Warung Baca Lebak Wangi

Standard

Terobosan atas Mahalnya Akses Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Ia tersenyum lebar. Memperlihatkan sederetan gigi tak rata berwarna kusam. “Halo, apakabar?” sapanya renyah. Tangannya menjabat erat. Tebal dan kasar. Sekilas ia tampak biasa saja. Kulit sawo matang, wajah tipikal ibu-ibu desa yang sederhana. Tanpa bedak, tanpa sapuan gincu.

Hari itu ia mengenakan baju serba putih. Celana putih, kaus lengan panjang putih, jilbab putih. Membuat deretan tulisan merah di kausnya tampak mencolok: RED Card to Illiteracy .

Dari sebuah rumah sederhana di belakangnya, anak-anak berhamburan. “Bude Kiswanti..!” jerit mereka. Yang disapa mengajak masuk sambil melangkahi puluhan pasang sandal jepit kecil yang bertebaran di muka pintu.

Dari pintu sempit yang tak bisa dilalui dua orang, terlihat anak-anak usia sekolah dasar duduk berkelompok membaca buku. Jumlahnya cukup banyak, sekitar 25 anak. Membuat ruangan kecil beralas karpet plastik itu penuh sesak.

Beberapa anak membaca dengan suara keras, disambung gelak tawa temannya. Yang lain bermain scrabble, permainan merangkai huruf berbahasa inggris.

Di sisi kiri-kanan ruangan, berjejer rak warna-warni penuh buku. Ada juga beberapa mainan seperti jigsaw puzzle, monopoli dan lego tersusun rapi di sudut ruangan. Hasil-hasil prakarya tergantung di atap. Terbuat dari botol air mineral, kardus dan plastik bekas. Deretan huruf dari guntingan kardus yang dicat menempel di dinding. Warabal, Warung Baca Lebakwangi.

Kiswanti memang mengelola sebuah taman bacaan atau perpustakaan kecil. Tapi ia lebih senang menyebutnya warung baca. Sebuah kegiatan serius yang dilakoninya selama hampir sepuluh tahun. Wanita yang sebelumnya mencari penghidupan sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta ini tersenyum saat ditanya alasannya mendirikan warung baca. “Hari Kunjungan Perpustakaan, Hari Aksara, Hari Bahasa, Hari Buku Dunia, itu hanya terjadi di Jakarta. Orang kampung tidak tahu. Reformasi, demokrasi, itu apa? Orang di kampung tidak tahu.”

Harus kita akui, ilmu dan pengetahuan tidak mudah diakses oleh mereka yang hidup di kampung-kampung. Televisi kita penuh dengan tayangan tidak mendidik. Perpustakaan hanya ada di kota-kota besar. Perpustakaan di sekolah-sekolah yang ada di kampung ketinggalan jaman. Buku sekolah mahal. Langganan koran atau majalah? Jauh dari anggaran mereka. Apalagi membeli buku-buku berkualitas yang notabene juga selangit harganya.

“Jalan untuk terbebas dari kemiskinan adalah pendidikan. Pendidikan tidak hanya didapat di sekolah, tapi dengan membaca buku-buku berkualitas,” sambungnya. Rupanya itu yang memotivasinya, agar ilmu dan pengetahuan dapat juga diakses oleh masyarakat di kampung-kampung. Sebuah kenyataan hidup yang akrab dengannya, yang kerap terbelit kemiskinan dan kebodohan.

Kehadiran warung baca di kampung-kampung memang bisa menjadi jawaban bagi anak-anak kaum marjinal untuk mendapat akses buku berkualitas dan pendidikan alternatif. Tapi pengelolaanya tidak sederhana. Butuh hati dan kesabaran.

Warabal yang kini ramai oleh anak-anak bukan hasil perjuangan singkat. Butuh waktu tujuh tahun bagi Kiswanti untuk merintisnya. Ia memulainya dengan cara yang sederhana. “Saya naik sepeda keliling kampung,” katanya.

Berbekal dua keranjang buku yang terikat di depan dan belakang sepeda cicilannya, Kiswanti mengenalkan manfaat membaca buku pada penduduk kampung Lebakwangi, Parung, Bogor. Lima kilometer ia tempuh sekali perjalanan. Pagi dan sore selama delapan bulan pertama.

Setiap ada gerombolan anak-anak sedang bermain, Kiswanti berhenti dan mengajak mereka membaca buku. Setiap ada arisan warga, Kiswanti datang membawa buku. Setiap kali bubar pengajian, Kiswanti menanti di pinggir jalan dengan buku-buku. Melewati jalan tanah yang becek dan berbatu, lambat laun penduduk Lebakwangi akrab dengan sepeda buku Kiswanti.

Desa yang bisa dicapai dengan 30 menit jalan kaki dari Jalan Raya Parung ini dihuni oleh penduduk yang rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik. Sebagian menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Ada juga yang jadi buruh tani rumput. Pendapatan mereka jauh dibawah upah minimum regional Kota Bogor.

Banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah sebelum waktunya. Alasannya klise, tidak ada biaya atau sudah harus dikirim bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Meskipun sekolah gratis sudah mulai diberlakukan, bukan berarti buku sekolah dan iuran lainnya juga bebas biaya. Hal ini yang membuat para orangtua cenderung enggan menyekolahkan anaknya. Bagi mereka, lebih baik anak-anak segera bekerja selepas sekolah dasar.

