Perempuan Peruntuh Stereotipe

Standard

Memperingati Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini, inilah sosok perempuan-perempuan yang berhasil meruntuhkan stereotipe. Mereka berhasil menembus tembok budaya atau humanitas obex yang selama ini mengesampingkan peran dan kemampuan kaum perempuan.

Beberapa diantaranya beretnis Tionghoa, yang tidak hanya menembus batas dirinya sebagai perempuan tapi juga meruntuhkan prasangka yang diemban etnisnya.

Mereka adalah para pelopor, penggerak, inisiator dan pengambil keputusan. Mereka berhasil melewati batas sebagai ’hanya perempuan’ menemukan potensi yang mereka punya dan menyumbangkannya bagi kebaikan banyak orang.

Selamat Hari Perempuan!

Retno Wulan Sutantio, Hakim yang “Nggak Suka Duit”

Ia adalah hakim perempuan pertama di Kota Bandung. Kariernya dititi dengan reputasi yang bersih, mulai dari Hakim Pengadilan Negeri sampai Hakim Agung di Mahkamah Agung RI. Tak hanya pandai dan ahli, ia punya nilai yang sudah langka diantara para hakim zaman ini. Kejujuran dan hati nurani.

“Keluar!” kata itu meluncur dari bibir tipisnya. Sorot matanya tajam menusuk. Walau kini kulitnya sudah keriput, rona ketegasan masih tergambar jelas di wajahnya.

“Keluar! Jangan coba-coba bawa amplop pada saya!” Tangannya teracung ke atas, menunjuk pada oknum-oknum yang pernah mencoba menyuapnya.

Sesaat ia terdiam, mengingat tahun-tahunnya sebagai pengawal keadilan di negeri ini. Suka dan duka telah ia lewati. Jatuh, bangun, gagal, berhasil, telah ia lalui dengan kepala tegak. Reputa­sinya sebagai hakim yang jujur, berhasil ia pertahankan selama 39 tahun, sampai masa pensiunnya.

“Menjadi hakim, harus jujur dan baik,” rona tegas wajahnya berubah. Ia tersenyum. “Hakim harus menerapkan apa yang tertulis dalam Undang-Undang, bukannya mencari keuntungan.”

Retnowulan Sutantio memang terkenal jujur dan bersih. Di antara koleganya, ia dihormati. Para hakim muda mencontohnya sebagai panutan. Murid-muridnya mencintai dia, sebagai guru sekaligus ibu.

Semua dimulai pada bulan September 1951. Kala itu, perempuan yang lahir dengan nama Siem Gwee Ing ini baru masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Mendalami bidang hukum memang cita-citanya sejak kecil. “Saya suka pidato, saya suka bicara,” ia tertawa. Namun baru saja menginjak tahun pertama, kegagalan sudah mengha­dangnya. Ia gagal ujian selama 9 bulan pertama. “Saya gagal karena hanya belajar teori saja dari buku. Ternyata di bidang hukum itu tidak cukup. Saya harus tahu banyak praktek yang diajarkan para profesor.”

Retnowulan tak patah semangat. Ia mengejar ketinggalannya mulai dari banyak bergaul dengan teman, senior, dosen dan malalap habis buku-buku hukum. Dalam waktu singkat ia dikenal para dosen sebagai mahasiswi yang selalu datang lebih awal dan duduk di depan. Dalam waktu 4,5 tahun ia sudah berhasil lulus dengan gemilang.

Saat itulah seorang profesor menyarankannya untuk menjadi hakim.

Menjadi hakim? Retno muda terte­gun. Ia masih 26 tahun. Bagaimana bisa?

Ternyata waktu membuktikannya. Menjadi hakim bukan saja harus pandai dan menguasai hukum. Menjadi hakim harus punya hati nurani, jujur dan tidak cinta uang.

“Menjadi hakim adalah panggilan dan pengabdian. Profesi hakim bukan tempat mencari uang!” katanya tegas.

Istri dari Drs. Tio Tek Hoen ini pun menunjukkannya bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh kehidupannya. Ia hidup sederhana, sampai masa tuanya pun masih naik kendaraan umum. Ia mengatur semua pengeluarannya dengan baik. “Hakim harus hidup sederhana.” Ini prinsip yang ia pegang teguh.

Kasus pertamanya masih ia ingat be­tul. Ia menangani kasus pencurian ayam dari terdakwa yang mencuri dengan alasan membayar uang sekolah anaknya. “Saya bersimpati padanya, tapi ia tetap bersalah,” tegas ibu dari 4 anak ini. Si terdakwa pun harus mendekam di penjara selama 3 bulan.

Ia juga ingat persis bagaimana para terdakwa seringkali mencoba menyu­apnya. Mulai dari cara yang paling halus seperti mengirim makanan, mengirim kado sampai memberi uang. Semua ia tolak dengan alasan pendek. “Saya tidak suka uang,” tegasnya.

Selama 39 tahun perempuan yang besar dari keluarga pengusaha tahu di Purwekerto ini hilir mudik antara Bandung dan Jakarta. Mulai dari Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta, Hakim Pengadilan Tinggi Bandung, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Kepala Departemen Penelitian dan Pengem­bangan Hukum dan Peradilan di Mahkamah Agung (MA), sampai akhirnya menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung. Di Bandung ia adalah perempuan pertama yang menjadi hakim.

Retnowulan juga terpilih menjadi salah satu anggota tim seleksi Hakim Agung dari unsur non-Komisi Yudisial, bersama Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, Johannes Usfunan, Bambang Widjojanto dan Nono Anwar Makarim.

Selama 8 tahun di MA, ia mengajar seluruh hakim di Indonesia, dari sabang sampai Merauke. Prinsip-prinsip kejujuran selalu ia coba tularkan pada murid-muridnya. Tapi ia sendiri meng­aku pesimis dengan kondisi peradilan di Indonesia. Ia tahu, ia tak bisa menutup mata terhadap rekan-rekannya, yang menerima uang suap dengan gembira. “Yah, itu urusan masing-masinglah, saya tidak bisa marah pada mereka. Yang penting, saya tetap menjaga diri saya untuk jujur. Saya harap murid-murid bisa mencontoh,” katanya.

