Susanty dan Lahirnya Sebuah Ide Gila

Standard

susantyLanggur, Maret 2009.

“dr. Lie tunggu!” Romo John Lefteuw berlari tergopoh-gopoh menyusul dr. Lie Dharmawan yang bersiap-siap menuju kamar ganti. Tanpa menunggu jawaban, ia berkata, “Ada seorang pasien lagi, Dok.”

Aku membaca raut keraguan bercampur letih di wajah dr. Lie. Baru saja sebuah operasi sulit diselesaikannya. Memotong kaki seorang penderita diabetes dengan alat-alat terbatas di RSUD Tual (kini RSUD Maluku Tenggara). Sebuah operasi besar yang bagiku penuh dengan adegan horor. Bila aku yang hanya merekam prosesnya saja capek luar biasa, bagaimana dia, yang melakukannya?

Aku mendengar mereka bernegosiasi apakah pasien dadakan ini bisa diundur esok hari. Romo John berkata lirih, “Ibu ini datang dari Saumlaki, dok. Sudah tiga hari dua malam naik kapal kecil untuk cari dokter…”

Raut dr. Lie berubah. Aku tahu persis apa yang ada di benaknya. Pastilah kata-kata mendiang mama terdengar. “Kalau kamu sudah jadi dokter, jangan memeras orang kecil. Mereka akan bayar berapapun juga tapi menangis di rumah karena tidak ada beras…”

Aku tahu persis ini bukan masalah uang, karena semua operasi yang dilakukan doctorSHARE diberikan cuma-cuma kepada semua pasien. Pasien-pasien yang ditolong doctorSHARE memang bukan golongan berada. Tapi menunda menolong pasien juga bagiku adalah bentuk pemerasan dan siksaan. Apalagi bila nyawa taruhannya. Dan ini sama sekali bukan prinsip seorang Lie.

Bergegas dr. Lie menemui ibu dan anak yang disebut-sebut itu. Aku membuntutinya.

Oh mereka… batinku. Aku sudah bertemu mereka dua jam lalu, saat aku mencari udara segar karena perutku mual menyaksikan adegan horor di ruang operasi itu.

Aku ingat sang ibu duduk sambil memeluk seorang anak perempuan. Anak itu pucat dengan nafas pelan satu-satu. Tatapannya kosong dan nanar. Tangannya terkulai tak membalas pelukan ibu yang erat. Sesekali si ibu memegang dahi anak itu.

Mereka duduk di ruang tunggu di sebelah papan pasien. Sambil memotret semua nama-nama pasien operasi di papan itu untuk laporan pertanggungjawaban, aku mendekati mereka karena penasaran.

“Adik kenapa?” tanyaku berspekulasi pastilah si kecil yang pucat ini pasiennya.

“Sudah panas  beberapa hari…” Sambil menggeleng ibunya menjawab.

“Ibu dari manakah?” tanyaku.

“Dari Saumlaki…” si ibu tersenyum ragu-ragu.

Yang aku tahu Saumlaki itu beda pulau dengan Kei Kecil. Aku hanya termanggut-manggut.

Tapi sore itu, saat dr. Lie menemui si Ibu, aku terhenyak. Tiga hari dua malam mengarungi samudera luas dengan kapal kecil hanya untuk mencari dokter? Belum pernah aku mendengar kisah setragis itu.

Bagaimana bila terlambat ditangani? Kalau ketemu dokter, bagus. Kalau tidak? Bagaimana bila kapal kecilnya terhantam ombak? Tunggu, bukankah ini sedang musim ombak? Kembali aku tersentak. Aku bisa melihat ketegaran seorang ibu sekaligus keputusasaan untuk mencari pertolongan demi sang buah hati.

“Dia harus segera dioperasi!” suara tegas dr. Lie membuyarkan lamunanku membayangkan sebuah kapal kecil terapung-apung di tengah samudera.

***

Jogjakarta, November 2010.

