Kehidupan Perantau, Sukses Hasil Kerja Keras

Standard

Banyak Tionghoa Papua yang sukses secara ekonomi dan punya pengaruh. Diraih dengan tak mudah dan penuh kerja keras.

Empat buah sampan bergerak pelan di sebuah sungai yang besar. Tampak seorang meneer Belanda berdiri memegang teropong di sampan terdepan. Delapan orang mendayung di kiri-kanan sampan. Beberapa di antaranya memakai pakaian dayak. Sisanya berkepala botak berkuncir belakang.

Video tanpa suara yang kami tonton ini adalah video ekspedisi J.P.K Van Eechoud di sungai Mamberamo. Film hitam putih ini memperlihatkan tawanan Tionghoa dan orang-orang Dayak yang dibawa Belanda untuk menyusuri sungai terbesar di Papua itu.

“Wah mungkin di antara mereka itu ada papanya Ruben,” gelak beberapa anak keluarga Banua. Ruben Mabuai yang mereka sebut memang menceritakan asal-usul ayahnya. Seorang Tionghoa asal Bangka tawanan Belanda yang dibuang ke Papua. Karena berjasa saat menyembuhkan Kapten Belanda yang sakit malaria, Bong Chung Hong dibebaskan dan lalu bertemu dengan kakek keluarga Banua, The Tian Ho yang berasal dari Fujian dan anaknya The Liong Fo.

The Tian Ho merantau dari Fujian dan berpindah-pindah dari Balikpapan, Ternate, Sangir sebelum menetap di Papua. Ia ahli dalam mengawetkan kulit hewan. “Orang-orang Cina dulu macam TKI (tenaga kerja Indonesia-red). Ketika merantau dari Tiongkok sudah melalui satu penggemblengan. Mereka dilatih di balai latihan kerja, mempunyai kemampuan seperti ahli jahit, tukang kaleng, tukang batu, pahat, dan lain-lain,” kata Goan Piabon Mai santai sambil mengunyah biji pinang.

Ayahnya sendiri, Goan A Loan adalah ahli emas pertama di Serui. A Loan datang bersama empat orang saudara yang akhirnya terpisah-pisah di Papua dan tak pernah ditemukan lagi sampai ia meninggal. “Saya tak pernah tahu saudara papa. Baru-baru ini saya dengar di Biak ada toko emas Goan. Apakah mungkin kami bersaudara?” matanya menerawang.

Hidup penuh tantangan di tanah baru dialami oleh semua pendatang Tionghoa. Alam yang keras menjadi tantangan pertama. Tenggelam di laut, hilang di hutan, dimangsa nyamuk malaria, buaya, dan penduduk asli adalah berita yang kerap mereka dengar. Namun mereka tidak menyerah. Mulai dari sebuah pondokan sederhana, mereka membangun desa dan kota. “Dulu rumah-rumah masih pakai atap gaba-baba (rumbia-red),” kata Ang Kim Hie mengingat bagaimana orangtuanya merintis kota Kaimana. Saat air pasang, kota selalu banjir, sehingga mereka harus naik perahu kemana-mana. Tak hanya tantangan alam, perang pun melumatkan mereka.

“Jepang menghancurkan semua kota. Di serui, di Ansus, Kaimana… lelaki Tionghoa dipenggal kepalanya,” kata Lim Thian Jan, sesepuh pulau Doom, Sorong. Selain memaksa mereka untuk kerja paksa, Jepang juga meminta perempuan Tionghoa untuk para tentara. Hal ini membuat masyarakat Tionghoa lari ke hutan-hutan untuk bersembunyi dari Jepang. Untungnya, hubungan yang cukup baik dengan masyarakat membuat mereka aman dan terlindung. “Raja Arfan, keturunan Arab Tidore yang beragama Muslim, dialah yang melindungi kami.” Setelah Jepang hengkang karena bom Amerika, mereka kembali ke kota-kota yang sudah hancur terbakar dan rata dengan tanah. Mulailah mereka membangun hidup dan kota kembali.

Kedatangan Jepang pun menimbulkan berbagai reaksi keras di masyarakat. Salah satunya muncul gerakan Koreri yang juga mengancam. “Orang rambut lurus, bila tidak ikut gerakan mereka, akan dibunuh,” kata Liong Fo. “Kita-kita ini awalnya mau dibunuh, tapi orang-orang di kampung Ansus lindungi kita. Ada satu keluarga dibunuh di Mantembu karena tak mau ikut cara-cara mereka.”