Salah satu murid yang paling dekat dengan Retno adalah mantan Hakim Asep Iwan, SH, MH. Ia pernah mencuat, menjadi kontroversi atas putusannya menghukum mati bandar narkoba di Tangerang. Asep juga menangani beberapa kasus korupsi yang dianggapnya sudah membelit seluruh sistem peradilan. “Saya tidak sekuat Ibu Retno, yang bertahan sampai akhir,” katanya. Pada 2006, karena tekanan yang terlalu tinggi untuk tetap menjadi hakim yang bersih, Asep memilih berhenti dan aktif di jalur akademisi. “Idealnya, saya ingin menularkan nilai-nilai kejujuran itu sejak para sarjana hukum dididik di pabriknya, yaitu universitas.” Walau Asep tahu, jalan yang ia dan gurunya tempuh tidak populer, itu merupakan kepuasan bathin untuknya.

Hal yang sama dialami Retnowulan, sewaktu ia dipilih menjadi salah satu anggota Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang dibentuk pada tahun 2000 dan merupakan cikal bakal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam tim ini ia adalah satu-satunya perempuan. Penerima bintang jasa dari pemerintah ini hanya berujar singkat saat ditanya akan pengalamannya di tim itu, “Reformasi hukum harus mulai dari diri sendiri. Hukumnya sudah bagus, sistemnya sudah baik, tinggal manusianya yang harus dibenahi. Kalau tidak ya repot…”

Inilah yang dipercaya Retnowulan, yang walaupun sudah menginjak usia 78 tahun dan duduk di kursi roda, masih aktif mengajar di Universitas Para­hyangan dan universitas Padjajaran. Ia percaya, generasi muda yang memilih jalur hukum harus dididik dengan betul. Bukan hanya pandai otaknya, tapi juga punya hati, punya nurani dan kejujuran. ***

Ratna Indraswari Ibrahim, Penulis Kaya tanpa Harta

Ia adalah salah satu penulis perempuan paling produktif, dengan lebih dari 400 karya tulis, cerita pendek, novel dan puisi. Ia meraih beberapa penghargaan bergengsi, aktif memimpin yayasan dan berkampanye bagi hak penyandang cacat. Ia juga pengusaha toko buku, aktivis lingkungan hidup dan terlibat aktif dalam pelestarian budaya lokal. Semuanya itu ia lakukan, di atas sebuah kursi roda.

Ratna Indraswari Ibrahim memang cacat. Penyakit bernama poliomyelitis merenggut kebebasannya di usia sepuluh. Sejak saat itu tulang-tulangnya melemah, mulai dari leher sampai ujung kaki. Ia pun bergantung pertolongan dari orang lain. “Saya marah pada Tuhan selama lima tahun,” katanya “tidak bisa menerima kenyataan, apalagi lima saudari saya cantik-cantik semua.”

Kini masih di atas kursi roda yang sama, Ratna menuturkan kisah hidupnya sambil tersenyum dan tertawa. Kadang ia tertawa sampai tergelak-gelak. Pribadinya riang dan menyenangkan. Tak dinyana, bagaimana manusia dengan keterbatasan semacam itu bisa tetap riang gembira. “Ini semua proses,” katanya ketika ditanya tentang rahasia sifat riangnya. “Saya pernah melewati masa-masa stres, protes pada Yang Kuasa, sebelum akhirnya saya sadar bahwa Tuhan selalu ada bersama dengan saya.”

Salah satu anugerah Tuhan yang paling ia rasakan adalah pesan dan kekuatan dari sang ibu, Siti Bidasari. Kata-kata ibunya mengubah jalan hidup Ratna. “Ibu berpesan, saya tidak bisa jalan, tapi saya bisa menulis. Tidak semua orang yang bisa berjalan mampu menulis. Kamu akan menjadi perempuan sukses karena Tuhan menganugerahi otak yang bisa kamu pakai.”

Siti Bidasari tidak salah. Ratna berhasil meruntuhkan stereotip bahwa penyandang cacat adalah beban masyarakat. Pada tahun 1994 Ratna memperoleh penghargaan nasional dari Presiden karena perjuangannya terhadap para penyandang cacat. Seluruh kehidupan Ratna menjadi inspirasi banyak orang. Tulisan-tulisannya yang bertema gender menginspirasi perempuan Indonesia. Ratna bahkan sudah pergi ke Australia, Amerika dan China untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan, seminar dan konferensi internasional.

“Memang betul. Tuhan mengijinkan saya mengalami semua ini demi kebaikan. Kita semua punya lakon masing-masing. Kalau tidak cacat, mungkin saya tidak jadi seperti sekarang ini,” katanya pelan sambil memandangi deretan buku-buku di tokonya.

Ada ribuan koleksi buku yang terpajang rapi di toko buku kecilnya di bilangan Malang, Jawa Timur. Di bagian paling depan ada karya-karya Pramodya Ananta Toer, R.M. Pranoejoe Poespaningrat, Kesusatraan Melayu Tionghoa, Kebudayaan Indonesia 1-4 karya Kwee Tek Hoay, dan lainnya. ”Ini semua sedang saya resapi lagi, saya sedang riset tentang perempuan etnis Tionghoa.”

Riset yang sedang ia lakukan berkaitan dengan novel yang sedang ditulisnya. ”Waktu kecil saya punya teman perempuan etnis Tionghoa. Setiap hari ia jaga toko, ada di balik toples, tidak boleh bermain,” paparnya. Kabar terakhir tentang temannya itu ia ketahui masuk ke sekolah Machung-Malang, yang tak lama kemudian dibubarkan karena situasi politik Indonesia.

”Anak perempuan di Indonesia sudah mengalami perbedaan gender sejak kecil. Lihat saja, dimana-mana anak laki-laki bermain, anak perempuan ada di dapur atau menjaga adik.” Padahal dalam bermain, seorang anak akan banyak belajar. Pola yang dialami sejak kecil ini mau tak mau membentuk kepribadian perempuan Indonesia. ”Secara psikologis mereka sulit mandiri karena tidak terbiasa mengekspresikan dirinya.”

Inilah salah satu sebab mengapa Ratna rindu anak-anak terlatih mengekspresikan diri. Caranya adalah mulai dengan membuka wawasan melalui membaca dan juga menulis.

Dengan dibantu pemilik Toko Buku Diskon Toga Mas, Ratna pun mendirikan Toko Buku Kita di rumahnya yang sudah berusia hampir satu abad itu. ”Toko buku ini bukan sekadar toko. Tapi tempat berdiskusi dan bertukar pikiran,” katanya riang. Tiap hari memang selalu ada yang mengunjungi toko buku ini. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, wartawan, bahkan pengunjung dari luar negeri. Pembawaan Ratna yang riang, membuat para pengunjung toko betah.

