Mau Mandi? Seceng dulu…

Standard

Kehidupan Tepi Sungai Jakarta

Tak terbayang rasanya mandi dengan air sungai Jakarta. Gatal, kotor dan bau seakan langsung terasa. Tapi banyak masyarakat masih melakukannya. Semata karena air bersih adalah sebuah kemewahan yang mahal harganya.

Tanpa alas kaki ia menuruni bantaran sungai berlapis semen kasar. Daster panjangnya berkibar-kibar ditiup angin. “Awas! Ada kotoran,” katanya sambil melangkahi seonggok (maaf) kotoran manusia di sana-sini. “Ya di sinilah kami mandi dan mencuci,” ia berkata sambil tersenyum. Tangannya menunjuk tempat dimana dua lelaki terlihat sedang mandi dan mencuci baju. Merasa diperbincangkan, mereka menoleh. Lalu dengan tak acuh kembali menggosok-gosok dan membilas badan. “Saya sudah dua puluh tahun tinggal di sini. Tiap hari ya mandi di sungai ini. Nggak ada masalah…” jelas perempuan paruh baya bernama Rumini itu.

Siang hari akhir April 2008 itu, kampung pemulung Kelurahan Tanjung Selor, Jakarta Barat tampak ramai. Sinar matahari yang menyengat terhalang jembatan besar Tomang, membuat aktifitas di bawahnya terasa lebih nyaman. Beberapa orang mandi dan mencuci di pinggir sungai. Dari kejauhan terlihat orang sedang membuang hajat. Dengan bebas, tanpa ditutupi pembatas apapun. Beberapa perempuan duduk-duduk di pinggir sungai selebar 30 meter itu. Mengobrol sambil terlihat seperti memotong-motong sayuran dan menggoreng . Sesekali tawa mereka terdengar pecah di kejauhan. Lalat hijau gemuk beterbangan kian kemari. Dengung bisingnya terhenti saat hinggap di atas bangkai seekor tikus hitam besar.

Sungai mengalir dengan tenang. Coklat muda dengan riak-riak halus. Seakan hendak bercerita tentang perjalanan panjangnya. Mulai dari hulu Ciliwung yang masuk di kawasan Manggarai, Dukuh Atas, Karet Kubur sampai ke Tanah Abang. Di Tanah Abang, 88 tahun yang lalu, aliran ini dipecah dua. Menuruti gagasan ahli irigasi Belanda, Van Breen, dibangunlah sebuah kanal lurus yang melewati Tomang, Grogol, Pluit dan berakhir di Muara Angke, pantai utara Jakarta. Tujuannya untuk mencegah banjir Batavia. Sementara Sungai Ciliwung yang asli berkelok-kelok melewati Senen dan berakhir di Ancol.

Sebuah pulau sampah sepanjang empat meter lewat. Burung-burung gereja terbang mengikuti, berlomba-lomba mencoba mencari sisa makanan. Cicitnya terdengar riang, seolah tak peduli betapa kotornya sampah-sampah itu. Sama dengan Ibu Rumini.

“Saya jarang sakit,” ia menggeleng keras sambil mengaku bahwa kadang ia tidak pakai sabun saat mandi. Keterangan terakhirnya dikatakan cepat sambil menggaruk belakang kuping kanannya. Terlihat beberapa bekas luka borok di sikunya yang menonjol. Rambutnya yang mulai beruban tampak sedikit berminyak, diikat seadanya dengan karet gelang.

“Kalau mandi musti pakai air bersih, ya sayang duitnya. Kalau beli air pam itu untuk diminum,” jelasnya.

Tak jauh dari kolong jembatan itu ada sebuah bangunan kecil dengan sumur dan pancuran. Di situlah tempat air pam yang disebut Ibu Rumini. Di dalam bangunan itu ada dua buah toilet dan empat kamar mandi umum. Salah satu kamar mandi itu dibiarkan tanpa pintu. “Kalau malam ada warga yang mau pakai, silakan saja, gratis,” Yudi, penjaga toilet menjelaskan.

Memang, untuk kamar mandi dan toilet yang ada pintunya warga harus membayar. Seribu rupiah untuk mandi. Seribu rupiah untuk mencuci. Kalau yang dicuci banyak, tiga lembar uang ribuan harus disiapkan. Uang ini akan disetor kepada si pemilik toilet umum. Dalam sehari, Yudi harus menyetor Rp. 25.000,- pada sepupunya yang memiliki empat toilet umum lain di sepanjang sungai itu.