Suasana santai di antara para relawan doctorSHARE yang baru saja selesai melakukan pelayanan medis untuk korban bencana Merapi, mendadak panas. Rasanya panasnya semburan Merapi di luar sana mengalahkan panasnya sebuah ide gila yang baru dilontarkan.

Bagaimana tidak? Baru saja dr. Lie menyatakan bahwa ia mendapat visi untuk membuat sebuah rumah sakit apung! Rumah sakit apung? Bagaimana bentuknya? Membuat sebuah rumah sakit saja sudah ‘njelimet, apa lagi mengapung di lautan luas? Bagaimana mungkin?

Tapi wajah “papi” -demikian para relawan menyapa akrab pria paruh baya itu- tegas dan lempeng. Ekspresi yang sudah sangat dikenal para relawan saat idenya tidak bisa ditolak. Dan benar saja. “Kalau kalian nggak mau, papi bikin sendiri…” imbuhnya lugas. Para relawan hanya saling bertatapan pasrah.

Ternyata sebelum ide gila hari itu disampaikan, ada perenungan dan pergumulan iman berbulan-bulan mendahuluinya.

Semenjak Susanty Watunglawar, gadis kecil asal Saumlaki itu singgah dalam hidup dr. Lie, ia tak mau enyah dari benaknya. Pertama kali, semalaman. Kedua lagi, beberapa malam. Kini, berminggu-minggu sudah.

Pendiri doctorSHARE ini gelisah. Sebuah visi didapatnya. Tapi visi yang tidak mungkin. Terlalu besar, terlalu mustahil bagi dirinya.  Namun wajah anak itu terus bermain-main di benaknya, di mimpinya. Akhirnya ia menyerah pada visi yang diterimanya dengan penuh iman dari Sang Khalik.

Ia tahu persis apa reaksi orang saat ide gilanya ini ia lontarkan. Cemoohan, desahan, gelengan kepala. Alih-alih  mengurungkan niat, dr. Lie justru menjual sebuah rumah sebagai modal awal untuk membeli sebuah kapal bekas yang kemudian dirombak menjadi Rumah Sakit Apung. Niatnya sudah bulat. Sebisa mungkin, doctorSHARE harus datang untuk mereka yang  hidup di pulau-pulau tanpa fasilitas kesehatan, sesuai visinya “Menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan orang yang terjebak dalam krisis sehingga mereka mampu bangkit dan kembali membangun kehidupannya”.

Susanty adalah sebususanty kiniah mukjizat, kalau tidak dibilang kemujuran besar. Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus dioperasi dalam waktu enam hingga delapan jam atau malaikat maut datang menjemput. Tuhan sudah mengawal Susanty selama tiga hari dua malam untuk bisa dioperasi, dan secara ajaib mengalami kesembuhan. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana nasib Susanty-Susanty lainnya nun jauh di sana yang jauh dari sentuhan tangan dokter?

Kini dua tahun sudah RSA dr. Lie Dharmawan mengarungi samudera demi samudera. Ia berlayar dari Barat ke Tengah, ke Timur Indonesia, menemui sosok Susanty-Susanty di berbagai pelosok yang kini bisa kembali tersenyum, berlari, dan menikmati kepenuhan hidupnya semata karena mereka mendapatkan kembali kesehatannya.

RSA dr. Lie Dharmawan berfasilitas sama seperti Rumah Sakit di darat mulai dari ruang bedah, ruang pulih sadar dan rawat inap, USG, EKG, hingga laboratorium. Semua memang sederhana, tapi sudah sekitar 500 operasi mayor dan minor berhasil dilakukan di atas kapal kayu berukuran 23.5 x 6.5 meter itu. Ukuran mininya justru membuatnya fleksibel melewati pulau demi pulau.

Harapan seorang dokter dengan ide gila  yang berbuah manis ini sekarang hanyalah, semoga ide menjangkau mereka yang hidup terpencil di pulau-pulau terluar Indonesia mampu menginspirasi berbagai pihak dan membuahkan aksi nyata. Karena kita ingin melihat Susanty-Susanty lain yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau menikmati hak yang sama, yaitu mendapat layanan kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s