”Saya memang suka berteman. Bagi saya inilah harta saya yang paling berharga, ilmu dan teman,” senyumnya. Tak heran, bila banyak orang terinspirasi olehnya. Tak perlu jauh-jauh. Dua asisten Ratna, Rohadi dan Rini Widyawati kini nyemplung ke dunia mengarang dan penerbitan. Rohadi bekerja di sebuah penerbit di Surabaya. Rini, me-launching buku yang menuturkan pengalamannya sebagai tenaga kerja wanita di Hongkong dan Malaysia.

Bagi Ratna semuanya ini cukup membuatnya bahagia dan merasa kaya. Seperti yang selalu ia tuturkan, ”Saya ini kaya. Kaya tanpa harta.” ***

Leenawati Limantara, Menyibak Rahasia Emas Hijau

Namanya disebut orang pakar klorofil. Zat hijau daun anugerah alam nan melimpah. Hasil risetnya membawa terobosan baru penyembuhan kanker. Dari kota kecil bernama Salatiga, penemuan tingkat dunia lahir di tangannya.

Leenawati Limantara mulai jatuh cinta dengan klorofil sejak masa pendidikan strata satu jurusan Biologi, Fakultas Universitas Kristen Satya Wacana. Di tahun 1985, Ia memperhatikan bagaimana Tuhan menciptakan zat hijau daun ini dengan begitu melimpah, namun manusia sering lupa untuk memperhatikannya. “Manusia dan hewan tidak bisa hidup tanpa adanya produsen pertama, yaitu tumbuh-tumbuhan. Banyak orang mengambil manfaat dari serat tumbuhan tapi ada yang lebih berharga, yaitu klorofil, yang mampu mengubah energi cahaya menjadi energi kimia,” paparnya.

Menurut perempuan yang biasa dipanggil dengan nama Shinta ini, manfaat klorofil sangat menjanjikan. “Klorofil ternyata bisa menjadi obat kanker. Selain itu dengan memimik sistem yang ada dalam klorofil, manusia bisa belajar untuk mengubah penyerapan interaksi cahaya oleh pigmen dan merubahnya menjadi energi.” Inilah mengapa Leena menamakan klorofil sebagai emas hijau, sebuah potensi luar biasa yang bisa dimanfaatkan manusia mulai dari bidang kesehatan, industri dan energi alternatif.

Murid dari ahli klorofil terapan Jerman, Hugo Scheer ini, terpilih oleh Indonesia Toray Science Foundation untuk menerima ITSF Science and Technology Award 2005 karena risetnya “Chlorophyll the Golden Green: From Basic to Its Application.”

Dalam penemuannya, Leena menyatakan bahwa terapi fotodinamika menjadi alternatif yang lebih aman ketimbang terapi gelombang radio dan kemoterapi, yang kerap disertai efek samping. “Ternyata klorofil berkumpul hanya di sel kanker sehingga bisa menjadi penanda tumor. Ia lalu memicu spesies oksigen menjadi singlet oksigen yang sangat reaktif. Ini yang akan membunuh sel kanker,” jelasnya.

Penelitian Lenna juga menghasilkan terobosan baru tingkat dunia, dimana ia berhasil membandingkan molekul-molekul dengan cara memberi label, sehingga dapat mengetahui tingkah lakunya. “Selama ini penelitian dunia mentok di tahap ini karena masa hidup molekul sangat tidak stabil dan singkat,” katanya. Lenna berhasil mengisolasi antena penangkap cahaya yang labil. Pada 1998, penemuan itu dilaporkan ke jurnal biokimia paling terpandang di dunia, Biochemistry. Terobosan kedua adalah penemuan dimana dalam proses penangkapan cahaya itu terjadi pembentukan radikal kation di sistem antena penangkap cahaya. Ia juga menemukan fungsi foto proteksi dari karotenoid di antena penangkap cahaya.

Kini sebagai lanjutan dari risetnya, dengan bekerjasama dengan program Persemaian Insan Indonesia Cerdas, Leena mendidik kader-kader muda dalam penelitian pemanfaatan klorofil. Dalam satu tahun belakangan ini ia telah mengirim tujuh orang peneliti muda untuk mengambil studi lanjutan di Jepang dan Inggris. “Lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, Indonesia akan punya banyak ahli di bidang ini, yang bisa menggarap potensi yang ada di alam Indonesia” katanya optimis.

Optimisme peneliti yang kini juga merangkap sebagai Rektor Universitas Ma Chung-Malang ini didukung keyakinannya akan sumber alam dan laut Indonesia yang menurutnya nomor satu di dunia. “Dunia pernah membanggakan daun Alfalfa yang disebut bapak dari segala daun karena kandungan klorofilnya paling banyak. Ternyata setelah saya riset, daun katuk, daun asli Indonesia, punya kandungan klorofil puluhan kali lipat dari alfalfa!”

Dengan berbagai permasalahan Indonesia di bidang krisis energi dan kesehatan, Leena percaya bahwa bila semua potensi biodiversity Indonesia bisa dikelola dengan baik, seluruh riset dan ilmuan dunia akan terpusat di Indonesia. Karenanya dalam waktu dekat Leena bercita-cita mendirikan sebuah laboratorium dan pusat riset nasional di bidang fotosintesis. “Ilmu yang saya kuasai berpusat pada beberapa kekuatan, yaitu sampling, analisa, uji biologis, dan penelitian lebih mendalam ke pigmen klorofil dan karoten di laut Indonesia. “Inilah cara kita sebagai anak bangsa meningkatkan keunggulan Indonesia,” ungkapnya. ***

Tika Nurwati, Si Amoy Srikandi Indonesia

Tika Nurwati sudah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan sejak usia 13 tahun. Ia menerima anugerah Bintang Gerilya dan Bintang Veteran. Sebelum memberanikan diri terjun dalam kancah pertempuran, perempuan yang dipanggil Amoy oleh para tentara ini harus lebih dulu mengalahkan trauma dan ketakutan, saat seorang laki-laki mengancam akan membunuhnya, karena ia seorang Tionghoa.

