Monthly Archives: April 2008

Mau Mandi? Seceng dulu…

Standard

Kehidupan Tepi Sungai Jakarta

Tak terbayang rasanya mandi dengan air sungai Jakarta. Gatal, kotor dan bau seakan langsung terasa. Tapi banyak masyarakat masih melakukannya. Semata karena air bersih adalah sebuah kemewahan yang mahal harganya.

Tanpa alas kaki ia menuruni bantaran sungai berlapis semen kasar. Daster panjangnya berkibar-kibar ditiup angin. “Awas! Ada kotoran,” katanya sambil melangkahi seonggok (maaf) kotoran manusia di sana-sini. “Ya di sinilah kami mandi dan mencuci,” ia berkata sambil tersenyum. Tangannya menunjuk tempat dimana dua lelaki terlihat sedang mandi dan mencuci baju. Merasa diperbincangkan, mereka menoleh. Lalu dengan tak acuh kembali menggosok-gosok dan membilas badan. “Saya sudah dua puluh tahun tinggal di sini. Tiap hari ya mandi di sungai ini. Nggak ada masalah…” jelas perempuan paruh baya bernama Rumini itu.

Read the rest of this entry

Advertisements

Perempuan Peruntuh Stereotipe

Standard

Memperingati Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini, inilah sosok perempuan-perempuan yang berhasil meruntuhkan stereotipe. Mereka berhasil menembus tembok budaya atau humanitas obex yang selama ini mengesampingkan peran dan kemampuan kaum perempuan.

Beberapa diantaranya beretnis Tionghoa, yang tidak hanya menembus batas dirinya sebagai perempuan tapi juga meruntuhkan prasangka yang diemban etnisnya.

Mereka adalah para pelopor, penggerak, inisiator dan pengambil keputusan. Mereka berhasil melewati batas sebagai ’hanya perempuan’ menemukan potensi yang mereka punya dan menyumbangkannya bagi kebaikan banyak orang.

Selamat Hari Perempuan!

Read the rest of this entry

Warung Baca Lebak Wangi

Standard

Terobosan atas Mahalnya Akses Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Ia tersenyum lebar. Memperlihatkan sederetan gigi tak rata berwarna kusam. “Halo, apakabar?” sapanya renyah. Tangannya menjabat erat. Tebal dan kasar. Sekilas ia tampak biasa saja. Kulit sawo matang, wajah tipikal ibu-ibu desa yang sederhana. Tanpa bedak, tanpa sapuan gincu.

Hari itu ia mengenakan baju serba putih. Celana putih, kaus lengan panjang putih, jilbab putih. Membuat deretan tulisan merah di kausnya tampak mencolok: RED Card to Illiteracy .

Read the rest of this entry