Category Archives: Humaniora

Kisah Kasih Di Pohuwato

Standard

Kasih Trideis Tashabu tertawa leLisa Suroso Kasih Pohuwatopas saat ia menekan tombol telepon genggam dan ber-selfie ria bersamaku. Bocah kelas satu SD ini anak yang berprestasi, sangat cepat belajar dan mudah berkawan.

Siapa sangka, ia adalah anak mantan gizi buruk di TFC (Therapeutic Feeding Centre/Panti Rawat Gizi) Pohuwato, Gorontalo.

Kasih lahir prematur saat berusia tujuh bulan dalam kandungan. Ia lahir dengan berat badan kurang dan menderita infeksi kulit. Ibunya, Since Alhapsi, berusaha sekuat tenaga untuk merawat Kasih, tapi tanpa hasil.

Dalam hitungan hari, Kasih jatuh dalam kategori gizi buruk, sampai-sampai tulang belakangnya menonjol dan berbalut kulit tipis lemas. Kemudian ia dirujuk untuk mengikuti program di TFC.

TFC memang dirancang sebagai tindakan pertolongan pertama bagi penderita malnutrisi. Pada TFC doctorSHARE, balita malnutrisi mendapatkan perawatan makanan khusus dengan takaran bertahap tertentu. Tubuh mereka tidak serta merta mampu menerima makanan dalam jumlah banyak. Bila terdapat penyakit penyerta, tindakan pengobatan pun dikombinasikan.

Sembari melakukan pertolongan pertama di TFC, program jangka menengah dan jangka panjang pun dilakukan. Orang tua mendapat pendidikan tentang gizi, cara memadukan makanan lokal untuk memperoleh gizi cukup, dan dilibatkan dalam proses saling membantu keluarga lain.

Selepas dari TFC, dilakukan pemantauan ke rumah pasien untuk mencegahnya jatuh kembali dalam kategori gizi kurang/buruk. Kerjasama perlu dilakukan dengan komunitas-komunitas, seperti posyandu, komunitas adat, perkumpulan religius, kelompok anak muda, dan lain-lain untuk memberi pengetahuan tentang bahaya malnutrisi dan merangsang gerakan kembali ke makanan lokal.

doctorSHARE pun harus terus kreatif.  Kami tak henti belajar. Bertukar pengalaman dengan komunitas gizi dan TFC lain. Merancang acara-acara kreatif seperti lomba masak makanan lokal, reuni mantan pasien TFC, dan mencari role model yang bisa diberdayakan bagi komunitasnya.

Kini, Kasih dan ibunya menjadi model di TFC, membantu keluarga lain yang menderita malnutrisi. Saat saya mengunjungi mereka, Ibu dan anak ini sedang membantu keluarga Ibu Irma Moha. Ibu Irma masih sangat muda.

Usianya 20 tahun dan ia kewalahan dengan tiga orang anak. Kehamilan pertamanya dialami saat usia 16 tahun. Masih dengan dua balita yang perlu perhatian penuh, anak ketiga lahir tanpa rencana dengan berat badan kurang.

Ibu Since membantu Ibu Moha melewati masa-masa sulit ini. Berbekal pengalaman merawat Kasih, ia kini menyandang predikat juru masak resmi di TFC Pohuwato.

Ia membuat komposisi makanan bergizi bagi pasien bayi dan keluarganya, lalu ikut merawat bayi-bayi gizi kurang/buruk itu sampai pulih betul. Kasih pun ikut membantu ibunya menghibur adik bayi dan bermain bersama kakak pasien.

Kehadiran Kasih dan Ibu Since membawa harapan bagi Ibu Moha. Ia merasa didukung dan punya harapan bahwa bayinya akan bisa pulih kembali. Terlebih, melihat Kasih yang bertumbuh cerdas dan aktif, ada harapan masa emas bayinya masih bisa dipulihkan.

Tak hanya Ibu Moha yang terinspirasi. Seluruh komunitas di TFC pun terinspirasi. Perawat, dokter, dan ibu lainnya menjadi semangat melihat pulihnya bayi-bayi yang dirawat. Saya pun ikut terinspirasi. Anak-anak malnutrisi ini akan punya masa depan yang cerah.

Siapa tahu, Kasih akan menjadi guru, dokter, menteri, atau presiden sekalipun. Selama kita membantu memulihkan masa emas pertumbuhan mereka, rasanya tidak ada yang mustahil.

Advertisements

Susanty dan Lahirnya Sebuah Ide Gila

Standard

susantyLanggur, Maret 2009.

“dr. Lie tunggu!” Romo John Lefteuw berlari tergopoh-gopoh menyusul dr. Lie Dharmawan yang bersiap-siap menuju kamar ganti. Tanpa menunggu jawaban, ia berkata, “Ada seorang pasien lagi, Dok.”

Aku membaca raut keraguan bercampur letih di wajah dr. Lie. Baru saja sebuah operasi sulit diselesaikannya. Memotong kaki seorang penderita diabetes dengan alat-alat terbatas di RSUD Tual (kini RSUD Maluku Tenggara). Sebuah operasi besar yang bagiku penuh dengan adegan horor. Bila aku yang hanya merekam prosesnya saja capek luar biasa, bagaimana dia, yang melakukannya?