“Saya sedang jaga warung, masih sangat muda,” kenangnya. Itulah pertama kali ia merasakan ketakutan yang sangat. Sebuah samurai Jepang bergerak-gerak di depan wajah pucatnya. “Kamu anak Cina! Kamu harus dibunuh!” kata laki-laki yang lalu mengancamnya dengan kisah pemerkosaan dan pembantaian warga Tionghoa di daerah Batu Lawang. “Saya lari, ngumpet di kamar berhari-hari. Tidak mau keluar.”

Keluarga Tika lalu kedatangan rombongan pejuang yang mengungsi dari Jakarta. Ia bertemu dengan Herman Sarens Soediro yang saat itu masih belasan tahun. “Kamu tidak boleh takut,” katanya. “Walaupun kamu perempuan dan Tionghoa, kamu harus berani.” Kata-kata Herman yang waktu itu menjadi Komandan Kompi Tentara Pelajar Siliwangi diingatnya sampai kini.

Sejak itu, perempuan dengan nama asli Ho Wan Moy ini menjadi anggota Palang Merah Indonesia dan Laskar Wanita Indonesia. Awalnya ia menjadi penunjuk jalan bagi pejuang dari Jakarta ke tempat-tempat persembunyian tentara di pegunungan Banjar. Lalu ia belajar merawat pejuang yang terluka. Kemudian ia menangani logistik bagi para tentara dan merangkap sebagai mata-mata.

“Orang Belanda tidak curiga kalau saya belanja ke kota,” ungkapnya. Dua hari sekali Tika menempuh hampir 20 km perjalanan melewati gunung yang sangat terjal dengan berjalan kaki, untuk membeli bahan-bahan makanan. Awalnya semua isi gudang beras dan singkong milik ibu dan neneknya disumbangkan untuk para gerilyawan. Namun ketika persediaan sudah habis, terpaksa mereka sembunyi-sembunyi belanja ke kota. Keadaan revolusi saat itu memang memaksa para pejuang untuk mencari persediaan dan perlengkapan perang secara swadaya.

Dalam perjalanan belanja itu, Tika sengaja melewati pos-pos penjagaan Belanda, untuk mencatat jumlah tentara yang berjaga. “Waktu itu lebih banyak Belanda Hitam (pasukan beretnis Ambon yang direkrut menjadi tentara Belanda dalam bagian politik devide et impera). Belanda putihnya mulai sedikit,” paparnya. Data-data itu ia serahkan kepada ayah Herman, R. Soediro Wirjo Soehardjo yang dipercaya menangani masalah logistik tentara bagi Batalyon IV Resimen XI Divisi III Siliwangi.

Pada Desember 1947, Tika melihat pasukan Belanda dalam jumlah besar di daerah Cikupa, bersiap-siap menyerang kampung mereka. Dengan sangat ia memohon agar R. Soediro tidak berangkat ke kota. Apalagi anaknya, Herman, sedang ke Jogyakarta untuk melaporkan perkembangan situasi ke Jendral Soedirman. Tiga kali ia memohon, namun R. Soediro menolaknya sambil berkata, “Amoy pergilah bersama Mama, saya titip rombongan perempuan. Bawa mereka pergi ke tempat aman.”

Itulah kata-kata terakhir Soediro kepadanya. Sambil mengungsi ke atas gunung, Tika mendengar deru suara tembakan dan bom dari kejauhan. “Saat itu sungguh mencekam. Di perjalanan kami dicegat tentara Belanda, semua barang dijarah. Baju, kain, obat, makanan, habis. Tapi untung kami dibiarkan hidup.”

Tika memang cukup beruntung. Tentara Belanda sebelumnya sudah membuat pengumuman untuk menghargai kepala pejuang perempuan Indonesia karena menjadi mata-mata. Ditambah insiden pemenggalan kepala para Belanda Hitam di Gardujati, banyak pejuang perempuan yang disiksa. Mereka tidak tahu bahwa Tika bersama temannya Susilowati, terlibat.

Menjelang sore, Tika memberanikan diri turun ke kota. Walaupun di tempat pengungsian ia mendengar kabar-kabar menakutkan tentang etnis Tionghoa ikut dibantai, Tika nekad. “Saya mau cari Bapak.” (panggilannya kepada R. Soediro-red). Ia pun turun ke kampung. Masih lekat dalam ingatannya, empat rumah ibu dan neneknya rata dengan tanah.

Api masih berkobaran, jasad-jasad bergelimpangan. Semua laki-laki sudah dibunuh. Ketakutannya menjadi kenyataan. Ia menemukan jasad Soediro tak bernyawa. Dengan tangan terikat dibelakang, Soediro duduk bersimpuh, meninggal karena ditembak dengan perut terbelah. Tak jauh dari situ, pamannya pun tergolek tak bernyawa.

“Tidak ada laki-laki lagi. Saya, dengan Mama dan A teh (panggilan untuk nenek) mengambil jasad mereka. Malam itu juga kami kuburkan mereka.”

Pertempuran ini sangat membekas di hatinya. Bagaimana tidak, mereka melawan Divisi Zeven, pasukan elite Belanda yang bersenjata lengkap. Sementara tentara Siliwangi adalah para pemuda belasan tahun yang hanya berbekal semangat juang.

Saat ditemui pada perayaan ulang tahun perkawinan yang ke-50 awal tahun ini, teman-teman veteran Tika bertutur,”Dia ikut melahirkan Indonesia dengan darah dan air mata. Dia adalah Srikandi Indonesia.”

Kini, di tengah perjuangan Indonesia melawan ancaman bencana, kemiskinan, dan ancaman disintegrasi, Tika hanya berharap, “Generasi muda janganlah menganggap enteng kemerdekaan yang kini dirasakan. Kita harus melampaui perpecahan karena masalah suku, agama, ras dan antar kelompok. Jangan ada kata menyerah untuk persatuan Indonesia.” ***

Dwi Woro R. Mastuti, Sang Pengemban Wangsit Wayang

Kalau ada perempuan yang paling semangat menyelidiki budaya akulturasi wayang Tionghoa Jawa, Dwi Woro R. Mastuti-lah orangnya. Minatnya untuk memperkenalkan wayang ini pada khalayak umum telah memaksanya menempuh separuh bumi ini. Wayang langka itu hanya tersisa dua set di seluruh dunia. Ironisnya, salah satu pemiliknya bukan orang Indonesia.

