The Path of Joy

Standard

Copy of LISA&JOY BW

 

Musim panas 2010.

Dengan perasaan hancur hati, kami membaringkan Joy, anjing kami di lantai apartemen yang lembab. Mata Joy tak berkedip memandang kami. Darah memenuhi mulut Joy dan lantai apartemen. Terlihat gigi taringnya mencuat keluar gusi yang sobek. “Ya Tuhan… parah sekali kelihatannya”, batin kami. Kami hanya saling bertatapan. Kosong dan pilu. Selembar surat penawaran operasi tergeletak di samping Joy. 1300 dolar, tidak termasuk obat. Bagaimana kami bisa membayarnya? Kami baru saja pindah dari Indonesia. Tidak ada uang untuk bisa mengoperasi Joy yang terbaring lemah. Tak hanya pilu melihat Joy yang merintih sakit, rasa bersalah memenuhi hati kami. Kami merasa gagal melindungi Joy yang Tuhan percayakan pada kami…  

Memelihara hewan bagi kami bukan sekadar hobi. Kami menganggap ini adalah kesempatan dari Tuhan untuk belajar tentang kesetiaan menjaga dan mengasihi apa yang Dia percayakan pada kita. Seperti yang tertulis di Amsal 12:10 “Orang benar memperhatikan hidup hewannya”, kami mengganggap komitmen saat mengadopsi seekor binatang adalah komitmen yang serius.


Tuhan pun memakai pengalaman merawat Joy selama sebelas tahun untuk mengajar banyak hal kepada kami. Joy membuka mata kami akan bagaimana hidup seratus persen bergantung pada Tuhan. Seperti kami mengasihi dan berkomitmen pada kecukupan seekor Joy, apalagi komitmen Tuhan kepada kami, yang nyawa saja Dia berikan. Saat berbagai turbulensi kehidupan melanda hidup kami, dan kami merasa ada di ujung jurang, dengan lembut sering Tuhan berkata pada kami, “Lihat Joy. Apakah kalian akan sekali-kali membiarkan dia kepanasan, kehujanan, dan kelaparan? Kalau kalian saja tahu memberikan yang baik kepada Joy, apalagi Aku, Bapamu di Surga…”

Joy juga mengajarkan kami untuk memiliki “joy” di dalam perjalanan bersama Tuhan. Joy ikut kami ke mana saja. Lahir di Sunter, Jakarta, ikut berbagai kontes di pulau Jawa, pindah rumah beberapa kali, pindah ke luar Jawa, lalu kami bawa melalui perjalanan berisiko selama 36 jam untuk pindah ke Toronto. Kalau Joy bisa bicara, mungkin dia akan bilang bahwa tidak semua perjalanan itu nyaman dan menyenangkan buat dia. Apalagi sering kali dia tidak tahu ke mana kami bawa dia pergi. Pasti yang ada di benak Joy adalah mengapa aku kepananasan, mengapa sekarang ada es di kakiku, kenapa ada jarum di pantatku, kenapa aku ada di dalam boks selama berjam-jam? Dia tidak mengerti apa yang kami mengerti. Tapi sesuai dengan namanya, ia memiliki karakter untuk tetap riang dan gembira berada di dekat kami, dan percaya seratus persen bahwa kami akan berbuat baik dan menjamin perutnya tetap kenyang. Bagi Joy, yang terpenting adalah dia berada di dekat kami, apa pun yang terjadi. Betapa tidak nyamannya kondisi yang Joy alami, matanya tetap penuh rasa percaya kepada kami. Suara dan sentuhan tangan kami, adalah hal yang menenangkan dia.

Kami merasa inilah kualitas yang Tuhan inginkan saat kami memilih untuk mengikut Yesus, apapun yang terjadi. Dalam banyak hal, kami tidak mengerti jalan-jalan Tuhan. Ada momen-momen yang terasa gelap, tidak enak, berkabut, dan kita tidak berdaya untuk mengerti banyak hal. Tapi kita tetap memilih untuk berada di dekat-Nya. Inilah yang kami mengerti saat kami membaca barisan ayat yang ditulis Raja Daud dalam Mazmur 73: 21-24. “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan”.

Kami belajar, Tuhan pun pasti sangat senang, saat kita memilih untuk tetap duduk dekat kaki-Nya dan berserah penuh kepada Dia, percaya akan wisdom-Nya, dan mengucap syukur dalam segala keadaan saat berjalan bersama Dia.

