Melacak Anthony Von Lucky Dragon

Standard

A man may smile and bid you hail
Yet carry you on straight to hell
But when your dog wags his tiny tail
You know his love will keep you well

“Kak! Tonton hilang!!”

Semburan kepanikan bercampur tangis terdengar bersamaan kutekan tombol jawab pada handphone-ku. Beberapa detik hanya isak tangis yang kudengar, setelah itu telepon putus. Aku melajukan mobil ke komplek perumahan TNI-AU Halim Perdana Kusuma, tempat orang tua dan adikku, Cindy, tinggal.

Memasuki komplek yang masih asri dengan pepohonan itu, aku memelankan mobilku, membuka jendela sambil celingak-celinguk memperhatikan setiap sudut yang bisa tertangkap mata. Udara sejuk. Daun-daun basah, meneteskan air hujan yang baru saja reda beberapa menit sebelumnya. Sinar matahari sore menyorot lembut di sela-sela pepohonan. Ini komplek perumahan yang besar, batinku. Di dalamnya ada banyak lapangan, hutan dan sawah. Aku bertanya-tanya di mana kemungkinan seekor anjing yang hilang, berada.

Dari kejauhan kulihat sosok Cindy menyusuri jalan raya depan rumah, masih berseragam Bank Mandiri, plus jas dan stoking abu-abu, tapi tanpa sepatu. Setelah memarkir mobil sekenanya, aku mengejar dia.

Gimana? Sudah dicari kemana saja? ‘Kok bisa lepas sih? Kamu izin dari kantor ya?” berondongku. Cindy hanya menjawab dengan senggukan. Wajahnya basah oleh air mata. Lelehan maskara hitam bercampur bedak mencoreng pipinya. Langsung kurasakan kepanikan bercampur takut dari sorot matanya. Tiba-tiba tangisnya meledak. Tubuhnya berguncang-guncang.

Aku memeluknya. “Cup..cup..!” kataku berusaha menenangkannya. Terbayang adengan sewaktu cinta pertama Cindy terpaut pada Tonton. Hampir lima tahun lalu di sebuah kennel (peternakan) anjing ras di Puncak.

Dari semua anjing terbaik yang kerap menggondol predikat Indonesia Champion –sebuah gelar tertinggi yang bisa diperoleh seekor anjing ras melalui berbagai kompetisi ketat- mata Cindy tertuju pada sebuah kandang sempit berkarat di pojok.Pemilik kennel tak percaya waktu Cindy menunjuk mahluk ringkih di dalamnya.“Saya mau yang ini!” katanya tegas. Aku sendiri tak percaya. Bagaimana mungkin? Jauh-jauh kuajak ke peternakan anjing terbaik, dia malah memilih seekor anjing shih-tzu kucel, kurus, tanpa grooming, over size dan bergigi cakil! Namanya sih keren, Anthony von Lucky Dragon. Tapi wujudnya jauh dari standar seekor shih-tzu normal, kalau tidak dibilang jelek. Tonton, begitu Cindy langsung memanggilnya, memang anjing buangan di peternakan itu. Makanya, ia hanya di’simpan’ di pojok, di kandang kecil jelek berkarat. Tanpa diurus.

“Ada apa ‘mbak?” Suara tegas seorang proovost membuyarkan lamunanku. Matanya menyelidik di bawah topi baja bercat putih. Sekilas aku melihat temannya yang duduk di pos jaga rumah Pangkoops TNI-AU. Kami tidak sadar, mereka sudah mengamati sedari tadi.

“Yang badannya panjang ya? Hitam putih?” tanyanya setelah mendengar ceritaku. Kulihat secercah harap di wajah Cindy, ia mengangguk cepat. “Tadi waktu hujan saya lihat dia lari ke sana,” tangan proovost itu menunjuk arah pasar, 300 meter dari tempat kami berdiri. Aku tertegun. Baru ingat kalau Tonton memang takut hujan. Dia bisa langsung ngibrit ke kolong tempat tidur tiap kali hujan.