Woro memang jatuh cinta pada budaya Jawa. Walaupun dibesarkan dari keluarga Jawa, ia merasa perlu meneliti lebih dalam tentang naskah-naskah Jawa kuno. Hatinya tergugah saat membaca hasil penelitian warga negara Amerika Serikat tentang naskah kuno nusantara. “Saya terkejut. Kok orang asing yang justru menjadi ahli budaya kita,” katanya. Inilah yang membuatnya meninggalkan jurusan ilmu politik di Universitas Jayabaya. Ia pun hijrah ke jurusan sastra Jawa Universitas Indonesia.

Walaupun menyadari bahwa jurusan yang ia pilih bukan jurusan favorit dan jauh dari hingar bingar materi, Woro tidak peduli. Baginya, negara bisa besar bila warganya menghargai sejarah bangsanya. Hal ini pula yang membawanya bertemu dengan naskah-naskah kuno Tionghoa Jawa. Berawal dari wangsit di pagi hari tahun 1999, doa Woro agar studinya bisa menyumbangkan hal yang positif bagi persatuan bangsa ini, terjawab.

Dengan semangat, ia mulai mencari naskah kuno Tionghoa Jawa. Betapa terkejutnya Woro, ketika ternyata ada 19 buah naskah beraksara Jawa kuno tentang Tionghoa Jawa, tersimpan tak tersentuh di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UI. Makin ditelusuri, Woro menemukan makin banyak naskah yang terbit antara tahun 1875-1903. Sebagian besar diantaranya berada di perpustakaan luar negeri, seperti Leiden-Belanda dan Berlin. Tak lama, hasil perdana dari riset Woro pun terbit. Buku Kempakan Cariyos Tionghwa adalah hasil terjemahan beberapa naskah dari aksara Jawa kuno ke aksara latin.

Pada tahun 2001 ketika sedang mencari data di Leiden, Woro menemukan sebuah naskah Jawa kuno yang menceritakan tentang wayang Tionghoa Jawa. Bagai mendapat tuntunan alam, tak lama kemudian, di sebuah pasar loak, ia menemukan buku yang menulis tentang wayang kulit Tionghoa Jawa. “Saya penasaran, kok bisa ada ya wayang kulit model ini, saya lalu riset. Ternyata betul-betul unik. Sebuah karya wayang kulit dengan tokoh-tokoh cerita Tionghoa, berpakaian akulturasi Tionghoa-Jawa dan naskahnya ditulis dalam aksara Jawa kuno. Bahkan ada binatang-binatang yang ada di legenda-leganda Tiongkok, seperti burung Hong,” paparnya penuh semangat.

Selain unik, wayang ini juga langka. Apalagi pembuat sekaligus dalangnya, Gan Thwan Sing, sudah meninggal di tahun 1966, tanpa penerus. Sehingga bisa dikatakan seni wayang ini punah sudah. Dari hasil riset, Woro memperoleh data bahwa wayang ini hanya tersisa dua set di dunia. Satu set berada di Museum Sonobudoyo-Jogyakarta, berjumlah 150 buah utuh badan dan kepala, dan 133 kepala saja. Sedangkan satu set lagi berada dan dimiliki seseorang berkebangsaan Jerman, berjumlah 345 buah utuh dan dalam kondisi terawat baik. “Yang ada di Jerman sudah dua kali berpindah kepemilikan. Saat ini dimiliki Walter Angst yang sangat peduli dan mendalami wayang Nusantara,” katanya. Woro pun segera mendeskripsikan dan mendokumentasikan wayang-wayang itu, satu per satu, lengkap dengan ukuran, bahan, karakter dan ciri masing-masing wayang. “Supaya tidak hilang datanya.”

Woro pun makin jatuh cinta dengan wayang Tionghoa Jawa dan naskah-naskah kunonya. Ia mencari dan mencari lagi. Ternyata ia menemukan makin banyak. “Saya baru saja menghabiskan lima belas juta rupiah hanya untuk membuat copy dari naskah-naskah di Berlin, dan sepuluh juta untuk membeli dua naskah kuno dari orang Surabaya,” katanya sambil menarik nafas panjang. Untunglah ia dibantu beberapa penyandang dana.

Melestarikan warisan budaya memang tidak mudah. Sudah mendapatkan pun, sering terbentur masalah biaya untuk membeli, memfotokopi dan menterjemahkannya. Maklum tidak banyak orang yang bisa membaca aksara Jawa kuno di masa sekarang.

Woro juga mengakui tak banyak orang yang peduli dengan masalah ini, sehingga sulit mencari donor untuk riset-risetnya. Tapi ia tak patah semangat. Baginya, budaya adalah faktor yang sangat kuat sebagai perekat bangsa. Ia pun membuka jurusan mata kuliah khusus budaya Tionghoa Jawa di UI tahun lalu. “Saya ingin generasi muda mengetahui bahwa akulturasi budaya yang begitu mendalam dan indah pernah terjadi di masa lampau, tanpa hambatan apapun. Ini yang harus kita contoh di masa kini.”

Elly Wisanti, Bukan Ibu Rumah Tangga Biasa

Menjadi ibu rumah tangga kerap dianggap profesi sebelah mata. Identik dengan tidak mandiri, bergantung pada suami, tidak kreatif dan tidak produktif. Benarkan demikian? Elly Wisanti meruntuhkan anggapan itu.

Hidup sebagai perempuan memang gampang-gampang susah. Di satu sisi wajib menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mendidik anak dan merawat suami. Di sisi lain diharapkan aktif, bahkan berperan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi rumah tangga. Konon dua peran ini kerap berbenturan, bila satu sukses, yang lainnya bisa berantakan.

Elly Wisanti berhasil melalui semua itu. Dan kini ia membagi pengalaman hidupnya kepada perempuan-perempuan desa di sekitar Jogyakarta. “Memang cukup prihatin kalau lihat kondisi perempuan di desa,” kata ibu dari tiga anak ini. “Mereka terjerat oleh sistem yang membelenggu untuk tidak dapat maju.”

Melihat kondisi itu, Elly bersama kakak dan temannya mendirikan Yayasan Kerabat Desa Kota (KDK). “Awalnya kami memberdayakan ibu-ibu yang terpukul krisis moneter tahun 1997,” katanya. Uang sekolah yang naik dari Rp. 500,- menjadi Rp. 2500,- cukup berat bagi penduduk desa.