Aku mendengar mereka bernegosiasi apakah pasien dadakan ini bisa diundur esok hari. Romo John berkata lirih, “Ibu ini datang dari Saumlaki, dok. Sudah tiga hari dua malam naik kapal kecil untuk cari dokter…”

Read the rest of this entry

Melacak Anthony Von Lucky Dragon

Standard

A man may smile and bid you hail
Yet carry you on straight to hell
But when your dog wags his tiny tail
You know his love will keep you well

“Kak! Tonton hilang!!”

Semburan kepanikan bercampur tangis terdengar bersamaan kutekan tombol jawab pada handphone-ku. Beberapa detik hanya isak tangis yang kudengar, setelah itu telepon putus. Aku melajukan mobil ke komplek perumahan TNI-AU Halim Perdana Kusuma, tempat orang tua dan adikku, Cindy, tinggal.

Read the rest of this entry

Seribu Asa Menjadi Indonesia

Standard

Sepuluh Tahun Tragedi Mei 1998.

Sebuah potret ringan bagaimana pergulatan etnis Tionghoa masuk ke mainstream Indonesia. Ada yang membentuk organisasi formal dan melakukan berbagai macam kampanye lengkap dengan simbol-simbol etnisitas, ada pula yang melakukannya secara alami, jauh dari hingar bingar media massa.

Ribuan orang tampak memadati lapangan di halaman gedung olahraga. Tua, muda, bayi dan anak-anak berbaris rapi di depan sebuah meja. “Nama, Pak? Usia?” seorang remaja pria dengan kaus hijau mencatat data lelaki tua dihadapannya. “Silakan Bapak duduk dulu, nanti namanya dipanggil ya…” kata seorang remaja perempuan berkulit terang, sambil menuntun bapak tua tadi ke jajaran bangku plastik. Read the rest of this entry

Mau Mandi? Seceng dulu…

Standard

Kehidupan Tepi Sungai Jakarta

Tak terbayang rasanya mandi dengan air sungai Jakarta. Gatal, kotor dan bau seakan langsung terasa. Tapi banyak masyarakat masih melakukannya. Semata karena air bersih adalah sebuah kemewahan yang mahal harganya.

Tanpa alas kaki ia menuruni bantaran sungai berlapis semen kasar. Daster panjangnya berkibar-kibar ditiup angin. “Awas! Ada kotoran,” katanya sambil melangkahi seonggok (maaf) kotoran manusia di sana-sini. “Ya di sinilah kami mandi dan mencuci,” ia berkata sambil tersenyum. Tangannya menunjuk tempat dimana dua lelaki terlihat sedang mandi dan mencuci baju. Merasa diperbincangkan, mereka menoleh. Lalu dengan tak acuh kembali menggosok-gosok dan membilas badan. “Saya sudah dua puluh tahun tinggal di sini. Tiap hari ya mandi di sungai ini. Nggak ada masalah…” jelas perempuan paruh baya bernama Rumini itu.

Read the rest of this entry

Perempuan Peruntuh Stereotipe

Standard

Memperingati Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini, inilah sosok perempuan-perempuan yang berhasil meruntuhkan stereotipe. Mereka berhasil menembus tembok budaya atau humanitas obex yang selama ini mengesampingkan peran dan kemampuan kaum perempuan.

Beberapa diantaranya beretnis Tionghoa, yang tidak hanya menembus batas dirinya sebagai perempuan tapi juga meruntuhkan prasangka yang diemban etnisnya.

Mereka adalah para pelopor, penggerak, inisiator dan pengambil keputusan. Mereka berhasil melewati batas sebagai ’hanya perempuan’ menemukan potensi yang mereka punya dan menyumbangkannya bagi kebaikan banyak orang.

Selamat Hari Perempuan!

Read the rest of this entry

Warung Baca Lebak Wangi

Standard

Terobosan atas Mahalnya Akses Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Ia tersenyum lebar. Memperlihatkan sederetan gigi tak rata berwarna kusam. “Halo, apakabar?” sapanya renyah. Tangannya menjabat erat. Tebal dan kasar. Sekilas ia tampak biasa saja. Kulit sawo matang, wajah tipikal ibu-ibu desa yang sederhana. Tanpa bedak, tanpa sapuan gincu.

Hari itu ia mengenakan baju serba putih. Celana putih, kaus lengan panjang putih, jilbab putih. Membuat deretan tulisan merah di kausnya tampak mencolok: RED Card to Illiteracy .

Read the rest of this entry

Tangkahan, Saksi Pertobatan Para Illegal Logger

Standard

tangkahan1.jpgSeh Ukur Depari pernah dikenal sebagai penebang kayu ilegal. Ratusan ton batang kayu dari hutan Tangkahan-Sumatera Utara, rebah di tangannya. Tapi kini ia lebih dikenal sebagai aktivis Lembaga Pariwisata Tangkahan. Mewartakan pentingnya kelestarian hutan untuk mencegah pemanasan global, sekarang menjadi tujuan hidupnya.

Matahari senja hampir hilang dibalik pepohonan, ketika sekelompok manusia muncul bersama lima ekor gajah dari balik hutan. Mereka baru saja menyelesaikan perjalanan tiga jam melintasi hutan Tangkahan yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebuah suaka alam tropis terbesar dan terkaya di dunia yang dihuni 4000 spesies tumbuhan, mamalia, burung, ikan, amphibi hingga invertebrata, termasuk 15 jenis tanaman langka se­perti bunga Rafflesia. Read the rest of this entry