copy-of-lisajoy-bw.jpg

 

Lisa Suroso aktif dalam berbagai misi sosial kemanusian sejak krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1998. Bersama ribuan mahasiswa Lisa turun ke jalan dan berusaha menyuarakan ketidakadilan sosial yang melanda berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Pertemuan dengan berbagai kelompok dan individu di tahun 1998 ini mempertemukan Lisa dengan panggilan hidupnya untuk menyuarakan kaum minoritas dan mereka yang tak mampu bersuara.

Sejak 2004 Lisa mulai menulis tentang berbagai isu sosial, termasuk pergulatan dan budaya etnis Tionghoa di Indonesia. Ia kemudian dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Baru, Media Perhimpunan Indonesia Tionghoa selama 2004 – 2010.

Lisa juga adalah co-founder Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) bersama dr. Lie Dharmawan dan aktivis lainnya melayani masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses kepada fasilitas kesehatan. doctorSHARE bersama berbagai organisasi non-profit lainnya aktif dalam berbagai misi kemanusiaan sejak tsunami, gempa bumi, dan berbagai bencana alam kerap melanda Indonesia di tahun 2003-2010. Pada 2009, doctorSHARE resmi berdiri dengan fokus memberikan akses bantuan kesehatan dan pemulihan gizi bagi masyarakat Indonesia yang tidak mempunyai akses kesehatan, melalui berbagai program seperti Rumah Sakit Apung, Panti Rawat Gizi, Flying Doctors, dsb. Lisa memfokuskan diri di Pulau Kei, Maluku Tenggara dalam pilot project Program doctorSHARE tentang Rumah Sakit Bergerak Terapung dan Local Sources Empowerement untuk kawasan Indonesia Timur.

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara-Jakarta (1999), Lisa juga menempuh pendidikan jurnalisme (Narrative Jurnalism – Yayasan Pantau & George Washington University-2008), Volunteer Management (Humber College, Kanada – 2011), Social Media (Ontario College of Art & Design University, Kanada – 2013) dan Certificate in International Development dari University of British Columbia, Kanada – 2015). Semua jalur pendidikan ini dipercayanya sebagai kolaborasi yang akan membantu memberikan dampak lebih dalam menyuarakan keadilan sosial.

11 responses »

  1. Biarkanlah Kebenaran di ungkapkan sampai ke ujung lorong-lorong kumuh
    biarkanlah cinta kasih menjadi senjata yang paling ampuh dalam setiap peperangan di dunia yang angkuh ini
    biarkanlah keberpihakan pada mereka yang lemah dan tertidas menjadi sebuah ledakan yang akan menghancurkan tembok-tembok ketidak adilan.

    http://www.abnersanga.wordpress.com

  2. Mbak Lisa Suroso y.b.,

    Salam kenal: Saya Ibrahim Isa, Amsterdam. Kegiatan: publisis dan Sekretaris Wertheim Foundation, Amsterdam.

    * * *

    Hari ini saya membaca tulisan Anda: ‘KEHIDUPAN PERANTAU SUKSES, HASIL KERJA KERAS’.

    Sangat mengesankan. Bagus. Sederhana. Lugu. Cekak aos.
    Cerita-cerita tentang INTEGRASI Tionghoa Perantau di Indonesia, yang sukes, seperti yang Anda tulis, sungguh baik banyak dibaca orang.

    Kalau Anda tak keberatan saya berniat menyebar luaskannya melalui jaringan saya.

    Mengharapkan tanggapan Anda.

    Salam takzim,

    Isa

    • Pak Ibrahim Isa Yth,

      Bapak mungkin baru kenal saya, tapi tentu saya tahu Bapak yang terkenal ini. Saya juga bangga akan kegiatan Wertheim Foundation. Tahun lalu, suhu saya Pak Benny Setiono mendapat penghargaan Wertheim.

      Terimakasih atas komplimen dan dukungan Bapak. Mudah-mudahan apa yang saya tulis dengan sederhana dan masih harus banyak belajar ini bisa bermanfaat bagi yang membaca.

      Salam hormat,
      Lisa

  3. Hi Lisa,

    asyiik juga baca journal kamu. Keep going to use your talent, knowledge and time to glorify His name. God bless.

    oeke

  4. saya pribadi merasa tulisan-tulisan anda mengenai “etnis Tionghoa di Papua” adalah sumbangsih terbesar bagi rakyat Papua. terima kasih, di tunggu tulisan-tulisan lainya tentang Papua.