Hampir separuh anak tidak bisa sekolah. Setelah membantu beasiswa beberapa anak, ia mengajarkan perempuan desa memintal sutra. Berikutnya ia melihat bahwa di desa itu banyak pohon kelapa, maka ia mencarikan peluang pasar dari seorang teman di Jepang. Kini ia membina kelompok penghasil gula semut dari kelapa untuk diekspor ke Jepang. “Hasil penjualan kami kembalikan dalam bentuk beasiswa bagi anak-anak,” senyumnya.

Elly hanya ibu rumah tangga biasa. Masa kecilnya dilalui dengan ikut pramuka dan kelompok pecinta alam, yang sempat membawanya aktif di lembaga swadaya masyarakat selama beberapa tahun. Setelah menikah dan dikaruniai tiga anak, Elly sibuk menghabiskan waktu, merawat sampai mereka duduk di bangku kuliah tingkat akhir. “Bagi saya, keluarga tetap nomor satu, namun bukan berarti lalu kita tak bisa berbuat lebih banyak.” Dalam hatinya selalu ada kerinduan untuk melayani mereka yang susah. Maka ia mulai dengan hal-hal sederhana, yang bisa ia ajarkan dari dirinya sendiri.

Contoh sederhana yang dilakukan KDK ketika bencana gempa dan tsunami melanda, mereka mengajari para perempuan Aceh membuat roti ala bule. “Daripada memberi mie instan dan beras tapi tidak bisa dimasak dan habis begitu saja, kami ajarkan mereka membuat roti,” paparnya. Roti buatan mereka dipasarkan pada para ekspatriat asing yang sedang bertugas. “Biasanya mereka pesan roti dari Singapura yang rasa dan teksturnya pas dengan lidah mereka,” kata Elly. Saat roti KDK ditawarkan hangat-hangat dengan promosi dibuat oleh penduduk setempat, roti itu laris manis. Berikutnya pesanan pun banjir. Rata-rata mereka memperoleh keuntungan 400 ribu rupiah per hari. “Pernah sampai satu juta,” ia tertawa. Sebagian keuntungan mereka investasikan kembali dalam bentuk bahan olahan. Setelah KDK pamit dari Aceh, kelompok perempuan itu berhasil memperoleh tender dengan PMI untuk mengantar ratusan roti tiap pagi.

Dalam kamus Elly, menolong sesama tidak cukup hanya memberi sumbangan. Ia lebih suka proyek karitas yang berbasis livelihood. “Kami berpendapat tak cukup hanya sekadar memberi sumbangan. Tapi juga memikirkan seluruh aspek penghidupan mereka, mulai dari mata pencaharian, kesehatan, gaya hidup, makanan, kebersihan dan semua aspek yang manyangkut penghidupan mereka.”

Hal yang sama terjadi pada pendampigan salah satu kelompok ibu-ibu buruh emping. “Mereka jadi buruh dengan upah Rp. 1.600,- per kg. Dalam satu hari mereka cuma bisa hasilkan lima kilogram. Kalau begitu seumur hidup mereka akan jadi buruh,” katanya. KDK pun mendampingi kelompok ini, mulai dari alat, modal, pelatihan dan marketing. Mereka dibantu juga oleh donor internasional yang peduli dengan pengembangan masyarakat Indonesia. “Kami ajarkan mereka untuk menghitung modal, mencari bahan yang baik, sampai proses perizinan dan pemasaran.”

Tak hanya itu, Elly juga melatih para ibu dalam mengatur keuangan rumah tangga. “Masyarakat kita terjebak oleh sistem kredit dan barang eceran yang kelihatan murah,” katanya. Sebagai contoh, anak-anak di kampung sering jajan makanan kecil seharga seribu rupiah per bungkus dengan berat 20 gram. “Bila kita lebih jeli, makanan camilan itu berarti berharga lima puluh ribu per kilogramnya. Mahal ‘kan? Tapi kelihatannya murah.” Ia ingin perempuan desa tahu cara mengatur keuangan rumah tangga dengan sehat.

Kini KDK memdampingi 9 dusun di sekitar Jogjakarta. Mereka mengolah emping, gula semut, sirup asam, pembuatan arang sampai pelatihan pertanian dan membuat pupuk alami. KDK juga membantu masyarakat desa Piyungan yang baru bangkit dari gempa bumi. Mereka diajarkan membuat bisnis warung makan dan catering untuk bersiap-siap menyambut pabrik baru yang akan segera beroperasi.

“Dengan memberikan mereka pengetahuan berdagang, pemanfaatan sumber daya dari apa yang mereka miliki dan pahami, serta pengelolaan keuangan, mereka punya akses kepada taraf hidup yang meningkat,” tuturnya.

Bagi Elly, ia masih ibu rumah tangga biasa. Targetnya tidak muluk-muluk. “Saya hanya menularkan apa yang saya punya bagi mereka yang belum tahu.”***

Aimee Dawis, Pengabdian Generasi Kejepit

Ia masih muda, tapi gelar dok­tor dari universitas ter­­­nama di Amerika su­dah disabetnya dengan nilai nyaris sempurna. Ayah­nya adalah pengusaha ter­nama di Indonesia, dikenal orang dari kalangan Tionghoa ‘totok’. Ia punya kesempatan hidup nyaman di Amerika, atau mewarisi sejumlah perusahaan besar sang Ayah. Tapi ia memilih pulang, berkarya di tanah air, me­ngabdi sebagai pengajar di sebuah universitas negeri.

Aimee Dawis mengakui dirinya dibesarkan dari keluarga Tionghoa “totok”. Ayahnya, Didi Dawis, fasih berbahasa mandarin, memiliki sejumlah perusahaan, dan punya hubungan cukup baik dengan sejumlah pejabat di Indonesia dan di Tiongkok. “Relasi orangtua saya memang luas. Imlek tahun ini mereka diundang pemerintah Tiongkok untuk merayakannya di sana,” papar Aimee.

Tumbuh di keluarga pengusaha tak lantas membawa Aimee terjun di bidang itu. Sejak awal, perempuan yang fasih berbicara Mandarin ini sadar bahwa ia lebih kompeten di bidang sastra dan pendidikan. Setelah menempuh strata satu di Loyola Marymount University, ia melanjutkan studi di Cornell University. Pada tahun 1999 ia menerima gelar Master of Professional Studies. Sambil bekerja sebagai instructor, research assistant dan lecturer di almamaternya, Aimee meraih gelar Doctor of Philosophy Degree dari New York University. Semuanya itu diraih dengan indeks prestasi 3,9.