Nasib anak-anak yang tidak mendapat akses pendidikan dan akses membaca dipahami betul oleh ibu dua anak ini. Ia pun mengalaminya. Bagaimana ia harus terhenti di kelas enam SD karena idak punya biaya. Bagaimana sering ia mendapat hinaan karena menyandang status anak miskin. Semua itu dialaminya. Dalam usia yang sangat dini ia pernah merasakan patah semangat dan enggan melanjutkan hidup.

Tapi tekadnya bangkit melalui membaca. Tenggelam dengan buku-buku bekas di emperan pertokoan Malioboro Jogjakarta, mata Kiswanti terbuka lebar. Ia boleh berhenti sekolah, tapi ia tidak akan berhenti belajar. Ia boleh jadi anak miskin, tapi ia tak boleh berhenti berusaha.

Kiswanti sadar betul, bahwa bagi para tetangganya, membeli buku bacaan anak yang bermutu tidak ada dalam anggaran mereka. Buku identik dengan mahal. Tapi ia ingin masyarakat sekitarnya tidak menyerah pada keadaan.

Tak hanya memotivasi mereka untuk baca buku, Kiswanti sering mengadakan arisan. Tujuannya mengumpulkan modal untuk membuat kue yang bisa dijual ke warung-warung. Kini, sudah enam tahun usaha membuat kue itu dilakoni oleh ibu-ibu di kampungnya. Uniknya mereka menyepakati sebuah aturan main bersama. “Satu orang hanya boleh membuat dua jenis kue. Jadi tidak akan ada kue sama yang dijual di warung-warung. Dengan demikian semua laku,” paparnya.

Pendekatan-pendekatan sosial seperti ini, ia akui mempertebal rasa percaya orang tua pada kegiatan anak-anak mereka di Warabal. “Saya menerapkan disiplin yang tinggi pada anak-anak. Kadang ini bertentangan dengan kebiasaan mereka di rumah. Misalnya mereka harus sudah mandi dan sikat gigi sebelum berkunjung. Tidak mudah lho…menerapkan disiplin seperti ini. Mereka juga wajib menabung supaya bisa ikut study tour, misalnya ke museum-museum di Jakarta. Seminggu sekali, kami keliling mengunjungi kampung-kampung tetangga, supaya mereka belajar, bahwa ada anak-anak lain di kampung tetangga, yang mungkin berbeda dengan mereka,” ia bertutur lambat.

Kegiatan di Warabal memang mirip dengan kegiatan pre-school atau taman bermain yang kini marak di kota besar seperti Jakarta. Warung baca itu ramai dengan berbagai macam kegiatan. Ada membaca dan bermain bersama, story telling, membuat prakarya, mengenali alam, sampai jalan-jalan dan study tour.

Bayangkan bila kegiatan ini dilakukan di sekolah-sekolah di Jakarta. Paket yang sama harus dibayar ratusan ribu sampai jutaan rupiah per bulannya.

Para orang tua ini rela merogoh kocek mahal demi ‘sekolah plus-plus’ dengan harapan anaknya tumbuh kreatif dan tidak kurang pergaulan. Seluruh kegiatan itu bisa dinikmati gratis oleh anak-anak Lebakwangi di Warabal.

Bagaimana dengan biaya operasionalnya? Warabal dirintis dengan usaha swadaya penuh. Buku-buku didapat dengan menyisihkan uang belanja. Kadang, hal ini membebani suami dan anak-anak Kiswanti yang mengandalkan upah pembersih kolam renang dan warung kecil sebagai pendapatan rutin keluarga. “Jalan Tuhan rahasia,” senyum tersungging dibibirnya, “saya bersyukur di tengah keterbatasan, cita-cita saya mendirikan warung baca bisa terwujud. Suami dan anak-anak pun mendukung.”

Belakangan ia dibantu oleh jaringan perpustakan dan relawan 1001buku. Warabal mendapat banyak buku berkualitas. Para relawan pun sering datang berbagi kegiatan dengan anak-anak. “Awalnya ya hanya kami saja. Saya, suami dan dua anak saya yang menjadi pengajar dan pemandu anak-anak Warabal,” ia tergelak. “Kalau jalan-jalan ke kampung sebelah, semua berbaris dan kami ikat dengan tali supaya tidak ada yang tertinggal.”

Untuk kegiatan yang lebih besar seperti study tour pertama yang mereka lalukan mengunjungi Monas tahun 2006 yang lalu, anak-anak menabung selama hampir setahun. Karena tidak cukup juga, Kiswanti lalu mencarikan sponsor. “Kegiatan seperti study tour ini menambah semangat anak-anak berkunjung dan membaca buku. Saya menerapkan sistem perlombaan. Yang paling aktif bisa ikut study tour gratis.”

Harapan Kiswanti sederhana, melalui membaca anak-anak di desanya pasti bisa lebih maju. Seperti slogan yang ia ciptakan untuk dinyanyikan anak-anak di Warabal, “aku terlahir di kampung saja, tapi tak ingin begini saja, yuk baca, yuk baca buku…”

(Lisa Suroso/SUARABARU)

Photo: Eric Satyadi

4 responses »

  1. Pingback: Kiswanti Dobrak Kemiskinan Buku Orang Kampung

  2. Halo mbak, saya diu dari – antv… kita tertarik dengan cerita ibu kiswanti, mbak masih punya no contack beliau ga? kalau punya boleh minta ga? kalau boleh tolong sms di no 0856.164.8877

    thanks a lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s