“Aduh, Kak…! Pasar! Di sana ‘kan banyak anjing liar! Tonton… Tonton…!” Cindy langsung lari ke arah pasar. Aku jadi ikut panik. Setelah mengucapkan terimakasih pada ‘Pak proovost, aku lari menyusul Cindy.

Aku ingat, Tonton pernah nyaris jadi ‘gantungan kunci’ karena dedel-duwel digigit anjing Rotweiller, anjing penjaga hitam yang ukurannya empat kali lebih besar dan notabene lebih ganas. Untung, setelah melewati empat jam operasi kritis, luka menganga di lehernya berhasil dijahit dan ia bisa sembuh. Anjing shih-tzu memang jenis toy dog. Bentuk badan mereka yang kecil berbulu panjang dan pembawaan mereka yang riang-manja memang tidak didesain untuk berkelahi atau menjadi ganas. Sangat wajar bila Cindy ketakutan Tonton nyasar ke pasar. Di sana tempat gerombolan anjing kampung liar yang galak.

Di pasar, kami menanyai setiap toko. Aku sempat membelikan sandal jepit untuk Cindy. Jawaban mereka sama. Tidak tahu. Hanya seorang penjaga toko saja yang akhirnya mengiyakan. “Tadi sempat ada anjing masuk ke sini, kelihatannya takut sama hujan,” paparnya. Setelah diusir, Tonton lari lagi menembus hujan. Wajah Cindy masih cemas, tapi ia sempat bergumam, “Setidaknya ia masih hidup…”

Di sebelah pasar, ada kantor pos dan warung sate kambing. Segerombolan anjing liar asyik bercanda di halaman parkir. Aku berharap bisa mengobrol dengan mereka. Sesama anjing mestinya tahu kalau ada anjing baru di wilayah jelajah mereka. Sayang, aku bukan Dr. Doolittle, yang bisa bercakap dengan hewan, seperti di film.

Seorang pegawai kantor pos mengaku melihat anjing hitam putih yang ciri-cirinya seperti Tonton berlari di tengah hujan. Cindy tampak bersemangat sekaligus bingung. Di sebelah kantor pos hanya ada pertigaan, selebihnya sawah bercampur hutan luas yang berbatasan dengan jalan tol Cikampek. Kemana lagi harus mencari?

Hampir tiga jam kami berjalan mengelilingi pasar, kantor pos, dan sawah. Berharap Tonton akan muncul dari balik belukar atau ada seseorang menemukannya. Tapi sia-sia. Cindy memutuskan memperluas lokasi pencarian dengan menggunakan mobil. Kami pun mengitari komplek demi komplek.

Setelah tiga kali berputar-putar di komplek terdekat, tak ada tanda-tanda penampakan Tonton sedikit pun. Hari sudah berganti malam. Kami menyusuri komplek kedua, yang ada di belakang pasar. Satu jam kami habiskan di sana. Percuma. Harapan terakhir, sebuah komplek yang paling jauh. Kira-kira 500 meter dari kantor pos. Komplek yang paling kecil kemungkinannya dan paling tidak diharapkan. Disanalah markas beberapa geng anjing kampung yang kerap berkelahi bila musim kawin tiba. Di sela-sela sorotan lampu mobil, anjing-anjing itu berkeliaran di perumahan dan jalan raya.

Rumah demi rumah kami sambangi. Setiap ada orang, Cindy turun menanyai. Mengulang entah sudah berapa ratus kali, pertanyaan yang sama.

Dua jam sudah. Cindy sudah capek. Capek menangis, capek berjalan, capek berharap dan capek putus asa. “Sudahlah…” kataku. “Kita berdoa saja,” alasan yang aku buat untuk mengakhiri pencarian kami.

Tanpa aba-aba Cindy langsung melipat tangan, seolah lupa mengapa doa baru teringat setelah semua usaha tak berjawab.