“Saya bersyukur keluarga mendukung pilihan saya dan tidak memaksakan untuk menjadi pengusaha atau peran yang tidak saya ingini,” katanya. Selain mengaku tidak mewarisi bakat dagang, Aimee merasa dirinya lebih tertarik pada studi-studi sosial, terutama yang berkaitan dengan etnis Tionghoa.

Ia melakukan riset bagaimana mereka mengidentifikasikan diri, mengatasi konflik yang terjadi dan bersikap di era globalisasi. Aimee juga menyoroti memori kolektif dari kelompok ‘generasi kejepit’ yang mengalami pembatasan budaya Tionghoa.

Temuannya sungguh menarik. Pengajar pasca sarjana Universitas Indonesia ini mencatat bagaimana etnis Tionghoa dari Sabang sampai Merauke mengidentifikasikan diri mereka dengan tokoh-tokoh yang ada di film kungfu, The Legend of Condor Heroes. Saat itu bisa dibilang ini adalah satu-satunya film Mandarin, walaupun disulihsuarakan dalam bahasa Inggris dengan teks bahasa Indonesia. “Mereka mencari panutan dari tokoh di film itu, bahkan di Papua dan Manado ada geng blood brotherhood (saudara dengan perjanjian darah) yang mengikat janji di kuil-kuil. Para perempuan Tionghoa juga mencontoh tokoh yang feminin sekaligus punya kemampuan lebih dari laki-laki, sesuai dengan tokoh pahlawan di film itu,” katanya. Hal menarik lainnya adalah bahwa dengan menonton film itu mereka menemukan imagined security, atau rasa aman khayalan, dimana mereka merasakan sebuah ketionghoaan yang tak pernah dipertanyakan, aman dengan budaya dan bayangan akan negeri leluhur yang sebetulnya belum pernah mereka injak. Di sisi lain, mereka sadar betul bahwa hidup sebagai etnis Tionghoa di Indonesia, kerusuhan dan diskriminasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hasil riset ini mengungkap kegamangan identitas yang dialami generasi seusianya. Di usia 6 tahun, Aimee diharuskan belajar bahasa Mandarin dengan guru privat yang datang ke rumah. Ia ingat bagaimana sulitnya menghafal karakter dan melafalkannya, apalagi bahasa itu tidak pernah digunakan di rumah. Sehari-hari orang tuanya menggunakan bahasa Indonesia. Pada usia sepuluh tahun, Aimee disekolahkan di Singapura. Di sana ia baru bercakap dalam bahasa Mandarin dengan nenek dan orang sekitarnya. Tapi ia tak menguasai tulisan Mandarin, apalagi orang tuanya lebih setuju ia memperdalam bahasa Inggris dan Melayu. Sebagai remaja, ia mengalami bagaimana proses identifikasi diri sebagai orang Indonesia Tionghoa, berbeda dengan teman-teman di negara lain yang bebas mengakses budaya nenek moyangnya. “Teman saya kaget ketika tahu saya tidak bisa baca koran Mandarin,” katanya. Ia juga sering ditanya mengapa namanya ‘not so chinese’, tapi tampangnya ‘chinese’.

Di tengah kebebasan berbudaya Tionghoa yang dialami generasi sekarang, ibu dari anak berusia 3,5 tahun ini tidak menganggap bahwa proses identifikasi itu lantas menjadi lebih mudah dari era Soeharto. Makna sebagai orang Tionghoa akan selalu bergeser menembus waktu dan tempat, bergantung pada tarik menarik antara self-positioning (posisi diri) dan bagaimana mereka diposisikan oleh orang lain.

Disinilah bagaimana dua belah pihak, baik etnis Tionghoa maupun kelompok di luar itu harus belajar saling menerima, termasuk menerima wilayah abu-abu etnis Tionghoa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Bagi etnis Tionghoa, Aimee menyatakan diperlukannya sikap arif untuk terjun dan terlibat di berbagai bidang dan menghapus kesan ekslusif. Hal yang sudah berusaha ia lakukan dengan memilih bidang yang jauh dari dunia glamor dan harta.

“Inilah idealisme saya untuk mengkontribusikan ilmu yang saya miliki bagi bangsa ini.” Menurutnya, peraih gelar doktoral lebih baik kembali ke Indonesia dimana sektor pendidikannya masih tergolong rendah. Mereka harus punya panggilan jiwa untuk memajukan bangsa dan negara. “Saya lahir di Indonesia. Saya orang Indonesia. Saya ingin anak saya pun besar dan kenal budaya Indonesia. Ini kepuasan batin saya.” ***

dr. Lanti Setiawati, Tetes Air di Pulau Cendrawasih

“Wah, ada PMI dari Hongkong!” Kata-kata itu masih terngiang di telinga Lanti Setiawati. Sedikit dongkol, tapi geli juga. Sudah hampir 10 tahun yang lalu, ketika tim mahasiswa kedokteran Universitas Maranatha membantu gelombang mahasiswa yang melakukan demonstrasi besar-besaran di gedung Sate, Bandung. “Bagaimana ya? Memang satu grup kami putih-sipit sendiri!” tawanya tergelak.

Pengalamannya terlibat dalam awal reformasi telah menghantar dirinya ke ujung negeri ini. Di Papua, ia melabuhkan diri. Meninggalkan kemapanan dan kenyamanan untuk menjadi abdi kesehatan Pulau Cendrawasih.

Gadis yang lahir dengan nama Tjong Fung Lan ini memang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia menangani tim kesehatan mahasiswa, ikut dalam tim pengawas pemilu, dan sempat menjadi duta promosi Indonesia ke Korea.

Melalui berbagai aktifitas, trauma yang dialami saat kerusuhan anti-Tionghoa di Tasikmalaya, kota kelahirannya, perlahan-lahan pupus. “Waktu itu seperti perang. Tapi perusuh datang dari luar daerah, mereka bukan orang Tasikmalaya. Bahkan ada rumah Pak Haji yang ikut dihancurkan,” katanya. Rusuh massa di Tasikmalaya dimulai dari seorang anak pejabat kepolisian yang meninggal dunia saat diplonco di sebuah pesantren. Lanti tidak mengerti, mengapa akhirnya berkembang menjadi kerusuhan anti-Tionghoa, disertai pembakaran gereja. “Banyak teman-teman non-Tionghoa yang justru memperjuangkan keadilan bagi warga Tionghoa,” paparnya.