  5. lisa suroso yang baik,

    kata-kata anda bijak, sederhana dan mudah diikuti. nampaknya anda memiliki hati yang terbuka, universal dan peduli pada sesama warga negeri, terutama pada mereka yang masih tersisih, terbuang dan tercecer disana sini.

    saya setuju dengan anda (sebagai pensil kecil dari yang diatas, ketika yang diatas sedang menulis surat yang indah), bahwa insan nusantara harusnya semua berdaya, bergaya dan berjaya, bukannya hanya pada sebagian kecil penyuka elitisme, pemuja opportunisme dan pembela arogansi individu meskipun mereka mungkin benar dalam pilihan pribadi mereka untuk selalu berkiblat ke mazhab “achievement orientation” dan “effectiveness benchmarking”.

    tentu saja saya percaya bahwa yang maha kuasa sedang tersenyum dan berseri-seri, ketika beliau menciptakan alam persada nusantara – negeri kita yang tercinta ini, yakni suatu untaian ratna mutu manikam yang mengagumkan tiada tara di garis khatulistiwa. anda membela keindahannya dengan mengajak rekan se-visi untuk bergandeng tangan, setidaknya untuk menyuarakan “deepest concern” meski via dunia maya.

    saudara-saudara kita yang tertinggal memang perlu memperkuat diri dengan nilai-nilai luar yang unggul untuk dipilih, diambil dan dicerna oleh semua, sebagai misalnya nilai disiplin yang tinggi dari warga nippon, sikap yang hemat dari warga scotland, pola fikir rasional dari warga jerman, ulet seperti warga hongkong, dan berani mencoba seperti pemuda-pemuda dari negeri paman sam, apapun agama yang dianut oleh anak negeri.

    pasti sulit untuk difahami oleh rekan-rekan muda kita, yang sebetulnya sangat perlu membentuk karaker yang kuat dan benar, apalagi budaya saat ini dipenuhi oleh aura sikap “emangya gue pikirin”, “capeek deeh”, “ah, kagak ngaruh”, “ngapain susah2”, “bagian gue berapa duit ?”, “hari gini masih setia-setiaan, kuno!”, “gue nggak nipu kok, cuman diplomasi aja” dan lain-lainnya semua jenis aliran “zero-discipline movement”.

    mengapa jadi bisa seperti itu ? bukankah guru kencing berdiri maka muridnya akan kencing berlari ? nah, kunci utama, atau paling tidak salah satu dari berbagai jalan keluar nya adalah kita sebaiknya segera berdoa bersama-sama, agar insan-insan nusantara dimasa depan akan mempunyai pemimpin yang lebih baik lagi. yaitu pemimpin kelompok kecil, kelompok sedang, kelompok besar atau lingkup negeri, yang menggunakan prinsip asli warisan budaya nusantara indonesia, yaitu memimpin melalui suri tauladan, memimpin tanpa menggunakan kemampuan bersandiwara, menggunakan metode “bottom-up” sama pandainya dengan menggunakan metode “top-down”, menyanggupi perilaku gaya hidup relatif sederhana, setidaknya selama masih dalam periode kepemimpinan, peka terhadap desah derita warga lapis yang terbawah serta setia ber-commitment untuk membela persada nusantara setuntasnya, apabila terjadi perbenturan kepentingan dengan negeri asing, sekalipun dengan negeri-negeri asing yang jauh lebih kuat.

    apabila mimpi kita sekarang dapat terjadi esok hari, atau entah kapan, maka warga dunia tidak hanya akan terpana dan mengagumi pemandangan alam daratan dan wilayah bawah laut, berikut diversifikasi kekayaan flora dan fauna-nya nusantara indonesia, tetapi juga akan mengagumi karya cipta seni insannya, mengambil manfaat dari kemajuan perekonomiannya, menggunakan teknologi tingginya, menyukai kulinernya secara luas, menghormati integritasnya, dan yang terpenting secara perlahan akan turut menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa kedua atau ketiga, serta menganggap bahwa cara hidup kita dapat dijadikan contoh bagi bangsa lain.

    demikian lisa surono, menurut pendapat saya seribu langkah besar bagi kemajuan ibu pertiwi diatas, telah dimulai oleh anda dengan sumbangsih satu langkah kecil anda melalui tulisan “when i reach closer”.

    salam,
    purwi

    • purwi yang baik…

      terima kasih atas masukan dan dukungannya.

      apa yang anda bagikan betul, saya setuju bahwa karakter adalah hal yang penting. kalau karakter seseorang sudah betul, maka ‘produk’ keluarannya juga akan betul, apakah itu pikiran, kata-kata, dan sikapnya. memang membina karakter tidak mudah, dan sering kali tidak populer…

      ini juga diperlukan sebagai sebuah bangsa. karakter positif apa yang harus dikembangkan, dan mana yang harus diperbaiki. tapi sebelum saya jauh-jauh memikirkan karakter bangsa, saya harus juga mengkoreksi diri: karakter mana yang saya harus perbaiki…

      sekali lagi terima kasih ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s