“Tuhan…” katanya pelan. Air mata perlahan turun di pipinya. “Tuhan tahu betapa Tonton berarti. Dia baik. Dia nggak pernah nakal. Dia selalu ada waktu aku sedih, kalau aku sendirian…dia selalu ada…” Aku menarik nafas panjang. Belum lama ini seorang pria yang menjadi pacar Cindy selama lima tahun terakhir mengkhianatinya dengan mengencani perempuan lain. “Dia sahabat terbaikku,” lanjut Cindy lagi. “Tuhan, kalau Tonton harus pergi, tolong jangan mati ketabrak, mati dimakan orang atau mati menderita…” Doa yang singkat karena sudah disambung tangisan lagi. Aku mengusap kepalanya. Ingin ikut menangis tapi merasa harus terlihat lebih kuat.

Tonton memang anjing baik. Well, menurutku semua anjing baik. Mereka setia, memberikan unconditional love tanpa batas. Mereka selalu riang walaupun kita lagi BT dan nggak mood. Tidak pernah ada mahluk yang menyambutku begitu antusias setiap kali aku pulang, seolah-olah akulah sumber keceriaannya. Akulah dunianya. Akulah super hero dan princess pujaannya. Mereka adalah pendengar yang baik. Setidaknya, dari ekspresinya aku tahu bahwa mereka berusaha mengerti mengapa manusia yang dia sayangi terus bicara tanpa henti. Sebuah keahlian yang sangat jarang bisa kau dapati dari seorang sahabat sekalipun, especially when you’re talking about men, oh, give me a break!

Kami terdiam selama entah berapa menit, bingung mau apa lagi, dan akhirnya tanpa kata-kata memutuskan untuk pulang.

Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam putih tersorot lampu. Aku memundurkan mobil, melihat ke kolong mobil yang terparkir di pinggir jalan. Jantungku berdegub. Aku menarik rem tangan, turun dari mobil dan langsung menjenguk ke bawah kolong.

Sesosok mahluk berbulu gumpal terlihat. Wajahnya basah dan kotor. Aku menyipitkan mataku, berusaha untuk lebih fokus. Ia menggigil, sorot matanya takut bercampur waspada. Saat itulah aku melihat dua gigi cakil menyembul di sela-sela bulu. Rasanya inilah pertama kalinya aku bersyukur Tonton punya gigi cakil yang aneh. Eureka! Tonton ada di sana! Ia kaget ketika aku memanggil namanya. Kemudian aku melihat perubahan di matanya. Ia ganti memandangku tak percaya.

Sedetik kemudian Cindy langsung masuk ke kolong mobil itu, tanpa mempedulikan rok seragam dan stokingnya yang memang sudah sobek-sobek. “Tonton!!!” jeritnya. Ia menarik tubuh mungil itu, memeluk dan menciuminya. Tonton tak kalah gembira. Ekornya mengibas kencang. Tak henti ia menjilati wajah Cindy.

Hatiku lega, senang bercampur haru. Menyaksikan mahluk berbeda jenis saling melepas rindu dan cinta tanpa kata. Sambil ikut memeluk mereka, pikiranku melayang. Seandainya Joy, anjingku hilang, pasti aku akan berbuat hal yang sama. ***

You want a friend in Washington? Get a dog. (President Truman)

2 responses »

  1. Aku melajukan mobil ke komplek perumahan TNI-AU Halim Perdana Kusuma, tempat orang tua dan adikku, Cindy, tinggal.

    Juga keponakanku Kolonel TNI-AU Dr. Taufik Abbas, S.B. ahli bedah pernah tinggal di Halim Perdana Kusuma, dan praktek operasinya di rumah sakit pusat.

    Bila Lisa Suroso tak keberatan would you kindly give my regards to my nephew. He’s one of my sister’s beloved sons, indeed.

    How’s Cindy and her beloved Tonton lately?

    You want a friend in Washington? Get a dog. (President Truman)
    How about in Toronto?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s