Setelah menyandang gelar dokter, Lanti makin aktif. Terbiasa melayani di klinik gratis gereja, hatinya trenyuh saat melihat berbagai bencana melanda Indonesia. Mulai dari gempa di Nabire, Aceh-Nias-Meulaboh, Jogyakarta, Padang, Mentawai dan sebagainya. Ia tidak pernah absen menjadi dokter relawan di daerah-daerah itu. “Saya melihat seorang ibu tua warga negara Meksiko gesit sekali memberi bantuan ke Indonesia. Saya juga bertemu kakek orang Belanda yang membuat panti asuhan untuk anak terlantar di Jogyakarta. Mereka orang asing, tapi peduli sekali dengan Indonesia. Kita sebagai anak bangsa ini tidak boleh kalah. Ini ‘kan beban kita bersama,” katanya.

Sebagai dokter muda, perempuan yang fasih berbahasa Mandarin sejak kecil ini mengakui idealismenya sering berbenturan dengan urusan kantong. Seringkali ia harus mengorbankan jam jaga klinik, sebagai penghasilan satu-satunya, untuk bepergian ke daerah-daerah terpencil dalam waktu relatif lama. “Saya harus pandai-pandai mengatur tabungan. Bila lagi sempat jaga klinik, saya kejar setoran. Untuk ditabung, bila sewaktu-waktu saya pergi ke daerah bencana,” ia tersenyum, “tapi toh, saya tidak pernah kekurangan.”

Pengalaman bertemu pasien di daerah-daerah bencana telah menyadarkan Lanti, betapa minim layanan kesehatan yang dimiliki penduduk daerah terpencil dan tertinggal. Bagaimana ia harus memanggul obat-obatan selama setengah hari untuk mencapai salah satu gunung di Kepulauan Mentawai, melayani ratusan pasien seorang diri, tidak tersedianya obat yang memadai di puskesmas setempat, mahalnya transportasi yang diperlukan pasien untuk berobat, adalah hal-hal serupa yang ia temui hampir di seluruh pelosok Indonesia.

Pendidikan penduduk setempat yang rendah akan masalah kesehatan juga membuat penyakit berjangkit dengan mudah. “Masih banyak lho… masyarakat kita yang tidak punya MCK (mandi-cuci-kakus-red), tidak mandi setiap hari dan tidak kenal cuci rambut ataupun sabun.” Inilah mengapa ia meyakinkan diri untuk pergi ke daerah yang disebutnya jauh dari peradaban.

Keyakinan ini ia bawa dalam doa. Baginya hidup bukan hanya harta semata. Ada nilai-nilai lain yang tak terbayar dengan uang. “Saya ingin mengabdikan ilmu saya pada banyak orang. Apalagi di daerah terpencil, banyak yang sulit bertemu dokter. Saya percaya Tuhan yang mengatur jalan hidup dan akan mencukupi semua kebutuhan saya.”

Doanya untuk ditempatkan di daerah terpencil terjawab. Ia pun memilih Papua sebagai pulau tempatnya berlabuh, meninggalkan semua kenyamanan yang bisa ia peroleh di Bandung dan Jakarta. “Di Papua saya merasa seluruh keberadaan saya sebagai dokter sempurna. Di sini saya betul-betul dibutuhkan.”

Jauh dari keluarga dan tanpa kerabat tidak membuat perempuan yang lahir pada 1974 ini berkecil hati. Kondisi kesehatan Papua membakar semangatnya. “Kesehatan masyarakat Papua sepuluh tahun tertinggal dari penduduk Jawa. Padahal, Papua bisa dikatakan gudang harta karun Indonesia, tapi masyarakatnya miskin sekali!”

Selain miskin, penduduk Papua juga terkendala pendidikan rendah dan supervisi yang lemah terhadap kinerja aparatnya. Hal ini menyebabkan budget untuk layanan kesehatan banyak dikorupsi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan pun terganggu.

Lanti sadar, tidak mudah memperbaiki kualitas kesehatan di Papua. Perbaikan bukan hanya diperlukan di tingkat sarana dan prasarana. Kualitas manusianya juga harus ditingkatkan. Kerap ia menemukan hambatan psikologis dari keberadaan dirinya.

Tak jarang, penduduk setempat dan sesama kolega curiga dengan para pendatang. Namun ia tahu, ia tidak boleh berhenti. “Rumusnya lihat pada tetes air yang membuat batu berlubang,” katanya mantap. Walau perlahan, ia tetap bergerak pasti dan konsisten. Seteguh tetes air yang mengikis bebatuan.

(Lisa Suroso/SUARA BARU)

Photo: Eric Satyadi/Lisa Suroso

8 responses »

  1. Saya tertarik dengan tokoh ibu Retno Wulan Sutanto.
    Apakah beliau sekarang tinggal di Bandung?
    Jika ada nomor kontak beliau yang bisa saya hubungi, saya mohon bisa diinfokan.
    TErima kasih

    Bravo perempuan Indonesia!

    Salam,
    Ratna

  2. Hallo Lisa,
    Kebetulan lagi cari-cari data ttg. Tentara Pelajar Banjar (1947) dapat cerita Tika Nurwati. Saya waktu itu dengan TP Banjar di Ciamis. Barangkali Tika bisa menolong saya? Saya ingin tahu apa yang terjadi dengan beberapa teman seperjoangan dulu. Bisakah saya berhubungan dengan Tika? Eman Sudiro barangkali masih kenal “CeuEt”.
    Terima kasih
    E.Gartilah.

  3. Ibu Retnowulan masih mengajar sesekali di Unpar, terkadang digantikan oleh Pak Asep. Kebetulan saya cucunya🙂 Anak dari Putra pertamanya Ibu Retnowulan, Agus Santoso. Saya senang melihat respon anda2 yg terkesan dengan Oma saya, itu juga yang menjadi salah satu alasan saya untuk jg menekuni di bidang Hukum mengikuti jejak Oma dan Ayah saya🙂

  4. Saya terkesan sekali dengan kisah Ibu Elly Wisanti, beliau telah menularkan banyak ilmu & pengalaman yang bermanfaat bagi desa kami. Kebetulan saya adalah anak dari salah satu ibu2 buruh emping di Piyungan bimbingan KDK. Saya mengucapkan banyak terima kasih kapada Ibu Elly atas segala bantuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s