Penjelasan Ibu Rumini jadi masuk akal. Bagaimana tidak? Ia harus mengeluarkan Rp. 60.000,- untuk mandi dan mencuci satu kepala. Padahal ia punya sebelas anak. Dengan penghasilan hanya Rp. 450.000,- sebulan, mandi dan mencuci dengan air bersih menjadi sesuatu yang sangat mahal. Belum lagi konsumsi air minum yang sudah tak mungkin bisa dihemat. Rp. 1.500,- per jeringen dengan volume 20 liter. Setiap hari paling tidak ia harus membeli satu jeringen untuk minum dan memasak. Mereka juga harus membayar uang ‘sewa lahan’ sebesar Rp. 150.000,- per bulan pada preman setempat.

“Kalau yang punya duit, bisa bikin sumur. Kalau yang kaya malah pakai pompa,” perempuan dengan tubuh ringkih itu melayangkan pandangan pada deretan rumah panggung kayu dengan pipa-pipa buangan air kotor yang menjorok ke sungai. Sesekali air berwarna keruh dan berbuih mengucur ke sungai di bawahnya.

Kenyataan hidup yang dialami Ibu Rumini adalah hal biasa yang harus diterima sekitar 76 keluarga lain di kampung itu. Pekerjaan mereka yang rata-rata memulung memaksa mereka untuk mau tak mau tetap memanfaatkan air sungai yang jauh dari standar kesehatan.

Padahal menurut data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2006, 77% air sungai dan air tanah di Jakarta sudah tercemar bakteri e-coli, yaitu bakteri yang berasal dari pencemaran karena tinja manusia. Bakteri dengan nama cantik eschercia coli ini bisa membuat gangguan pencernaan yang berujung pada infeksi dan kematian. Belum lagi kuman-kuman lain dan zat berbahaya yang ada pada sampah dan limbah di sepanjang aliran sungai.

“Syarat air tanah yang sehat adalah didapat dari galian sumur dengan jarak sepuluh meter dari septic tank dan tempat pembuangan sampah,” jelas dr. Johana, Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Gambir, di kantornya. Walaupun tidak memegang data resmi, dari pengamatan lapangan dr. Johana sedikit banyak percaya akan data BPLHD itu. “Lihat saja rumah mereka, begitu sempit dan padat. Mana mungkin menata sumur dan jamban dengan jarak ideal?”

Penuturan kepala Puskesmas yang membina penyuluhan kesehatan di kampung Ibu Rumini ini memang menggambarkan kenyataan pahit di Kampung Selor. Limbah septic tank dari toilet-toilet umum ternyata juga dikuras dan dibuang ke sungai. “Enam bulan sekali saya mengosongkan septic tank. Saya buang langsung di sungai. Lebih praktis daripada membayar jasa mobil air kotor pemerintah,” aku Yudi.

Hidup berkubang dengan sampah dan kotoran sebetulnya sangat disadari Ibu Rumini. Namun perempuan berkulit coklat gelap itu pasrah saja. “Yah, enak tidak enaklah…mau gimana lagi?” kembali ia tersenyum. Membuat kerut-kerut di pipinya menonjol berbaris.

“Daripada di kampung, digusur!” Senyumnya berubah menjadi guratan kekecewaan. Ia lalu berkisah panjang lebar tentang 51 kampung yang kini jadi waduk Gajah Mungkur. Ternyata ia orang Wonogiri, yang kehilangan tanah dengan harga murah dan dipaksa pindah meninggalkan tanah kelahirannya.

Setumpuk sampah kembali berenang pelan mengikuti aliran sungai. Isinya macam-macam. Kasur lapuk, plastik, kayu, besi berkarat, gabus, daun-daun busuk… Aneka warna, aneka ragam. Sama beragamnya dengan persoalan rumit yang dihadapi warga miskin pendatang di Jakarta.***

Foto: Aldy Madjid-Kabarindonesia

6 responses »

  1. Hai Mba, apa kabarnya nih. Gimana rencana Liputan Pantai Indah Kapuk, kapan mulainya. Jangan lupa ya aku dikirimin majalah Suara Barunya.

    Salam dari Jambi

  2. Halo Lisa, piye kabarmu?

    Waduuh .. miris rasanya baca ceritanya Bu Rumini ini. Hidup di desa digusur, hidup di kota malah terlunta2 kayak begini.

    Ngomong2 soal Ciliwung, kualitas air yang juga jelek sebenernya sudah dimulai dari mBogor lho … coba deh main2 ke Bogor, nanti aku anterin jalan2 liat Kali Ciliwung yang jelek itu.

  3. haaaaiii mas oeik!!!

    kabare sae mas,
    mas’e piye tah??

    kali ciliwung mbogor mungkin jelek mas, tapi pasti lebih mendingan daripada yang di kapuk itu kekekeke…

    aku inget dulu waktu masih kecil kalo papa abis gajian diajak makan di pinggir restoran di sebelah kali ciliwung dekat jembatan merah…sungainya masih bersih…kayaknya sekarang itu sudah tinggal kenangan masa kanak-kanak…hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s