai politik tertentu,’’ katanya.

Aliran dana ke tubuh parpol juga tak sepi dari peminat asing. Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform (Cetro) Hadar Navis Gumay menyatakan bahwa pengaturan dana politik dari luar negeri harus diperhatikan dengan serius untuk menciptakan pemilu yang jujur dan adil. “Era globalisasi memungkinkan banyaknya pihak asing yang ingin sekali menancapkan kekuasaan, salah satunya bisa masuk melalui partai politik,“ katanya.

J. Kristiadi menyatakan bahwa mencegah habis-habisan permainan uang dalam pemilu adalah hal yang sangat penting. Apalagi mengingat money politics dewasa ini telah merebak luas dan mendalam dalam kehidupan pilih-memilih pemimpin, mulai dari elite politik sampai di beberapa organisasi sosial dan kemahasiswaan. Karenanya, kontrol terhadap dana kampanye harus lebih ketat. Misalnya dengan melarang masuknya dana asing ke dalam tubuh parpol, membatasi jumlah sumbangan, mengonversikan utang dan sumbangan barang dalam bentuk perhitungan rupiah, dilarang memperoleh bantuan dari APBN/APBD. Para pelanggar tidak cukup hanya ditegur, tapi harus diganjar dengan hukuman pidana yang tegas.

Di tengah riuh-rendahnya persaingan partai politik dan manisnya janji kampanye calon presiden, persoalan nyata yang dihadapi rakyat makin membuncah. sadar atau tidak, mereka terluput dalam kesibukan ajang pertarungan, tergeser prioritas untuk menjadi yang paling berkuasa.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s