Semua tantangan ini mereka lewati dengan sabar. Meskipun ada juga beberapa masyarakat Tionghoa yang memilih hijrah kembali ke Tiongkok saat perang berlangsung, Liong Fo memilih untuk tinggal. “Orang tua kita datang dari Cina luar biasa semangatnya,” kata Liong Fo. “Dengan bantal kecil saja, tanpa uang dan makanan, mereka bisa berjalan kaki melintasi daratan Tiongkok menuju lautan, lalu berani melaut berbulan-bulan. Padahal sampai di sini pun tidak mudah untuk mencari kehidupan baru.”

Semangat juang sang ayah menurun ke Liong Fo. Saat itu Liong Fo mulai belajar mengawetkan kulit buaya. Ia biasa berburu dengan ayahnya di sekitar pulau Yapen. “Ketika paman Bong datang, ia cerita tentang buaya Mamberamo yang banyak dan besar-besar,” kata kakek yang dipanggil Ence (‘ncek) Banua ini oleh masyarakat Serui ini. Banua adalah nama marga Papua Liong Fo.

Berbekal keberanian dan bertong-tong garam pengawet, Liong Fo mempersiapkan diri untuk masuk ke sungai Mamberamo pada 1950. “Saya orang Indonesia pertama yang membuka sungai Mamberamo.” Setelah delapan hari bersampan, ia bertemu dengan penduduk asli Mamberamo. “Mereka masih telanjang dan pakai kapak batu. Perahu mereka terbuat dari kayu utuh yang dibolongi. Mereka masak dengan cara memasukkan daging dan sayur ke dalam bambu, lalu di bakar,” katanya.

Tak mudah bagi Liong Fo mendekati penduduk asli. Apalagi ia sempat melihat kepala-kepala orang Tionghoa yang diawetkan. “Saya melihat potongan kepala dengan kuncir,” ia bergidik. Untungnya kakek usia 75 tahun ini punya taktik tersendiri. “Saya masuk sungai mengajak kepala perang daerah sana.” Kepala perang adalah orang yang paling dianggap jahat dan berkuasa di wilayah tententu yang mengerti bahasa suku-suku setempat. Selain itu ia membawa serta belanga, kapak besi, pisau, kain, tali, dan sarung untuk dibagikan kepada para penduduk itu. Liong Fo juga membawa bendera untuk dipasang, supaya ketika ia datang lagi dengan bendera yang sama, penduduk tidak lupa dan masih mengenalinya.

Setelah diterima oleh penduduk setempat, Liong Fo mulai mengajarkan mereka cara menangkap, memotong, menyamak dan mengawetkan buaya. Penduduk cukup senang, karena buaya dianggap hama yang berbahaya. Selain kulitnya bisa dijual, dagingnya bisa mereka makan. Setelah beberapa kali berburu bersama, para penduduk sudah bisa melakukannya sendiri. Langkah berikutnya adalah membuat gudang penyimpanan dan distribusi. Setiap bulannya, Liong Fo tinggal mengambil hasil samakan dan membayar penduduk. Selain memberi mata pencaharian bagi para penduduk, Liong Fo mulai mengajak beberapa anak suku di Mamberamo untuk sekolah. “Sekarang mereka sudah besar-besar. Ada yang jadi guru, kepala bagian di pemerintahan, pekerja sosial, dan lain-lain. Sekarang yang masih kuliah ada di Universitas Cendrawasih.” Belakangan Liong Fo membuat tempat penangkaran buaya. “Supaya buaya tidak punah,” katanya.

Tahun demi tahun bisnis kulit buaya Liong Fo pun makin maju. Permintaan paling tinggi datang dari Jepang. Saat ini keluarga Banua termasuk keluarga yang cukup sukses di Serui. Selain masih menjalankan bisnis penyamakan kulit buaya, keluarga Banua mengelola hotel dan perusahaan kontraktor. Anak dan cucu mereka menikmati hasil kerja keras sang ayah dan kakek. Mereka bisa sekolah ke Jawa, Jakarta, bahkan ke luar negeri. ** (Lisa Suroso)

Foto: Eric Satyadi

3 responses »

  1. Pingback: Kehidupan Perantau, Sukses Hasil Kerja Keras | Tionghoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s