Category Archives: Sosial Politics

Cerita Ciko di Bumi Cendrawasih

Standard

Seperti banyaknya kisah terabaikan tentang Indonesia Timur, kehidupan etnis Tionghoa di timur Indonesia pun jarang ditelusuri. Padahal, kehadiran dan interaksi etnis Tionghoa di wilayah ini sudah berlangsung sejak zaman perdagangan rempah-rempah. Sebuah penelitian dari negeri Paman Sam bahkan menyebut etnis Tionghoa di Papua cenderung berasimilasi jauh lebih baik dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Orang Papua akrab dengan istilah “perancis” yang merupakan akronim dari Peranakan Cina Serui. Mereka termasuk dalam keluarga besar “Papua putih” atau “Papua rambut lurus”, generasi blasteran unik yang mewarisi perpaduan ciri genetika ras mongoloid dan ras melanesia. Generasi perancis sendiri tak canggung menyebut diri mereka “Ciko”, kependekan dari “Cina Komin” atau Cina Papua. Keunikan para “perancis” ini ternyata tidak terbatas hanya pada penampilan fisik mereka saja, tapi juga pada akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya lokal Papua – sebuah kisah lain tentang kehidupan etnis Tionghoa yang tidak banyak terungkap.

Read the rest of this entry

Advertisements

Tradisi di antara Agama & Politik

Standard

Etnis Tionghoa di Papua sama heterogennya dengan suku-suku asli. Walaupun berasal dari daerah moyang yang sama, mereka tidak satu agama, satu tradisi, dan satu pendapat. Agama dan politik telah membedakannya.

Di antara rimbunnya rumpun bambu, Ricky The menyusuri bongkahan-bongkahan nisan yang berjajar. Wakil Ketua Perkumpulan Keluarga Besar Toroa (yang semuanya adalah peranakan Tionghoa-Papua) ini menunjuk sebuah nisan baru terbuat dari porselen merah. Tertulis nama “Tan Kai Tjok” di sana, moyang dari semua keluarga Toroa yang datang dari provinsi Fujian.

Read the rest of this entry

Kehidupan Perantau, Sukses Hasil Kerja Keras

Standard

Banyak Tionghoa Papua yang sukses secara ekonomi dan punya pengaruh. Diraih dengan tak mudah dan penuh kerja keras.

Empat buah sampan bergerak pelan di sebuah sungai yang besar. Tampak seorang meneer Belanda berdiri memegang teropong di sampan terdepan. Delapan orang mendayung di kiri-kanan sampan. Beberapa di antaranya memakai pakaian dayak. Sisanya berkepala botak berkuncir belakang.

Read the rest of this entry

Dari Gerakan Bawah Tanah sampai Zona Damai

Standard

Perjuangan integrasi Irian Barat ke pangkuan NKRI melibatkan organisasi dan para peranakan Tionghoa. Namun, tak semua sependapat tentang masalah gerakan pro-kemerdekaan.

Taman makam pahlawan Serui terletak di tengah kota. Dihiasi tugu bercat putih dengan lambang Garuda ¬Pancasila. Terbaring delapan jasad pahlawan yang berjasa dalam mengintegrasikan Irian Barat ke pangkuan NKRI: Silas Papare, Stefanus Rumbewas, Thung Tjing Ek, Dirk Ramandey, Salim Suneth, HW Antaribaba, Rafael Maselkosu dan George Henk Ayorbaba.

Read the rest of this entry

Seribu Asa Menjadi Indonesia

Standard

Sepuluh Tahun Tragedi Mei 1998.

Sebuah potret ringan bagaimana pergulatan etnis Tionghoa masuk ke mainstream Indonesia. Ada yang membentuk organisasi formal dan melakukan berbagai macam kampanye lengkap dengan simbol-simbol etnisitas, ada pula yang melakukannya secara alami, jauh dari hingar bingar media massa.

Ribuan orang tampak memadati lapangan di halaman gedung olahraga. Tua, muda, bayi dan anak-anak berbaris rapi di depan sebuah meja. “Nama, Pak? Usia?” seorang remaja pria dengan kaus hijau mencatat data lelaki tua dihadapannya. “Silakan Bapak duduk dulu, nanti namanya dipanggil ya…” kata seorang remaja perempuan berkulit terang, sambil menuntun bapak tua tadi ke jajaran bangku plastik. Read the rest of this entry

Quo Vadis Organisasi Tionghoa di Indonesia?

Standard

China is the hottest business and investment story on the planet! Demikian komentar majalah Time dalam sebuah artikel. Komentar yang tidak berlebihan. Menilik perkembangan terakhir, prestasi Tiongkok membawa pengaruh besar dalam tatanan ekonomi global. Wajar bila banyak negara berlomba menjalin kerja sama dengan RRT, tak terkecuali Indonesia.

Read the rest of this entry

Benang Kusut Masalah Kewarganegaraan

Standard

Apa yang membuat masalah kewarganegaraan penduduk keturunan asing di Indonesia demikian rumit?

Liong Solan duduk terpekur. Di hadapan wanita 58 tahun itu terserak fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan KTP WNI. “Ini sudah ditarik,” tuturnya. “Ka­tanya tidak sah.” Raut kebingungan tersirat jelas di wajah­­nya. Sebagai ibu rumah tangga tanpa mengecap bang­ku sekolah, Solan tak paham tentang kewarganegaraan, undang-undang, dan serangkaian peraturan yang me­nyertai­nya. Ia hanya tahu bahwa ia lahir dan menetap di Indonesia. Ia bingung mengapa sulit dan mahal mengurus dokumen sebagai WNI.

Read the rest of this entry