Category Archives: Perhimpunan INTI

Seribu Asa Menjadi Indonesia

Standard

Sepuluh Tahun Tragedi Mei 1998.

Sebuah potret ringan bagaimana pergulatan etnis Tionghoa masuk ke mainstream Indonesia. Ada yang membentuk organisasi formal dan melakukan berbagai macam kampanye lengkap dengan simbol-simbol etnisitas, ada pula yang melakukannya secara alami, jauh dari hingar bingar media massa.

Ribuan orang tampak memadati lapangan di halaman gedung olahraga. Tua, muda, bayi dan anak-anak berbaris rapi di depan sebuah meja. “Nama, Pak? Usia?” seorang remaja pria dengan kaus hijau mencatat data lelaki tua dihadapannya. “Silakan Bapak duduk dulu, nanti namanya dipanggil ya…” kata seorang remaja perempuan berkulit terang, sambil menuntun bapak tua tadi ke jajaran bangku plastik. Read the rest of this entry

Seuntai Senyum Baduy untuk PERMATA dan INTI

Standard

Jalan setapak 16 km nan terjal dan menanjak tidak menyurutkan langkah Hayuningtyas. “Bisa. Harus bisa!” katanya mantap walau kakinya gemetar saat menjejak di atas bebatuan. Gadis kelas tiga SMU ini tergabung dalam Tim Relawan PERMATA (Persatuan Masyarakat Indonesia Tionghoa Peduli Bencana). Bersama Tim Medis Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Kamis (12/7) lalu, mereka menjalani misi menuju Dusun Kadukohak, sebuah perkampungan Baduy yang dilanda kebakaran hebat dua minggu sebelumnya.

Read the rest of this entry

Baju Baru untuk Longginus Lawur

Standard

Seminggu sudah bocah usia 6 tahun yang akrab disapa Long itu tidur di tanah yang keras. Hanya berlapis koran dan selimut tipis. Udara 15 derajat celsius membuat tubuh mungilnya menggigil sesekali. Bajunya compang-camping, lusuh dan kotor. Ini baju terakhir yang ia punya. Semenjak banjir menghanyutkan rumahnya pekan lalu, praktis Long tidak punya apa-apa lagi. Baju, buku sekolah, rumah, semua hanyut bersama longsor yang menimpa desanya.

Read the rest of this entry

Jakarta, Jakarta, Riwayatmu Kini…

Standard

banjir.jpg

Air,
kenapa engkau berubah?
Dahulu kau lambang keadilan
Tanda kepedulian
Simbol keberpihakan
Bagi yang rendah dan ada di bawah…

Air,
dahulu kau patuh pada gravitasi
Mengalir menyusuri lembah
Menuju muara
Tak peduli harus jalan berliku
Membelai kotoran dan sampah berbau…

Air,
Dahulu kau tak betah berada di atas
Kau selalu gelisah mencari jalan turun ke bawah
Bahkan tak jarang kau langsung loncat begitu saja
Byurrr,
Dan tubuhmu keras memuncrat menghantam bebatuan

Ah ah air,
Rasanya kita belum berpisah lama
Tapi kurasakan sosokmu begitu berbeda
Sampai tak kukenali lagi sari wajahmu

Kau memang masih jadi simbol keberpihakan
Tapi bagi mereka yang mampu bayar
Kini kau bahkan berani melawan gravitasi
Berbelok sesuai pesanan
Naik merambat menuju tinggi
Dan enggan untuk turun kembali
Mencoba bertahan selama-lamanya
Seperti para petinggi yang duduk di kursi kuasa
Nyaman dan tertidur
Dibelai nyamannya harta dan kekuasaan.
(Budi S. Tanuwibowo)

Read the rest of this entry