Pengalaman merawat Joy juga membuka hati kami untuk merasakan apa yang dirasakan banyak orang ketika tidak mampu menolong mereka yang sangat dikasihi. Saat Joy terbaring lemah tak berdaya dengan gusi yang sobek itu, dan kami habis cara untuk menolongnya,  ingatan kami melayang saat kami berada di Maluku, Indonesia, dalam sebuah misi kemanusiaan bersama organisasi nirlaba doctorSHARE.

Di suatu sore yang mendung, kami sedang bersama tim relawan dokter mengadakan pengobatan dan operasi cuma-cuma bagi masyarakat pra-sejahtera tanpa akses kesehatan di Pulau Kei, Maluku Tenggara. Datanglah seorang ibu dengan anak perempuan berusia tujuh tahun. Wajah mungil gadis bernama Susanty itu pucat dan dia merintih kesakitan. Ibu ini tidak ada di dalam daftar mereka yang harus kami layani. Saat kami bertanya dari mana ia datang, wajahnya berubah memelas dan penuh ketakutan. Ia takut kami menolak kedatangannya, karena ia telah berlayar selama tiga hari dengan perahu kecil menempuh samudera luas, hanya untuk mencari seorang dokter.

Tim dokter yang memeriksa anak itu terkejut dan sangat kaget. Ternyata, ususnya telah terjepit selama lebih dari tiga hari. Tanpa mujizat Tuhan ini tidak mungkin terjadi. Dalam teori kedokteran, seseorang yang ususnya terjepit, bila dalam waktu tujuh jam tidak ada tindakan, ia akan meninggal dunia. Tim dokter segara melakukan tindakan operasi, dan gadis kecil ini kini hidup dengan sehat dan gembira di kampungnya.

Bayangan gadis kecil itu bermain-main di benak kami saat kami melihat Joy terbaring lemah. Kini kami tahu Tuhan, apa yang dirasakan orang tua saat anaknya sakit dan tidak ada dokter yang bisa menolong. Kami mengerti apa itu rasa tak berdaya melihat seseorang yang kita kasihi merintih pilu meregang nyawa dan hanya doa yang bisa mereka ucapkan. Di negara-negara maju, kesehatan dijamin oleh negara. Berbagai saluran emerjensi bisa diraih dalam pencetan jari. Fasilitas kesehatan dijamin oleh asuransi. Tak perlu mengarungi samudera, dan merisikokan diri menghadapi penolakan hanya karena miskin dan tidak punya uang.

Momen-momen pilu melihat Joy yang terbaring lemah menjadi milestone lain dalam hidup kami untuk terus berkarya meraih mereka yang sakit, miskin, dan terlupakan. Kami ingin semaksimal mungkin yang kami mampu, untuk terus ada bagi mereka yang terlupakan, untuk membawa kabar bahwa harapan masih ada, bahwa Tuhan tidak lupa, dan bahkan telah memberi diri-Nya bagi dunia yang gelap dan terhilang ini. Ini kami rasakan sebagai pengalaman yang sengaja Tuhan izinkan terjadi untuk menguatkan kami atas panggilan Tuhan.

Pertemuan dengan gadis kecil itu akhirnya memotivasi tim doctorSHARE untuk melahirkan Rumah Sakit Apung (RSA) nirlaba milik swasta yang pertama ada di Indonesia. Saat ini, RSA ini aktif melayani masyarakat miskin yang hidup di pulau-pulau terpencil di indonesia…

Dengan bergandengan tangan dan berlinangan air mata, doa kami panjatkan pada Tuhan. Kami nyatakan bahwa kami tidak lagi punya kekuatan menghadapi situasi ini dan kami menyerahkan Joy ke dalam pengasihan-Nya.

Dan terbukti,  Tuhan adalah setia dan tidak akan sekali-kali meninggalkan kita. Keesokan harinya, saat kami bangun dari tidur kami, gigi Joy secara ajaib kembali ke dalam gusinya. Tidak lagi ada pendarahan, dan giginya kembali normal begitu saja. Hati kami runtuh dalam haru. Tuhan begitu sayang pada kita dan ia peduli terhadap apa yang berharga bagi kita!

Kini sudah tiga bulan berlalu sejak Joy meninggalkan kami karena usia dan sakit. Joy mungkin tidak lagi ada dalam lembar perjalanan hidup kami, tapi the path of Joy selama sebelas tahun yang mengajarkan pemeliharaan Tuhan akan hidup kami,  akan tetap abadi. Dan ini yang meneguhkan kami untuk tetap setia melangkah dalam panggilan-Nya, apa pun yang terjadi.

Musim panas 2014.

“But ask the animals, and they will teach you… Which of all these does not know that the hand of the Lord has done this? Job 12:7

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s